Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
247.Marah



Hilya berlari dari parkiran ingin masuk kedalam UGD, tapi langkahnya terhenti saat melihat Adnan yang sedang di papah seorang polisi menuju tempatnya berdiri


Hilya dapat melihat keterkejutan Adnan, Hilya melihat Adnan yang sedikit pincang, tidak ada luka serius, nyatanya Adnan di izinkan pulang


" Dek?? Adnan mendekati Hilya bersama polisi yang membantu menuntun tubuh nya


Hilya tak menghiraukan, Hilya justru mengalihkan pandangannya dan melihat pada pria paruh baya yang memapah suaminya


Hilya tersenyum ramah


" Pak biar langsung saya bawa pulang saja , Beliau suami saya!!"


Bapak polisi itu melihat kearah Adnan dan Adnan mengangguk membenarkan


" mari saya bantu masuk kedalam mobil Anda Bu!!"


" Ah, iya pak terimakasih sebelumnya!!


Bapak polisi itu tersenyum tak kalah ramah


Hilya menunjuk mobilnya yang terparkir tak jauh dari mereka


Ketiganya mendekati mobil dan Hilya membantu membukakan pintu untuk Adnan


" Pak sekali lagi kami ucapkan terimakasih!!" setelah Adnan berada di dalam mobil Hilya menyempatkan kembali mengucapkan terima kasih atas bantuan pria yang berprofesi sebagai seorang polisi itu.


Pria itu tersenyum dan membalas ucapan Hilya sebelum beranjak pergi meninggalkan mereka


Hilya memejamkan matanya rapat, menghalau rasa kecemasan dan khawatir yang Alhamdulillah tak seburuk yang Ia bayangkan


Kakinya mengitari mobil dan masuk kedalam duduk di kursi kemudi


Adnan melihat Hilya yang terlihat sangat tak ramah padanya


ada apa dengan istri hamba ya Allah??


" Sayang mas Tidak apa-apa!!" Adnan mencoba memulai obrolan


Hilya menoleh sejenak


" Memang apa yang kau harapkan, cacat seumur hidup tertimpa bangunan?? atau mati karena menjadi Hiro penyelamat kertas- kertas itu haaaa??" Hilya mengeram marah


" Dek mas Hany.......


" Hanya apa Haaaaa?? Papa meminta mu kesana untuk memastikan adakah korban jiwa atau tidak, bukan memintamu melakukan hal konyol hanya karena sebuah berkas!!" tekan Hilya penuh amarah


tak taukah Adnan, Hilya seperti itu karena Hilya takut kehilangan untuk kesekian kalinya, Hilya takut kebahagiaan bersamanya harus berakhir dengan rasa sakit karena kehilangan lagi


Adnan sendiri bingung kenapa Hilya begitu marah, bukankah hubungan mereka tak serengang ini, tapi ada sebagian hati Adnan bertanya apa Hilya begitu menghawatirkan dirinya?? apa kemarahan Hilya karena rasa khawatir??


" Mas minta maaf!!" akhirnya Adnan mengalah, untuk kata maaf ini Adnan pernah membaca artikel tentang wanita dan pria, seorang pria hanya perlu minta maaf pada wanita yang tengah merajuk meski tak tau apa kesalahannya, karena wanita ingin selalu dimengerti, perasaan wanita yang lebih lembut dibandingkan Pria membuat wanita mudah Baper.


Wajah Hilya melengos, tak menghiraukan kata maaf Adnan, tapi Adnan dapat melihat ketenangan kembali menghampiri istrinya, terbukti tanganya tak lagi mencengkram kemudi di hadapannya


" Mas fikir kalau mas dapat menyelamatkan file penting perusahaan.....


" Oohhh......should I thank the hero??" tekan Hilya kembali membuat Adnan menyesal telah berbica lagi, harusnya Adnan memilih diam. Adnan mendesah


Hilya kembali emosi Karena mendengar Adnan yang membahayakan keselamatan nya demi file penting perusahaan, tak taukah Adnan harta bisa dicari tapi nyawa??


"Sorry i was just worried" ( maaf aku hanya khawatir) akhirnya Hilya bisa berbicara lembut, Hilya menghela nafasnya, menatap sekilas suaminya yang duduk disampingnya


Hati Adnan menghangat, benar dugaan nya, Hilya marah karena khawatir, apa Adnan sudah mulai bernilai dihati Hilya??


Hilya menepikan mobilnya, tubuhnya berbalik menatap Adnan


Adnan pun turut melakukan hal yang sama, melepas sabuk pengaman dan duduk menyamping


Hilya memindai penampilan Adnan, tubuh Adnan masih utuh, tak ada luka di wajahnya hanya rambutnya seperti bekas terbakar di bagian atasnya, mungkin sempat terserempet api


Hilya mengigit bibirnya gelisah


" Aku tidak marah!! Hilya menghela nafasnya, mencoba mengatur perasaan nya. Aku pernah kehilangan sebelumnya, aku takut hanya karena sebuah berkas aku akan kehilangan suami untuk kedua kalinya. tiba-tiba mata Hilya berkaca-kaca.


Harta bisa dicari, nyawa tak bisa dibeli, Tolong jangan buat aku khawatir seperti ini, aku takut mas!!" air mata Hilya tak terbendung lagi kedua tanganya menangkup wajahnya


Adnan cepat memajukan tubuhnya memeluk istrinya yang sedang menangis, dekapan Adnan seolah ungkapan perasaannya, Adnan bahagia Hilya menghawatirkan keadaan nya.


" Maaf sudah membuatmu khawatir dek'. maaf!!" hanya itu yang Adnan ucapkan istrinya butuh ketenangan, pasti Hilya begitu menghawatirkan keadaan nya sehingga Hilya bisa menangis terisak begini


"apa aku sudah memiliki tempat dihatimu dek'??"