Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
42.Permintaan kakek 2



"Kakek tinggal bersama kami saja" ucap Hilya saat malam hari mereka berkumpul di meja makan.


Kakek Adnan menggeleng. "kakek harus kembali ke Balikpapan. disana rumah impian Kakek. kalian saja yang sering-sering kunjungi kakek di Kalimantan nanti." ucap pria tua itu menatap 3 orang secara bergantian.(Adnan, Hilya, Rena).


Hilya hanya tersenyum." Ren!!. ambilkan mas Adnan makananya, sekarang itu menjadi tugasmu, biar aku layani kakek!" ucapan Hilya mengundang perhatian mereka.


" Eh, maksudnya sekarang kamu juga istri mas Adnan, kamu harus mulai belajar mengurus suami, REN!! maaf bukanya saya mau menggurui kamu."


"Ren, kita para istri mencari ridho Allah sangatlah mudah, melayani suami , mengabdi dan mematuhi pada hal yang baik itu sudah menjadi ladang pahala kita. iya kan kek??" tanya Hilya lembut.


Entah hanya perasaan Adnan ataupun memang ada yang Hilya sembunyikan. Adnan merasa Hilya akan meninggalkan nya.


Begitu juga kakek Adnan. beliau memandang lekat Hilya dengan ekspresi tak terbaca.


Sedangkan Rena yang merasa dekat dengan Hilya mengangguk antusias saja. toh Hilya menasehati dengan cara baik dan lembut . apa masalahnya??


Hilya: besok tak ajarin cara menata baju mas Adnan dan cara menyetrika nya. oke??"


"Iya mba!!" ucap Rena tak bersemangat. " mba kenapa tidak langsung cari pembantu aja sih ??kan mba kaya??".


Hilya terseyum. " sebenarnya saya gak suka mempekerjakan orang lain. terlebih saya jarang dirumah," Hilya terseyum kecut. " jujur saya khawatir dengan mas Adnan saat saya bekerja sedang mas Adnan berada dirumah dengan wanita yang bukan muhrimnya. bukan apa. saya hanya menghindari fitnah. tapi selain itu saya masih mampu mengerjakan segala keperluan rumah sendiri REN."


Kakek Adnan menghela nafasnya dalam. "apa kamu menginginkan pembantu dirumahmu bersama Adnan nantinya??".


" Kalo mas Adnan izinin sich aku mau kek!!"


.


.


.


Setelah mereka semua selesai makan malam, semua kembali kekamar masing-masing. Hilya yang baru selesai mencuci piring, kaget saat pria berkaki tiga itu muncul dari pintu dapur.


berkaki tiga karena tambahan tongkat.


"Kek?? apa kakek membutuhkan sesuatu??"


Hilya berjalan mendekati tubuh tua itu.


"Ada apa kek??"


"Bisa aku meminta sesuatu pada mu nak?? kakek janji ini permintaan terakhir kakek pada mu."


Hilya diam. mendengar permintaan kakek Adnan mengingatkanya pada permintaan konyol pria tua itu beberapa bulan yang lalu, bahkan belum genap satu tahun.


" Nak??".


Hilya tersadar. " eh' maaf kek Hilya tidak bisa janji.


Kakek Adnan memandang wajah cucu menantunya dengan pandangan kecewa.


T"olong jangan pernah pergi dari hidup Adnan nak, kakek tau kau sangat mencintai suamimu. anggaplah Rena seperti adikmu sendiri, belajarlah menerima takdir. kakek mendoakan kebahagiaan kalian."


cih apa katanya?? menganggap madunya menjadi adik??.dan apa, belajar menerima takdir?? ini semua tidak akan terjadi karena keegoisan mu pak tua


"Maaf kek, saya tidak bisa janji. seperti waktu itu kakek yang memberi syarat pada saya bahwa kakek tidak akan memaksa mas Adnan menikah lagi jika saya hamil dalam waktu yang kakek tentukan. saya juga memiliki janji pada kedua orang tua saya agar mereka mengizinkan mas Adnan memadu saya." ucap Hilya sopan tapi tegas.


Kakek Adnan terpaku mendengar ucapan cucu menantunya.


"Apa kau menjanjikan kesepakatan pada mereka untuk mereka mengizinkan Adnan menikahi Rena??" tanya kakek Adnan dengan suara yang seperti tenggelam.


Hilya mengangguk. "saya kenal Papa saya kek! Papa tidak akan membiarkan mas Adnan begitu saja saat tau bahwa anak perempuan semata wayangnya tersakiti. itu sebabnya saya menyetujui kesepakatan mereka."


"Apa, kesepakatan seperti apa yang orang tuamu inginkan??".


"Maaf kek, untuk itu saya tidak bisa memberitahukan pada kakek, bila saatnya tiba saya akan mengatakan pada kalian semua." ucap Hilya sopan.


Hilya berdiri. "ah sepertinya malam sudah semakin larut, kakek harus segera beristirahat, saya juga harus menemui mas Adnan. apa kakek ingin dibuatkan sesuatu??".


Lihatlah meski terluka, Hilya masih memberikan rasa hormatnya pada pria tua itu.


sedangkan kakek Adnan hanya menggeleng dan berjalan masuk ke kamarnya .


Hilya menghela nafasnya dalam, sebelum berbalik juga menuju kamarnya bersama Adnan.