
Sejak dua hari Anton meninggalkan rumah, paginya, Hilya tidak masuk bekerja. Anton yang pergi menyewa rumah dekat rumah sakit tempatnya bekerja sedikit khawatir dengan keadaan istrinya.
Tapi Anton masih ingin menenangkan fikiran nya.
dan ini hari kedua istrinya tidak juga terlihat keberadaan nya.
Anton mulai gusar, perasaan bersalah mulai merasuk dihatinya. Harusnya dia tidak memaksa Hilya untuk mencintai nya. Harusnya dia tidak egois. Bagaimana pun Hilya memang sangat mencintai Adnan sejak dulu, tidak mudah bagi Hilya menghapus cinta pertama nya.
Anton mengusap kasar wajahnya.
Saat akan berbalik, Anton melihat istrinya memasuki ruangannya, hati Anton menghangat, perasaan nya lega melihat istrinya kembali bekerja.
Anton ingin menemui Hilya, tapi ada rasa bingung dihatinya. Anton rindu dengan Hilya, Anton tidak bisa tidur tenang tanpa sang istri, tapi mengingat apa yang telah dilihat nya Anton merasa sakit hati.
Anton melewati ruangan Hilya dengan gontai.
Jam pulang kerja sudah lewat, tapi Anton belum melihat tanda-tanda istrinya akan pulang, Anton menanyakan perihal keberadaan sang istri pada suster.
" Maaf sus!!, apa Dokter Hilya masih ada operasi??".
Suster itu mengeleng. " Tidak pak , tadi Dokter Hilya cuma datang sebentar dan pergi lagi. sepertinya Bu Hilya sedang tidak enak badan beliau pucat sekali tadi."
Ucapan suster itu membuat hati Anton tertohok.
Anton segera masuk kedalam ruangan miliknya membereskan barangnya dan ingin secepatnya pulang ke rumah mereka, ya Anton ingin pulang kerumahnya bersama Hilya, Anton akan mencoba memaafkan kesalahan Hilya, demi Hilya dan lebih tepatnya demi dirinya sendiri yang begitu tersiksa dengan perpisahan mereka.
Mobil Anton memasuki garasi rumah mereka.
Anton merogoh kantongnya mencari kunci cadangan rumah mereka.
Anton berharap, Hilya mencabut anak kuncinya yang berada didalam, agar Anton bisa membuka kunci rumah mereka.
Namun saat Anton ingin memasukan anak kunci, tiba- tiba pintu terbuka, wajah pucat istrinya terlihat dihadapannya.
Hilya yang terkejut cepat merubah ekspresi wajah nya. Hilya memandang datar suaminya. membuat hati Anton tercubit.
"Apa ada yang ketinggalan??" tanya Hilya datar.
Anton tampak bingung dengan pertanyaan istri nya.
"Kenapa kembali apa ada yang tertinggal??"
Anton terseyum kecut mendengar ucapan Hilya.
"Apa aku tidak boleh kesini lagi??" tanya Anton pedih
"Kamu yang memutuskan untuk pergi, jadi tidak perlu kembali lagi."
" Hil aku mencintaimu, aku akan melupakan kejadian kemarin, aku janji."
Hilya menutup matanya rapat, Hilya sakit hati mendengar ucapan Anton yang masih menganggap dirinya bersalah.
" Pergilah, aku sedang sendiri didalam rumah, aku teringat pesan suamiku, bahwa aku dilarang memasukan seorang pria saat tidak ada siapapun dirumah, itu tidak baik." ucap Hilya menunduk menyembunyikan air matanya.
" Apa aku salah memberi saran itu??"
Hilya mengeleng. Air matanya kembali mengalir. ingin rasanya Anton menghapus air mata istri nya tapi Anton takut Hilya menolak nya.
" Kamu gak salah mas!! hanya fikiran mu terlalu picik menilai ku. aku masih punya iman tidak mungkin aku melakukan hal kotor dengan mantan suami ku, sedang aku sendiri yang memilih pergi darinya".
DEG
Kini giliran Anton yang kaget mendengar ucapan Hilya.
Anton gugup " Hil, aku minta maaf, jika aku membuatmu terluka. Sayang maafkan aku ."
" Pergilah mas' aku ingin istirahat"