
****** Manusia hanya bisa berencana tapi Allah lah yang menentukan******
Setelah perdebatan panjang itu, akhirnya Anton secara resmi mengembalikan khitbah Risqi pada keluarganya atau lebih tepatnya menolak dadakan, tak lupa Anton juga menceritakan semuanya tanpa menambah maupun mengurangi
Keluarga Risqi awal nya tak terima atas ucapan dan prilaku keluarga Dini yang seolah mempermainkan putra mereka, namun pada akhirnya Risqi sendirilah yang mengakui kebenaran itu, yang akhirnya membuat keluarga besar Risqi malu dan mengucapkan beribu maaf dan terimakasih karena tak melaporkan kejadian tersebut ke kantor polisi, tentu mereka takut nama keluarga besar mereka tercoreng, terlebih ternyata Risqi adalah calon penerus pesantren Abuya nya.
Sudah dua hari juga putri kecil Hilya dan Anton keluar dari rumah sakit, dan hari ini acara aqiqah sedang digelar dirumah Anton.
" Belum terlambat jika mau berubah fikiran!!" suara Zahfran membuat Dini yang sedari tadi diam merenung menoleh.
" Bikin kaget saja!!" jawab Dini dan kembali fokus menatap jendela
Zahfran ikut duduk di samping Dini
"CK, kamu tidak bisa berbohong, aku tau kamu sudah nyaman dan jatuh cinta sama si kutu kupret itu!!"
Terlihat Dini meraup udara sebelum kembali bicara
" Aku memang mudah jatuh cinta Zahfran!!
yaaa mungkin begitu, ini bukan untuk pertama kalinya aku patah hati." Dini memang berkata jujur
Zahfran mendesah. "Apa untuk seseorang yang mudah jatuh cinta juga akan mudah untuk move on??"
"Tapi untuk jatuh cinta padaku kuyakin kamu akan merasa lebih susah, pasalnya yaaaa.. apa yang di katakan si brengsek itu memang benar adanya, Ada jiwa yang kapan saja akan muncul menguasai diriku , aku jauh dari kata sempurna." lirih Zahfran yang menyentak dada Dini.
" Apa kau tak sepercaya diri itu? sampai kau ragu dengan dirimu sendiri??? ckckck mental kerupuk." desis Dini kesal, ya Dini begitu kesal jika Zahfran selalu mengungkit ketidak sempurna an nya bukankah manusia memang tak ada yang sempurna??"
Zahfran tersenyum. " aku bisa merasakan keraguan mu untuk melangkah maju dengan ku!!"
Dini mendengus kesal. " Asal kamu tau ya Zahfran!! aku bukannya ragu untuk melangkah dengan mu tapi aku itu sedang memikirkan dengan penuh pertimbangan, apakah seseorang yang menikah karena pelarian itu bisa langgeng enggak??"
"Untuk kesekian kalinya aku harus mengetahui fakta bahwa orang yang menyukaiku bukan karena murni rasa suka tapi karena sekedar menganggap aku serupa dengan orang yang mereka sukai! tidak mas Adnan tidak kamu kalian berdua jatuh cinta pada kak Hilya, namun karena suatu alasan dan kemiripan yang ku miliki kalian menjadikan ku sebagai pelarian!!"
Zahfran terkejut dengan ungkapan Dini, apalagi ungkapan bahwa Adnan juga menyukai Dini, meski benar adanya Zahfran menyukai kemiripan Hilya dan Dini, tapi bukan itu yang membuat Zahfran menganggap Dini sebagai pelarian, cinta Zahfran tumbuh kepada Dini karena rasa nyaman yang pernah Zahfran rasakan saat menerima ketulusan dini memperlakukan dirinya saat sedang berada di titik rendah.
"Kenapa diam? itu kebenaran bukan??" Dini mengalihkan pandangannya dan menatap kesal Zahfran.
Dini terpesona saat ternyata Zahfran menarik kedua sudut bibirnya sedikit lebar hingga sederet gigi rapinya sedikit terlihat, senyum tulus yang baru Dini lihat dari Zahfran membuat sedikit dadanya berdesir.
"Aku tidak pernah menganggap kamu pelarian, ketertarikan ku pada Hilya dan kamu jauh berbeda, meski aku menjelaskan, pasti kamu belum tentu percaya, namun satu hal yang aku katakan, kau memberiku rasa nyaman yang selama ini belum pernah aku dapatkan, kau membuat aku seperti memiliki sandaran meski nyatanya seharusnya dirimulah yang bersandar padaku, tapi itu lah yang kurasakan ." ungkap Zahfran dengan manik yang tak lepas menatap Dini
Dini terpaku melihat kejujuran di mata Zahfran, lagi-lagi dadanya berdesir halus , hingga mengikis kepedihan dihatinya.