
Sedangkan dirumah Anton dan Hilya saat ini sedang ada dua tamu tak di undang.
Mereka adalah Dania dan suaminya, mengantar foto-foto dan rekaman cctv, Hilya melihat wajah perempuan itu tidak begitu asing, namun Hilya masih tidak dapat memastikan siapa sebenarnya wanita itu.
Saat sebuah amplop berwarna coklat itu Hilya buka, mengerti lah siapa sebenarnya wanita itu, wanita itu adalah mantan istri suaminya, wanita itu pernah menjadi asisten Anton saat dulu masih berstatus sebagai istri salah satu staf rumah sakit.
" Tolong katakan pada suami anda, berhenti menganggu dan menemui istri saya!!" suara mengelegar itu memenuhi ruangan.
Hilya melirik ke arah Dania, wajah wanita itu penuh luka, tanpa menunggu lama, Hilya meminta kedua tamunya untuk segera pulang, Hilya beralasan bahwa perutnya nyeri dan kram.
Mengetahui kondisi Hilya yang sedang mengandung, dan mengeluh sakit perut baik Dania dan suaminya ikut khawatir, takut-takut sakitnya perut istri Anton karena ulah mereka, dengan terburu-buru mereka bergegas pulang.
Dedangkan Hilya sendiri langsung berjalan menuju kamarnya bersama Anton.
Hilya mengambil ponselnya, mencari kontak sang suami dan melakukan panggilan video call, bukan karena marah dengan bukti foto itu, Hilya hanya khawatir dengan keadaan suaminya.
Hilya ingin memastikan dimana suaminya berada.
Tak butuh waktu lama wajah bonyok suaminya terlihat dalam layar, sepertinya Anton lupa dengan kondisinya hingga tak menyembunyikan wajahnya, melihat keadaan suaminya Hilya berbohong kalau dirinya sedang sakit perut dan sedang sendirian.
Hilya berharap agar sang suami segera pulang, waktu sudah kian larut hujan pun mulai jatuh dari langit, Hilya tau seperti nya Anton sedang bingung dan kalut
Hilya berfikir mungkin yang membuat Anton babak belur adalah pria yang barusan datang menemuinya.
Sambil menunggu Anton datang Hilya menyiapkan air hangat dan kotak obat untuk suaminya.
Kedapur membuatkan kopi capuccino panas untuk Anton , sesekali memerhatikan setiap lembaran foto suaminya yang sedang berdua dengan mantan istrinya.
Wajah Hilya tak terbaca, setelah selesai dengan segala sesuatu untuk sang suami, Hilya berjalan kembali ke kamarnya dan mengambil sebuah koper besar yang tersimpan di samping tempat tidur.
Usai mengemas barang Hilya menghubungi seseorang, pembicaraan panjang itu berhenti setelah suara deru mobil Anton terdengar.
Hilya berjalan pelan menuju pintu rumah, dilihat nya Anton yang begitu tergesa-gesa menghampiri tubuh nya.
" Mana yang sakit yaaaaaaaaang??" atas bawah??" tanya Anton ngos-ngosan.
" Assalamualaikum mas!!"
" Astagfirullah!!.. waalaikumsalam warahmatullahi wa barakatuh!!" maaf yang!!" mas panik.
" Mana yang sakit yang??"
" Udah enakan!!" mas masuk yuk!!".
Anton memandang lekat wanita cantik dihadapannya, senyum tulus masih menyambutnya, berarti Hilya masih belum mengetahuinya.
Mungkin suami Dania tidak menemukan alamat tempat tinggal mereka.
Sedetik kemudian Anton melotot, menyadari bahwa saat ini wajahnya sedang bonyok karena ulah dari suami Dania.
Kenapa Hilya tidak menanyakan nya, astagaaa, bodoh, bodoh, bodoh..Anton mengumpati dirinya sendiri.
Tadi pasti istri nya pun tau saat mereka sedang video call, pasti ini alasan sang istri agar dirinya pulang.
Mati aku. batin Anton.
" Maas !! kok masih disitu, udah aku siapkan air hangat mas!! cepat mandi baru aku obatin luka mas Anton, cepetan gak pake lama, keburu dingin nanti airnya."