Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
162.Rindu berat



" Jangan dilanjutkan sayang!! Aku takut tak mampu mengendalikan diriku!! tidurlah , besok aku akan membawamu belanja persiapan pernikahan kita oke.. !!" terlihat Dini hanya mengangguk di dekapan Zahfran


"Din!!" tangan dingin Zahfran melerai dekapan mereka


" Apa kamu percaya jika aku mengatakan ini adalah ciuman pertama ku ??" Dini bertanya malu-malu


Zahfran tergelak menatap wajah Dini yang menahan malu


" Zahfran ish!!" raut wajah Dini berubah kesal karena Zahfran menertawakan dirinya


Zahfran kembali menangkup pipi Dini dengan kedua telapak tangannya


" Percaya!!!! aku sangat percaya!! orang yang pernah berciuman itu saat mengecup beberapa saat pasti bergerak, tidak seperti kamu yang setelah mengecup diem kayak kedebok pisang!!"


"Zahfraaaaan!!" Dini mencubit dada Zahfran membuat Zahfran kembali tertawa renyah.


" Tidur lah!!" Zahfran mengelus sayang pipi Dini


" Aku baru sadar ternyata kamu cukup tinggi dari usia ABG !!" Dini berkata seperti baru menyadari bahwa dirinya jauh lebih pendek dari calon suaminya


" Aku juga baru sadar kalo calon istriku tidak tumbuh sempurna." balas Zahfran merasa tak suka saat dirinya disebut ABG.


" Ih Zahfran,!!" protes Dini.


" Aku tidak suka kamu menyebutku ABG Din!! aku akan menjadi suamimu, berarti aku bukan lagi ABG seperti ucapan mu!!"


" Maaf!!" Dini merasa bersalah


" Jangan di ulangi!!"


" Janji!!" ucap Dini dengan mengangkat jarinya membentuk huruf V


Zahfran tersenyum


" Kata orang perdebatan kecil sebelum pernikahan itu sebuah kewajaran, mungkin ini awal yang baik untuk kita nantinya" ucap Zahfran tak tega melihat calon istrinya merasa bersalah, kembali direngkuhnya tubuh Dini.


" Harus kamu tau, banyak yang ku lakukan untuk aku terlihat layak menjadi imam untukmu!!, aku tidak akan pernah menyesali nya, karena aku merasa kaulah satu-satunya wanita yang bisa menerima segudang kekurangan ku!!" bisik Zahfran, yang membuat senyum Dini kembali terbit.


Zahfran menarik lembut tangan Dini dan mengantar kan di dipan kamar yang di tempati Zi.


Di kamar Hilya dan Anton


Hilya sedang melepas hijab nya, sedangkan Anton sibuk dengan ponsel yang berada di genggaman tangannya


Setelah melepas hijab nya Hilya Menganti bajunya dan merayap menyusul Anton di atas kasur mereka.


Anton meletakkan ponselnya di nakas, saat Hilya berbaring di sampingnya.


Hilya pura-pura menutup matanya, Anton mengelus lengan Hilya yang terbuka. " sayang!! apa terlalu lelah??" tanya Anton dengan suara dalam


Hidung mancung Anton mencium dada Hilya yang masih tertutup baju lengkap


" Jangan menyiksaku Yang!! ini terlalu sakit!!" lagi Anton berbisik memohon pada Hilya, tak ada pergerakan dari Hilya, membuat Anton meringis pedih.


" Sayang capak kah??"


Hening


Anton bangkit dari pembaringan, wajah tampannya terlihat frustasi, tangan besarnya menangkup wajahnya


Inilah yang di sukai Hilya, Anton tak pernah memaksa saat ingin berjimak dengan nya, Anton akan berbesar hati membiarkan istrinya tidur jika Hilya memang lelah, meski sebenarnya tak pernah benar terjadi seperti itu, biar bagaimanapun Hilya tau Melayani Suami adalah kewajiban mutlak


Anton akan berlalu masuk kekamar mandi, sebelum suara Hilya menghentikannya.


" Mas Anton payah!! masak gitu ajah menyerah!!" Suara itu membuat Anton langsung menoleh, tanpa menunggu lama tubuh jangkung itu langsung membanting tubuhnya di samping sang istri.


" Yang kamu bikin aku hampir gila!!kamu gak tau rasanya kalau kita ini kaum pria saat sedang ing...... Ocean Anton tak terselesaikan saat Hilya langsung mencium bibirnya, Anton terseyum dalam ciuman mereka lidahnya mulai memainkan peranannya, tangan kirinya menahan tengkuk sang istri untuk memperdalam ciuman mereka.


Tangan kanannya tak tinggal diam, kini tali gaun malam itu telah melorot menampakkan bahu mulus Hilya


Ciuman Anton makin turun dan kian turun, memangut sesuatu yang begitu indah dan berisi.


" Aku iri dengan Khansa, setiap hari dia bisa menikmati ini!!" racau Anton yang membuat Hilya tertawa, sempat sempatnya suaminya itu merasa iri dengan putrinya sendiri.


Hingga malam itu menjadi malam terpanjang setelah hampir lima bulan terasa sunyi tanpa erangan kenikmatan dari pasangan Anton dan Hilya.


Anton mencium lembut bibir istri nya saat Hilya terlelap setelah beberapa kali penyatuan mereka senyum tipis menghiasi bibir pria yang sudah tersalurkan hasratnya itu, Anton melirik jam dinding pukul 3 dini hari, awal yang bagus!! dalam hatinya bersenandung ria, sebelum akhirnya ikut terlelap menyusul istri nya