Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
125.Anton



Anton langsung masuk kedalam rumahnya dengan langkah lebar, tujuanya adalah kamarnya bersama Hilya


Antok tidak mendapati sosok istrinya, Anton mengaktifkan ponselnya, semenjak menaiki pesawat tadi Anton mematikan ponselnya dan belum sempat mengaktifkan ponselnya kembali.


Anton melihat 42 pangilan masuk dari sang Istri , dan sebuah pesan masuk istrinya yang akan izin pergi ke villa untuk membesuk Abah dan kedua sodarinya.


Anton POV


Sepanjang perjalanan pulang aku begitu gelisah, pemikiran ku selalu tertuju pada istriku Hilya, aku percaya rasa khawatir berlebihan membuat kita tidak dapat berfikir jernih


Kenapa tidak sedari tadi aku mengaktifkan ponsel ku??


Perasaan ku tambah gelisah saat aku tidak menemukan istriku dirumah, entah mengapa perasaan ku jauh lebih khawatir, apalagi saat aku menghubungi Istri ku, ponselnya berada didalam tas yang tergeletak didepan pintu.


Aku yakin istriku tidak berada di villa untuk saat ini, istriku bukan wanita teledor yang begitu saja pergi tanpa mengunci pintu dan bahkan meninggalkan tas dan ponselnya.


Aku berlari kedalam kamar ku lagi, ada yang tidak beres disini, bahkan fikiranku tertuju pada ceceran darah yang terdapat di halaman rumah


Kuambil laptop istriku, kulihat layar Cctv dari dua hari kepergian ku, tidak ada yang mencurigakan.


Hingga ku percepat rekaman itu di hari ini, kulihat istriku mengengam ponselnya, mencoba menghubungi seseorang yang aku sudah dapat menebaknya diriku lah yang hendak Ia hubungi.


Sedikit kupercepat saat Hilya memasukan ponselnya kedalam tas yang saat ini ku genggam, terlihat istriku membuka kunci pintu.


Ku alihkan gambar yang menunjukkan bagian teras rumahku, hati ku mencolos saat aku melihat seorang pria mendorong istriku. Demi Allah Istriku sedang hamil sebesar itu, belum redam amarahku , emosiku memuncak saat istri ku ditampar dengan begitu kerasnya.


Nafasku memburu, ku kepal kuat-kuat telapak tanganku saat aku mengetahui siapa orang yang dengan tega menampar pipi istriku.


Mataku awas melihat segala kekejaman wanita berhati iblis itu, hingga akhirnya mataku terpejam kuat, benar darah yang berada di halaman rumahku adalah darah istriku, teganya mereka menghantam kepala seorang yang tengah mengandung, hingga darah itu mengalir.. Allah... aku tidak sanggup melihat penderitaan istriku


Aku bergegas, mengumpulkan bukti-bukti ini , akan aku serahkan ke pihak yang berwajib, merek terlalu kejam untuk ku lawan sendiri.


Hati dan fikiranku benar-benar ingin segera menemukan istriku.


Ya Allah, mohon lindungi anak dan istriku, engkau maha pelindung, berikanlah kami kekuatan untuk menghadapi ujian ini.


Langkahku cepat menuju mobil, ku bawa ragaku yang sedang gelisah ini kekantor polisi, sesampainya di kantor polisi, tanpa menunggu 24jam karena bukti penganiayaan yang begitu nyata kepolisian langsung bertindak.


Sedangkan aku kembali memacu mobilku ke arah villa, tujuanku adalah mendatangi Abah ku, orang yang memiliki hubungan dengan wanita gila dan ambisius itu.


Bayangan penyiksaan itu, tak dapat hilang di pelupuk mataku, hati ku sesak, Dimana kini istriku?? kenapa ada wanita yang begitu kejam??"


Allah.... seandainya aku bisa mengantikan posisi Hilya saat ini, air mata ini tak berhenti mengalir sampai aku tiba di villa di mana Abah ku tinggal.


Mataku melihat Zizi dengan perut buncitnya sedang menyapu kembali membuat air mataku berlinang, lagi-lagi bayangan istriku diseret, di hantam memenuhi ingatanku..


Aaaaaaaaaaaaa..... aku tak dapat lagi mengontrol rasa sesak dihatiku.


Aku melihat Zi tergopoh-gopoh menghampiri tubuh ku, begitu juga Abah yang di dorong oleh suster menuju kearah aku berada.


Melihat Zi, aku seperti melihat sosok biadap yang menyiksa Hilya.


Ku pukul- pukul dadaku berharap rasa sesak ini hilang, dulu jauh dari Abah hidupku tentram dan damai kini saat aku baru saja dekat, kenapa kehancuran itu menyapa??