Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
85.Adnan dan Anton



Dua pasang mata saling mengunci.


sahabat lama yang terjerat cinta segitiga itu beradu tatap.


Ya... setelah terlelap sebentar bersama sang istri, Anton mendengar bel rumah berbunyi, membuatnya segera bergegas membuka pintu sebelum suara bel membangunkan istri tercintanya.


" Mana Hilya??".


" Tidur".


" Aku ingin menjemput Hilya!!" ucap Adnan menatap wajah sahabatnya.


" Istri ku sedang lelah, biasa!! seringkali pertengkaran membuat sepasang suami istri melampiaskan kekecewaan lewat bahasa tubuh."


" Apa maksudmu, kau tidak habis....."


" Tentu saja, istriku menyangka aku tidur dengan wanita lain, untuk menyakinkan bahwa aku belum menyentuh dan berjimak dengan wanita lain, aku membuktikannya dengan menggaulinya sampai dia kelelahan dan tertidur."


Raut wajah Adnan memerah , mendengar ucapan fulgar sahabatnya, amarah begitu menguasai dirinya. ingin rasanya Adnan membogem wajah Anton dengan brutal.


" Dia akan menikah dengan ku".


" Itu kalau aku mau melepaskan nya. Kalo tidak??" jawab Anton enteng.


" Kau??".


"Nan!!" Anton menatap wajah sahabatnya serius.


Mata Anton menatap teduh mata sahabatnya.


"Kamu tau ilmu agama, kau faham banyak hadits, kau mengerti hukum Islam, berhenti menjerumuskan dirimu dengan kebodohan, jika memang Hilya jodoh mu, apapun yang terjadi kalian tidak akan pernah berpisah."


"Sebagai seorang sahabat aku menasehati mu", "Sebagai sodara seiman aku mengingatkan".


"Nan!! yang Hilya lakukan semalam itu bukan kemauannya, sebenarnya Rena dan Ibunya ingin merusak rumah tangga ku dan Hilya.


Jadi begini ceritanya__________


" Kamu bohong!!". ucap Adnan dengan air mata yang mengenang dipelupuk matanya.


" Untuk apa??"


" Hilya sendiri yang mengatakan akan mengambil perlengkapan nya untuk tinggal bersama ku.


" Nyatanya Hilya tidak serius mengucapkan itu.. Adnan sadarlah belum terlambat! bimbing istrimu dengan ilmu dan pengetahuan mu, sifat istri cerminan suaminya, apapun dosa yang istri mu lakukan kau ikut menanggung dosa nya.." Anton menasehati Adnan dengan bahasa formal dan sopan.


" Aku mencintai Hilya".


" Kalo kamu mencintai Hilya harusnya kamu senang melihat Hilya bahagia, aku takut rasa cinta mu berubah menjadi sebuah obsesi."


" Apa Hilya mencinta mu??" ucap Adnan dengan air mata menetes.


" Aku yakin istriku mencintai aku sebagai suaminya.


Terlihat Adnan yang terisak ditempatnya.


" Ton apa kau tidak bohong mengenai kehamilan Hilya??" tanya Adnan dengar binar mata yang meredup.


" IYa Alhamdulillah..bantu doa yaa___ aku juga akan selalu mendoakan yang terbaik untuk keluarga mu nantinya."


Lagi air mata Adnan tak terbendung, Adnan mengangguk angguk kecil .. bibirnya tertutup rapat seolah menahan bibirnya agar tak bergetar.


.


.


.


Adnan berpamitan pulang, membawa sejuta luka, mendengar penjelasan Anton tentang ulah mertua dan Istri nya, membuat Adnan bertekad akan memulangkan mertuanya, Adnan akan tegas mendidik istri nya, tapi jikalau Rena bersikeras agar sang ibu tetap bersama mereka, Adnan akan memilih memberikan waktu untuk berfikir istrinya hingga sampai sang istri melahirkan, jika belum ada keputusan maka Adnan akan memilih menceraikan istrinya.


Sedangkan Anton menatap punggung sahabatnya itu dengan perasaan iba, jelas Anton tau cinta Adnan begitu besar untuk Hilya, tapi untuk saat ini Anton pun tak kan pernah melepaskan cintanya demi sahabatnya.


Perpisahan Hilya dan Adnan membawa berkah tersendiri untuk Anton, siapa sangka Lika liku kehidupannya yang menyakitkan kini berbuah begitu manis.


Mendapat wanita pujaan hati, tidak hanya raganya namun juga hatinya, Anton tak meragukan cinta Hilya untuk nya, binar mata Hilya begitu memancarkan cinta saat menatap nya.


Dalam hati Anton berdoa semoga Adnan dapat menemukan kebahagiaan nya.