Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
113.Kedatangan Paman



Untuk pertama kalinya Hilya menginjakkan kakinya melangkah menuju ruangan sang suami berada


Entah ada masalah apa lagi dengan suaminya itu, sehingga Anton lebih senang menghabiskan waktunya di kantor


Meskipun Anton tak pernah absen melakukan pangilan pada Hilya, namun tetap saja Hilya merasa ada sesuatu yang tidak beres


Semakin dekat dengan ruangan suaminya, Hilya samar-samar mendengar suara seseorang yang sedang berbincang di ruangan Anton


" Tolong lah!! Hanya kamu yang bisa membantu mereka Ton!!" terdengar suara mengiba dari seseorang


" Maaf Paman, aku sedang banyak kerjaan, bisa Paman berhenti menerorku seperti ini??" aku sudah tidak ada sangkut pautnya dengan Pak Tua itu"


" Dia tetaplah Abah mu, dulu sampai detik ini, kasian sodari-sodari mu Ton!!" Paman mohon!!


" Maaf Paman, Anak yang telah di buang, meski di pungut kembali pasti tidak akan sama penilaian nya, seperti sebelumnya"


" Tapi mereka sodari mu Ton!!"


" I do not care!!"


" Zizi sedang mengandung Ton, kasihanilah mereka, dia diceraikan suaminya dan tidak meninggalkan sepeserpun uang untuk Nya."


" Tolong Paman.... Pergilah !! aku bukan sodara kandungnya, kehancuran keluarga mereka mungkin imbas atau karma masa lalu yang mereka tuai sekarang , kalaupun Anda memiliki belas kasihan kenapa tidak anda sendiri saja yang merawat mereka??"


" Bibi mu tidak setuju!!"


" Maaf Paman, Aku tidak bisa membantu, saat ini aku sendiri sedang sibuk, istri kupun sedang mengandung dan belum lagi persiapan Adik ku yang akan menikah, mereka bukan tanggung jawabku, pergilah Paman!!"


" Kamu berubah menjadi sombong sekarang Ton!!mana Anton yang paman kenal berhati lembut haaa??".


" Kaca yang pernah hancur berkeping-keping meski telah di perbaiki sebaik mungkin, tak kan pernah kembali seperti semula Paman, begitu pula hatiku, luka yang Abah torehkan belumlah sembuh Paman"


" Baik'lah, setidaknya cobalah berdamai dengan hatimu dulu Ton!!, seburuk apapun Abah mu tidak ada cerita bekas Bapak, Beliau tetap Abah mu nak!! persempitlah Ego mu, tolong temuilah Abah mu Dia begitu mengharapkan kehadiran kalian, Paman telah mengiba pada Umi mu, namun kalian begitu keras kepala, kalian terlalu terpaku dengan masa lalu."


" Jangan usik lagi kehidupan Kami Paman, Umi sudah berbesar hati merelakan suaminya untuk Wanita Pelakor itu, kini saat Umi mampu berdiri kokoh hingga belasan tahun, paman mencoba mengusiknya?? tidak kah paman punya hati??"


" Paman hanya melakukan tugas Paman sebagai sodara Abah mu Ton, untuk sekarang ini hanya dirimulah yang paman harapkan......


Ucapan paman Anton terhenti saat ketukan pintu dan suara dalam Hilya terdengar, Hilya sudah tidak sabar melihat Anton dan Pamanya yang sedang berdebat.


Hilya: Assalamualaikum...


" Waalaikumsalam warahmatullahi wa barakatuh" jawab Anton dan Pamanya serentak


Paman Anton melirik Anton seolah bertanya siapa??


Anton: Hilya ini istri aku Paman." seolah Anton memahami maksud Paman nya


Hilya maju mendekati Paman Anton, menangkupkan kedua tangannya di depan dada, senyum manis tersungging di bibirnya


Paman: Ton!! bukanya istrimu adalah Dania??"


Anton terseyum lembut. " kami sudah lama berpisah Paman, itulah manusia ketika kita tidak sedang memiliki perlu dekat pun jarang orang sekedar bersirahturahmi, namun saat kita perlu di ujung dunia pun pasti dicari." ucap Anton sedikit menyindir Paman nya


Paman: Maaf kan paman mu yang sudah tua ini Ton, paman kira kehidupan kalian baik-baik saja selama ini!!" ucap paman Anton penuh penyesalan.


Anton: Bahkan setelah Abah menikahi wanita Pelakor itu, demi menghemat pengeluaran kami rela puasa Senin dan Kamis sedang hari lainya kami hanya makan sekali dalam sehari pun paman tidak akan pernah tahu!!" ucap Anton sedih.


Tampak wajah tua itu terkejut. "Tapi bukankah Abah mu membagi harta Gono gini nya??"


Anton: Tidak ada kebencian tanpa sebab Paman!!Abah memang banyak pemahaman Agama nya, namun jika tidak di terapkan untuk apa?? Abah benar-benar menolong seorang janda dan menjandakan Umi, bahkan tanpa tahu dirinya mereka menguasai rumah kami, seandainya paman di posisi saya apa paman akan sudi memungut kembali mereka yang saat itu dipungut justru membuat kehancuran keluarga kami??"


Tampak paman Anton tergugu di tempatnya, tidak pernah terpikir olehnya, Kaka kandungnya begitu tega dengan keluarganya nya sendiri, malu hatinya mendengar ucapan ponakannya sendiri tentang kelakuan kakak laki-laki nya yang tak lain adalah Abah Anton, tau begitu dulu dia akan dengan senang hati mengayomi Kaka iparnya dan kedua ponakannya itu.