
Sekelebat rasa bersalah menyapa Hilya, entah karena apa??, tapi nyatanya ada sebagian diri Hilya yang merasa turut andil atas tiadanya Akbar, bisa jadi karena saat itu Adnan mengubah rencananya untuk menitipkan baby Akbar ke Surabaya, karena jawaban atas pertanyaan Adnan untuk nya, ataupun karena dirinya yang terlalu tegas akan penolakan untuk menerima Adnan kembali
" Bagaimana Yuana bisa Setega itu mas??" lirih Hilya dengan tatapan nanar ke arah meja
Adnan menghapus air matanya
"Semua berawal dari!!"
Flashback On
Adnan sampai ke tempat tinggalnya di London Inggris setelah menempuh perjalanan selama hampir 17jam
Sampai di kediaman nya Adnan segera mengantar Yuana kerumah orang tuanya, dengan mengendong buah hatinya Adnan memasuki kediaman keluarga Yuana
Terlihat keluarga besar Yuana tengah menunggu mereka, Adnan tertegun saat orang tua Yuana tiba-tiba menanyakan perihal hubungan antara dirinya dan Yuana
Bahkan Papa Yuana telah menyiapkan pesta pertunangan mereka yang akan digelar 1 Minggu lagi
Adnan yang terkejut dengan segala sesuatu itu merasa di pojokan, terlebih saat Mama Yuana menanyakan perihal kapan kira-kira baby Akbar akan di pulangkan ke Indonesia
Adnan menyimpulkan bahwa Yuana sudah mengatur pertemuan mereka, bahkan Yuana jelas tak menerima putranya, terbukti dia menyampaikan kepada orang tuanya bahwa baby Akbar tidak akan ikut tinggal bersama mereka
Adnan mau tertawa saat itu, Adnan sudah bertekad, jikalau dirinya menikah hanya bisa disebabkan dua hal, yaitu demi putra nya atau demi cinta pertama nya Hilya, lantas untuk apa Adnan menikah jika 22nya tidak ada dalam tekadnya
Nah maka dari itu Adnan pun memanfaatkan waktu itu untuk mempertegas kebenaran hubungan antara dirinya dan Yuana, yang membuat keluarga Yuana merasa tak terima, terlebih sang Papa yang seolah ingin memakan Adnan hidup-hidup, secara kedudukan Papa Yuana bukan orang sembarangan, mungkin itu yang membuat keluarga Yuana percaya diri bahwa Adnan akan dengan senang hati menyetujui untuk segera bertunangan
" Maaf , Saya dan Yuana hanya sebatas rekan kerja, tidak ada hubungan sepesial di antara kami!!" tegas Adnan waktu itu
Malam itu Adnan merasakan hawa amarah benar-benar memenuhi keluarga Yuana, tapi tak disangka Adnan saat pagi menyapa Yuana sudah berdiri di depan pintu rumah nya dan menanyakan keadaan Akbar, Adnan yang hendak bekerja hanya menjawab baik dan masih tidur dan segera berlalu pergi ke kantor
Adnan tak pernah tau jika kunjungan Yuana itu ternyata setiap hari, pernah Adnan memergoki Yuana sedang menimang Baby Akbar saat dirinya pulang kerja, dengan cepat Adnan menanyakan Yuana sedang apa dirumahnya, Yuana menjawab dirinya rindu Akbar, ingin bermain dan dirinya kesepian karena belum mendapat pekerjaan baru makanya main kesini, dan saat Adnan menanyai maid yang bertugas menjaga baby Akbar sang maid mengatakan "Nona Yuana sering menghabiskan waktu bersama Akbar setiap hari", Adnan sempat merasa aneh dengan perbuatan Yuana, tetapi saat mendengar bahwa Akbar selalu anteng kalo di gendong Yuana dan bermain bersama nya membuat Adnan lupa akan keganjilan bahwa Yuana tidak pernah menyukai anak-anak
Hingga akhirnya apa yang Adnan sepelekan itu merenggut nyawa buah hatinya
Flashback end
Adnan menunduk menyembunyikan air matanya
" Apa Yuana mendapat hukuman yang setimpal??" tanya Hilya
" IYa Hil, aku melaporkan Yuana tidak hanya pada polisi tapi juga pada Mentri perlindungan anak. lirih Adnan
Perbincangan mereka terhenti saat Khansa datang dengan membawa tiga menu untuk mereka bertiga
" Bun, Uncle, kenapa kalian menangis??" tanya Khansa saat sampai di meja dimana sang Bunda dan sahabat Papa nya sama-sama menghapus air matanya
" Bunda menanyakan perihal putra Uncle yang usianya lebih tua dikit dari Khansa, ternyata putra Uncle sudah di surga bersama Papa!!" Hilya mengelus lembut pipi putri nya
Khansa menatap prihatin kearah Adnan
" Uncle pasti sedih, kita doakan semoga anak Uncle diberi tempat terbaik di sisi Allah, Uncle jangan bersedih lagi yaaa!! kalau Ungle mau .. Uncle bisa anggap Khansa anak Uncle!! kan Uncle sahabat Papa dan Bunda, pasti kalo Uncle anggap Khansa anak Uncle , Papa tidak akan keberatan, ya kan Bunda??" tanya polos Khansa yang membuat mulut Hilya tiba-tiba tak mampu berucap sepatah katapun