
Adnan POV
Aku begitu mencintainya, dia Hilya istriku beberapa hari ini aku bisa membuatnya tersenyum, memberengut dan juga marah, dalam hatiku begitu senang
Hanya saja
untuk kedua kalinya aku sempat lepas kontrol dengan berani mencium bibir manisnya, saat itu terjadi setelahnya menyesal karena aku tak mampu menjaga batasan ku
Meskipun tak dipungkiri seperti bongkahan batu yang lenyap dalam sekejap saat bibir manisnya menyambut ciumanku, tapi kala kesadaran ku kembali, aku memilih memeluknya, aku tak ingin egois dengan membuatnya kembali melayaniku layaknya seorang Suami, kali ini aku tak akan egois, kini kebahagiaan dan kenyamanannya adalah prioritas utama ku
Aku bertekad akan merebut hatinya dan cintanya dahulu, agar apa yang nantinya kita lakukan sama-sama atas dasar suka cita tanpa paksaan
Meski sering ini hasrat ku begitu teruji saat beberapa kali aku terbangun mendapati sesuatu yang membuatku harus mandi malam, istriku, wanita yang kucintai yang hanya memakai gamis rumahan, kaki jenjangnya nan mulus terlihat saat gamis itu tersingkap , belum lagi wajah ayu yang begitu dekat dengan wajahku, helaan nafas lembutnya membuatku susah payah menahan jiwa yang berkejolak
Tapi aku telah bertekad membahagiakan istriku hingga akhir, tak akan ada orang ketiga di hidup kami, meskipun nantinya tidak ada anak diantara kami aku tak akan lagi mengulang kesalahan masa lalu ku, nyatanya di antara kami ada Khansa, putri sahabatku yang telah menjadi putriku sendiri.
Aku menatap lantai atas dimana istri ku berlari, ingin aku menerkamnya dan menjadikan mimpi putriku menjadi nyata , tapi lagi-lagi akal sehatku masih berjalan, tak akan ada hubungan badan jika hati kami belum saling terhubung.
Adnan POV end
Adnan melangkahkan kakinya menuju kamar, pintu kamar yang tak tertutup sepenuhnya membuatnya dapat melihat sang istri yang tengah duduk di hadapan cermin
Adnan mendorong pintu lebih lebar dan menutup nya tanpa suara
" Mas!!" Hilya menoleh
Adnan tersenyum dan duduk di pinggir tempat tidur
Hilya melanjutkan kegiatannya membersihkan wajah nya dengan pembersih, sedang Adnan memerhatikan kegiatan Hilya dari balik punggung sang istri
Hilya berdiri
" Biar ku bantu!!" ucap Hilya
Adnan mendongak
Dingin kapas menempel di pipi Adnan, ternyata Hilya melakukan hal yang sama di wajah suaminya membersihkan wajah Adnan dengan tonner dan kapas
" Waah ternyata wajah mas Adnan bersih!!" komentar Hilya
Tak taukah Hilya saat ini Adnan sedang menahan nafasnya, mencoba menetralkan detup jantungnya yang mengila tiba-tiba
Hilya masih sibuk membersihkan wajah Adnan, tanpa ia sadari posisi mereka begitu dekat, bibir Hilya yang pink alami seolah memangil- manggil Adnan agar mencicipi kemanisannya
" Maaf aku tidak bisa, aku sudah berjanji pada diriku sendiri!!" ucap Adnan tiba-tiba
Hilya menghentikan kegiatannya
" Gak!!" jawab Adnan gugup
Hilya jelas mendengar kala Adnan mengatakan bahwa dirinya tidak bisa karena dirinya telah berjanji pada dirinya sendiri.
Hilya menatap lekat wajah suaminya
" Apa yang tidak bisa?? dan apa yang mas maksud dengan telah berjanji pada diri mas sendiri??" tanya Hilya penuh tuntut
Adnan mengeleng
" bukan apa-apa dek!!" elak Adnan
" Apa itu ada hubungannya dengan hasrat??" tanya Hilya menaikan sebelah alisnya
Adnan gelagapan
" Bu Bu bukan!!" jawab Adnan terbata
Hilya tersenyum culas. " bukan yang kau ucapkan begitu terlihat meragukan mas!!"
Hilya mencondongkan tubuhnya lebih merapat pada Adnan
Kini Adnan seperti terimindasi oleh sang istri, Adnan menelan ludahnya yang sialnya seperti bongkahan batu begitu sulit bahkan nafasnya terasa tercekat
Tangan lentik Hilya menari di pipi kanan Adnan
" Benarkah bukan hasrat yang telah kau perangi mas??" bisik Hilya yang membuat tubuh Adnan merinding
" Dek!!" Adnan mendorong pelan tubuh istrinya sialnya tanganya tepat di sebelah dada sang istri
Adnan mengumpat dalam hati
****
" Ya mas!!"
Adnan geram mendengar suara istrinya yang begitu mendayu, membuat pertahanan yang terkikis kian menipis
Senyum kemenangan terbit di bibir Hilya
Hilya mendorong tubuh suaminya hingga terlentang di tempat tidur, Adnan gelagapan belum sempat bangkit Hilya telah mengunci pergerakannya dengan menopang tubuhnya di antara tubuh Adnan dengan kedua tangannya
" Dek!!" Adnan mencoba menyadarkan Hilya, tapi sejurus kemudian Adnan terbelalak saat sang istri melabuhkan benda basah berwana pink itu di atas bibirnya
Bukan tidak bisa Adnan mendorong tubuh istrinya untuk menjauh, tetapi pesona Hilya menarik bagaikan Magnit yang menyedot besi , nyatanya Adnan begitu menikmati apa yang Hilya lakukan padanya Adnan mengepalkan kedua tanganya kuat, mencoba agar tak terlena dan membalas perlakuan sang istri, tapi Adnan gagal nafsu mengendalikan akal sehatnya, bibir Adnan mulai bergerak membalas cecapan sang istri ciuman lembut kini berubah seiring waktu menjadi ciuman menuntut, Adnan mengerang merutuki lemahnya pertahanan nya, tapi Adnan tak dapat menghentikan apa yang telah ia nikmati kini Adnan justru menginginkan lebih, berdosa kah Adnan???