
" Aku tidak mampu menjadi suami yang bertanggung jawab untuk mu!!"
" Untuk saat ini aku hanya mempermasalahkan status kita, untuk masalah tanggungjawab itu bisa kita diskusikan nanti."
" Aku bukan pria buta agama, kalau aku sudah mau menikahi seseorang aku akan berusaha untuk tangung jawab, lahir dan batin. pernikahan bukan mainan."
" Aku tau!!".
" Jika kamu meminta aku untuk menikahi mu kamu tau konsekuensinya. aku pria buta yang tak memiliki pekerjaan, meski aku masih memiliki tabungan, tapi itu tidak seberapa."
" Aku tidak masalah"
Anton menghela nafasnya. " Aku tidak tau bagaimana bentuk fisik mu, akupun tidak mempermasalahkan nya, hanya aku berharap aku bukanlah pria yang kau jadikan tumbal kehamilan mu. aku setuju menikah dengan mu, karena aku butuh mata untuk menuntunku terus melangkah.
Hilya terseyum. Hilya memang belum mencintai Anton, tapi setelah menikah nanti Hilya akan mencoba untuk mencintai suaminya.
" Tapi kamu harus tau, saat kau telah sah menjadi istri ku, mau tidak mau kau akan hidup bersamaku sampai akhir, aku tidak berharap adanya perceraian, maka sebelum kau menganggap aku sebagai pelarian pikirkanlah masak-masak. apa yang sudah menjadi milikku tak mudah untuk ku lepaskan."
Hilya tak menanggapi ucapan Anton, Hilya meraih tangan Anton dan menuntun tanganya ke wajahnya " Lihatlah aku saat ini, pastikan kau mengingat wajahku jadi nantinya kau tak akan keliru mengenali istri mu."
Anton terkejut dengan perilaku Hilya. " Aku bisa melakukannya nanti saat kita telah sah menjadi suami istri tidak baik pria menyentuh wanita yang belum muhrim untuk nya." meski berucap begitu, tapi tangan Anton tetap bertengger di wajah Hilya.
Tangan Anton perlahan bergerak mengelus bergantian alis tebal Hilya, ucapanya mendustai perbuatannya. kini justru tangan satunya ikut terangkat meraba wajah Hilya.
Tangan Anton bergerak menyusuri wajah mulus tanpa cela milik Hilya, dari mata hidung dan berakhir pada bibir seksi Hilya. Anton menghentikan dua jempolnya pada bibir Hilya.
" Apa tuan sedang menggombal ??"
" CK" Anton menurunkan kedua tangannya dari wajah Hilya. "kau yang memintaku untuk menikahimu. kau juga yang memintaku untuk menilai wajahmu."
" Aku memintamu melihat, bukan menilai."
" CK, itu sama saja."
" Baiklah, terserah padamu'. jadi kapan kita rencana menikah .??".
"Aku terserah padamu' hanya aku berharap keluarga mu tak keberatan akan kondisi fisik ku ini".
" Mereka tidak keberatan, hanya saja mereka sedang ada perjalanan bisnis, tapi tenang saja , ada pamanku yang menjadi wali kita.
" Baiklah, aku tak bisa menolak mu, karena kamu telah banyak menolong ku, anggap saja ini sebagai rasa terimakasih ku!!".
" Baiklah"
Anton tidak melanjutkan makannya. ucapan Anton membuat Hilya terkejut. " boleh aku meraba perut mu?? aku masih menaruh curiga padamu, menurut penilaian ku kau wanita yang cukup cantik, lantas alasan apa yang membuatmu mau menikahi pria buta seperti ku kalau bukan hanya untuk pelarian."
Jantung Hilya berdedub kencang, bukan karena takut, tapi Hilya gerogi, seorang pria ingin meraba perut nya, meski Hilya cukup mengenal Anton, tapi selama ini Hilya tak pernah berdekatan secara fisik dengan Anton, bahkan jabat tangan saja tak pernah. namun Hilya tidak mampu menolak permintaan Anton mengingat Anton begitu mencurigainya, Hilya ingin mematahkan anggapan Anton bahwa dia hanya sebagai pelarian.