
Sepanjang perjalanan ke villa keadaan begitu ramai karena celoteh Zahra, gadis kecil itu membicarakan berbagai hal mulai ingin bersekolah seperti teman sebayanya, ingin pakai seragam yang bagus, pake sepatu dan tas punggung yang cantik dan sebagainya
Anton dan Hilya menanggapi nya dengan tak kalah antusiasnya, berbeda dengan Zizi yang hanya diam dan menunduk
" Mba Zizi bisa makan makanan laut?? atau alergi dengan makanan sesuatu tidak??" tanya Hilya dengan senyum, Hilya tau wanita yang sedikit lebih tua darinya itu sedang merasa canggung
Zizi mengangkat wajahnya pelan
" Saya makan apa ajah mba , selama ini bisa ketemu nasi dan garam saja syukur!!"
Anton dan Hilya memejamkan matanya rapat, mereka seolah kompak dalam perasaan dan pemikiran
" Nanti setelah kalian tinggal di villa kebutuhan kalian saya akan penuhi setidaknya hingga.....lidah Anton Kelu mengucapkan kata panggilan untuk Zizi, akhirnya Anton menurunkan egonya dengan memanggil Mba Zi, biar bagaimanapun juga wanita ringkih itu telah mengurus Abahnya selama ini
" Hinggaaa Mba Zi melahirkan" ucap Anton pada akhirnya
Zi tergugu, wanita hamil itu begitu tersanjung dengan pangilan Anton dengan embel-embel Mba yang tak pernah sekalipun berani Ia angankan mendengar pangilan itu dari bibir adik tirinya Anton
Selama ini bertemu dengan Anton saja Zi seperti kehilangan muka, apalagi hingga mendengar pangilan istimewa itu bahkan dengan nada yang bersahabat, bukan makian ataupun amarah.
________________
Dilain tempat, di desa terpencil pria yang memiliki lesung pipi dan masih tetap rupawan sedang mengendong putra semata wayang nya
Pondok pesantren yang tidak hanya mencetak para Hafis Qur'an, namun juga ilmu akademik, bahkan pondhok pesantren nya memberi tuntutan wajib belajar 9th
Adnan sengaja pergi menjauh dari kehidupan Anton dan Hilya, setelah Dini menerima khitbah keluarga Risqi, Adnan kembali merasakan kekosongan hatinya
Namun ada satu yang baru Adnan sadari, cinta dihati Adnan untuk Dini tak sebesar cinta Adnan untuk Hilya
Adnan sedikit menyadari mungkin rasa itu tumbuh dihatinya bukan karena cinta murni , namun mungkin karena opsesi Adnan karena begitu menginginkan Hilya kembali kepelukan nya, dan karena ada bagian di diri Dini yang begitu mirip dengan Hilya, itupun dapat Adnan sadari setelah beberapa hari merenung, hingga pada akhirnya Anton memutuskan untuk pergi menjauh
Sampai kapan dirinya harus menginginkan mantan istrinya sedang sang mantan telah hidup bahagia bersama sahabat terbaiknya
Mengingat Hilya membuat hati Adnan sakit, kepergian Adnan pun tanpa berpamit pada keluarga nya, bahkan sang kakek yang saat ini lebih sering menghabiskan waktunya di rumah sakit pun tak ia pamitin.
Hampir satu minggu Adnan di kota baru dan mulai berbaur dengan masyarakat sekitar, bahkan Adnan mulai menawarkan jasa mengajar tanpa imbalan, sebagai guru ngaji dan guru bahasa Arab, sebagai gantinya para anak remaja putri turut adil menjaga baby Akbar
Beruntung Adnan membawa segala ijasah dan bukti lampiran kontrak kerja di pondok pesantren dahulu, Adnan di terima dengan tangan terbuka oleh kyai setempat
Banyak para Gus, yang menyukai Adnan dan menerima Adnan dengan suka cita.
Gus adalah pangilan untuk anak kyai laki-laki dan Ning pangilan untuk anak kyai perempuan.