Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
257.Sang waktu



Setelah hampir 5 hari saling disibukkan dengan kegiatan masing-masing, Adnan dan Hilya akhirnya dapat bersama di waktu holiday, di tengah-tengah mereka ada Khansa yang begitu manja dengan sang Ayah


" Yah, Bun!! Kapan-kapan Khansa mau ikut kerumah Nenek dan kakek!!"


Adnan yang tengah menikmati emping melinjo menoleh


" Anak Ayah mau kerumah kakek, nenek??" tanya Adnan memastikan


Khansa menganguk semangat


" He' em !!" jawab nya dengan wajah yang mengenaskan


Adnan terseyum


" Kapan-kapan kita atur waktu kesana ya Sayang!!" Adnan mengecup kepala putrinya


" Khansa udah ngantuk, Khansa tidur dulu ya Yah, Bun!!" pamit Khansa sebelum beranjak meninggalkan kedua orang tuanya


Sepeninggalan Khansa, Adnan mendekati sang istri


" Sayang sepertinya lusa mas akan ke Singapura untuk beberapa hari, mengantikan Papa yang tidak bisa menghadiri meeting disana!!" Adnan membuka percakapan


Hilya mengangguk


" Papa sudah ngomong kemarin, mas sudah Indentifikasi siapa saja yang hadir??"


Adnan menganguk


" Banyak rekan baru dari luar maupun dalam negri yang turut serta, mas sudah siapkan presentasi semenarik mungkin, semoga proyek kita berhasil ya Dek! mas udah baca dan pahami dokumen- dokumen yang dikirim Papa, mas rasa ini sudah waktunya mas meringankan beban Papa semoga kerjasama nya berjalan dengan baik!!"


Adnan ingin membawa serta Hilya, tapi sayangnya Hilya sendiri harus turun tangan memantau proyek ke Palembang, harus nya Hilya yang pergi ke kota Singapura, tapi Adnan mengambil alih, Adnan tidak mau sang istri yang berpergian ke luar negeri.


Adnan meraih tangan Hilya


" Jaga diri baik-baik, mas nitip putri mas ya Dek, doakan semoga semua lancar biar mas cepat pulang!!"


" Mas' juga jaga diri , ingat di sini ada kami yang menanti jangan genit-genit"


Adnan yang mendengar ucapan sang istri juga sedikit terkejut, tapi tak dipungkiri Adnan juga begitu senang


" Kenapa wajahnya begitu?? ada yang salah dengan ucapan ku?? " Hilya bertanya ketus


Adnan segera mengeleng " Mas hanya senang dengan petuah Adek agar mas ingat kalian!!"


***************


Hari berlalu begitu cepat, harus nya pagi ini Adnan sudah bersiap hendak pergi meninggalkan tanah air


Tetapi sayangnya, Pria yang berusia 39th itu saat ini tengah terduduk lemas di samping closed, sudah dua jam lamanya Adnan mual muntah, bahkan wajahnya seperti tak memiliki darah sangking pucat nya


Hilya sendiri sudah memeriksa kondisi sang suami, tetapi tak ada satupun yang kurang, Adnan sehat tak ada kelainan apapun.


" Mas!!" Hilya berlutut dihadapan Adnan, menuntun sang suami ke atas ranjang.


Baru saja berbaring sejenak, perut Adnan kembali ingin memuntahkan sesuatu.


" Tetap disini!!" Hilya mencegah Adnan yang hendak turun lagi


Tak ada bantahan, Adnan hanya terus bersuara hendak muntah


Hilya memberikan Kantong kresek hitam untuk sang suami


"Sebenarnya ada apa dengan mas Adnan ya Allah?? padahal semua normal, tapi mengapa Suami hamba tak berhenti muntah- muntah!!"


" Dek' minum!!" lirih Adnan


Hilya langsung meraih gelas dan membantu sang suami minum, usai minum Hilya menatap lekat wajah suaminya


Keringat dingin mengucur deras dari pelipis Adnan, napas Adnan tersendal-sendal, belum lagi wajahnya yang pucat membuat Hilya teringat mendiang suaminya, air mata Hilya luruh, dengan sepenuh hati Hilya merengkuh tubuh Adnan, menepis rasa gengsi dihatinya, Hilya takut Adnan kenapa-kenapa, Hilya takut kehilangan Adnan.


Tanpa Hilya sadari, di dalam pelukanya, Adnan tak lagi mengeluarkan suara seperti akan muntah, bahkan napas Adnan teratur, begitu juga tubuh Adnan tak sedingin tadi, Hilya melerai dekapannya, dilihatnya wajah pucat suaminya yang ternyata Adnan tidur di pelukannya.