Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
56.Permintaan Hilya



Tanpa mengurangi rasa hormat, Hilya tetap menolak pemberian kakek Adnan, tak ada yang Hilya tutup tutupi mengenai alasan mengapa dia menolak cincin itu selain tidak mau lagi mengingat mantan suaminya dihidupnya.


Kekecewaan jelas tergambar di wajah pria tua itu, Namun Hilya tak mau luluh begitu saja, Hilya juga belum melupakan bahwa pria tua inilah dulu yang secara tidak langsung yang membuat hancurnya rumah tangganya.


Bukanya dendam, hanya Hilya berusaha menghindari setiap masalah yang menyangkut tentang masa lalu nya , menerima cincin pemberian pria tua itu sama saja Hilya masih memiliki janji pada kakek Adnan untuk memberikan cincin itu untuk anaknya kelak.


Untuk apa?? sedang ibunya saja telah tersisih dari hidup cucunya, untuk apa lagi mengharapkan seorang cucu dari wanita yang tidak memiliki ikatan status apapun lagi dihidupnya. dengan senyum manis Hilya meninggalkan kakek Adnan bersama keluarganya.


Dan disinilah Hilya. wanita cantik itu sedang mengamati Anton yang sedang belajar huruf Braille, senyum Hilya merekah menatap wajah serius Anton belajar.


" Kamu sudah datang??" ucap Anton


Hilya terkejut. "Kamu tau!!".


" CK, suara sepatumu terdengar jelas ditelinga ku !!".


" Ahh begitu, kamu sudah makan??".


" Belum aku menunggu mu! apa hari ini kamu tidak kembali ke rumah sakit??"


" Baiklah, aku juga belum makan, akan kusiapkan dulu makananya, ini sudah hampir sore kenapa kau tidak makan dulu?? dan aku hari ini cuti."


" CK, bahkan aku tak dapat melihat sekarang jam berapa, lantas kenapa kau keluar sejak pagi, kata Arkab kau keluar sebelum jam 7 pagi."


" Ah yaa aku ada urusan diluar rumah sakit Ton, hehehehe..kalau gitu aku siapkan makanan dulu yaa!!" Hilya sengaja tidak memberitahu perihal perceraian nya , toh untuk apa?? bahkan Anton sendiri tak mampu mengingat siapa dirinya.


Setelah selesai menyiapkan makan siang yang sudah sangat terlambat itu Hilya segera menghampiri Anton.


Mereka duduk berhadapan Anton sudah bisa makan makanan nya sendiri, Hilya hanya memberi tahukan apa lauk dan sayurnya pada Anton dan letaknya disebelah kanan atau kiri itu saja sudah cukup.


Mereka memulai ritual makan.


Anton berhenti mengunyah. " apa aku tidak salah dengar??" bantuan apa yang bisa pria buta lakukan untuk mu?" sedangkan hidupku saja saat ini bergantung pada mu.


" Aku beberapa waktu lalu bertemu dengan Umi, Umi mengharapkan aku bisa tinggal berdua dengan mu, aku tidak ingin menolak permintaan Umi, tapi Ton, kita tau sendiri kita bukan muhrim".


" Apa kau meminta tolong kepada ku untuk membujuk Umi agar berhenti meminta mu untuk mengurus ku?? akan aku lakukan!! aku sadar aku begitu menyusahkan mu.." Anton melanjutkan makannya.


" Bukan begitu, aku justru meminta tolong pada mu agar segera menikahi ku!!".


Anton tersendak makanannya, Hilya dengan cepat memberikan air di tangan Anton, Anton terima dan langsung meneguknya hingga setengah gelas.


" Kamu sudah tidak waras ?? untuk apa aku menikahi mu, aku hanya akan menjadi beban untuk mu, dan apa sebenarnya tujuanmu mau menikah dengan ku?? atau jangan-jangan kamu hamil dan pria yang menghamilimu pergi tak mau bertanggung jawab!!"


Hilya memutar bola matanya malas.


" Kalau aku bisa hamil, aku tidak akan bercerai dengan suamiku." ucap Hilya menatap wajah Anton.


" Kau seorang janda??".


" IYa!!" dan kau seorang DUDA. status kita sama."


" Maaf aku tidak bisa menikahi mu!!".


" Itu cara satu-satunya agar aku bisa terus merawat mu Ton!! karena terlalu kita sering bersama tanpa ikatan itu akan menimbulkan fitnah dan juga dosa."


" a5ku adalah pria yang sakit!! bagaimana aku bisa menikahi mu?? sedangkan aku saja tidak bisa mengingat masa laluku!!" .


" Itu bukan lah halangan Ton!! setidaknya kita butuh setatus yang jelas saat ini, bila suatu hari nanti ingatan mu kembali dan kau merasa tidak bisa melanjutkan hubungan kita ini aku akan melepaskan mu!!".


Anton diam, tak ada lagi kata bantahan atau pertanyaan dari dirinya, membuat Hilya bergeming menunggu jawaban dari permintaan nya.