Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
53.Benar-benar melupakan nya



"Ton aku boleh bicara..?? Ton, sebenarnya aku ini sahabat kesayangan mu, kita udah bertahun-tahun menjadi seorang sahabat. hanya saja aku tak mengetahui apapun tentang keluarga mu."


"Bukan karena apa, tapi kamu begitu tertutup tentang keluarga mu. tapi yang aku tau kamu selalu ada untuk kami."


" Ton, bolehkah aku membantu mu?? kamu ikut dengan ku ya!! kita cari tempat tinggal yang nyaman. setidaknya dekat dengan rumah sakit. kita bisa cari kontrakan dua pintu tapi yang berdampingan. izinkan aku merawat sahabat ku ya??".


Anton terdiam. " apa sungguh aku dulu dekat dengan mu??".


" Untuk apa aku berbohong Ton? malam ini biar aku bermalam disini, besok pagi aku harus dinas sebentar, setelah nya aku akan cari perawat pria untuk mu, jadi kau tak perlu khawatir."


" Aku tidak butuh bantuan mu."


" Aku akan tetap melakukan nya. Ton setidaknya lakukan ini demi Umi yang katanya kau sayangi. dan demi aku wanita yang dulu pernah kau sayangi."


Anton bergeming di tempatnya. "apa aku bisa mempercayai mu??".


" Tentu" ucap Hilya dengan tangan membantu Anton meminum obatnya.


Banyak hal yang di fikirkan Hilya, tentang perceraian nya dengan Adnan tentang kepindahan tugas tentang Anton dan status mereka.


Hilya menemukan surat perceraian Anton dan istinya yang tercatat baru dua bulan yang lalu mereka berpisah, Hilya juga menemukan segala foto CT scan dan pemeriksaan tentang kesehatan Anton.


Kenapa begitu rumit rumah tangga mereka bisa retak di waktu yang hampir berdekatan.


.


.


.


Anton telah tidur setelah mereka sholat isya. Hilya kagum dengan suara Anton saat membaca surah Al Baqarah beberapa ayat saat menjadi imam sholat untuk nya.


.


.


.


.


Pagi harinya Hilya memutuskan untuk pulang kerumah Adnan, niat hati Hilya ingin mencari tau tentang keluarga Anton.


Tapi betapa sesak nya hati Hilya saat melihat sang suami dan sang istri sedang bercumbu mesra di dalam kamarnya dulu.


Berawal dari salam dan ketukan pintu nya tak dapat sambutan, sedang pintu rumah sedikit terbuka, itu membuat Hilya berani memasuki rumahnya dengan Adnan. namun justru pemandangan menyayat hati yang Hilya lihat.


Hilya mencoba tersenyum. dan mundur beberapa langkah. air mata nya mengalir, kenyataannya hanya Hilya yang terluka Adnan mah tidak.


Untuk apa Adnan terluka, sedang istri mudanya kini telah mengandung, kepergian Hilya sepertinya bukan suatu masalah untuk dirinya.


Hilya berlari menjauh dari rumahnya.


tak perduli air matanya yang meleleh, Hilya rasanya ingin menghilang saja saat ini. tidak taukah Adnan bagaimana sakitnya saat Hilya saat memilih pergi dari hidup nya, tidak taukah Adnan sakit nya menanggung rindu, tidak tau kah Adnan rasanya saat cinta namun harus pergi...


Mungkin memang benar, bahwa sebenarnya Hilya yang terlalu cinta pada sang suami, Hilya tersenyum getir mengingat perjuangannya dulu mendapatkan seorang Adnan.


Hilya selalu menutup mata dan hatinya bagi pria yang mendekati nya, karena opsesi nya adalah seorang Adnan ustadz tampan yang telah mencuri hatinya.


Namun lihatlah saat ini, baru saja Hilya pergi meninggalkan Adnan, namun sepertinya Adnan tak seterluka dirinya, bahkan kamar pribadinya saja kini telah mereka tempati berdua, Menganti sosok nyonya pemilik kamar yang dulu menjadi yang baru.


Sepertinya memang sudah tidak ada harapan untuk Hilya mempertahankan hubungan rumah tangga nya dengan Adnan, Hilya akan secepatnya mengurus perceraian nya sendiri, kini Hilya bertekad untuk melupakan masa lalunya, Hilya akan fokus dengan karirnya dan juga kesembuhan sang sahabat.