
Dua bulan jalan Adnan selalu buntu untuk berinteraksi langsung dengan Dini, adek kecilnya benar-benar tidak ingin bertemu dengan nya.
Dan hari ini sebuah kebetulan atau keberuntungan, pada saat Adnan berkunjung bersama baby Akbar, ternyata Anton, Hilya dan Dini sedang asik barbeque di balkon belakang.
Hati Adnan begitu berbunga, tekatnya begitu kuat untuk meluruskan niatnya sungguh-sungguh.
Seperti biasa, Anton begitu antusias menyambut baby Akbar, diikuti oleh Hilya, sedang Dini dibiarkan melanjutkan memanggang sendirian.
Dini mengerutu, karena secara tidak langsung, sang Kaka membiarkan dirinya berdua an dengan adnan.
Adnan mendekati Dini.
" Biar mas bantu dek!!" tawar Adnan lembut. hatinya begitu bahagia.
" Tidak pe....
Adnan menarik tangan Dini, seumur hidupnya baru kali ini Adnan berani menyentuh tangan wanita lain yang bukan muhrimnya.
" Maaf" ucap Adnan lirih.
" Soal apa mas??" mas Adnan gak punya salah sama aku.
" Mas bikin kamu kecewa..!! maaf Diin!!..tolong jangan hindari mas Adnan dek' mas sedih adek mas yang dulu begitu ceria melihat kehadiran mas, sekarang justru selalu menghindari mas!!"
Dini tersenyum kecut. " semua sudah terjadi!!".
" Itu yang ingin mas ucap kan, semua sudah terjadi, mas tidak bisa mengulang waktu untuk memperbaiki segalanya!!"
" Tolong jangan hindari mas lagi dek!!". tambah Adnan
" Mengapa??"
" Karna mas tidak suka kamu hindari dek!!".
Dini menoleh, buliran bening itu menetes dari kelopak matanya.
Adnan terkejut melihat Dini menangis.
" A aku hanya kecewa....aku tidak ada hak marah sama mas Adnan, maaf jika sikap ku berlebihan, mungkin itu karena aku menganggap bahwa mas adalah orang yang penting dalam hidupku. harusnya aku gak begitu, maaf."
Adnan mengeleng, tanganya meraih jemari tangan Dini, keduanya sama-sama berpandangan, Adnan terlena, tanpa sadar tanganya menarik tubuh gadis itu hingga menubruk tubuh nya.
Tidak ada rasa berdosa Adnan memeluk gadis kecil yang berada di hadapan nya, entah kemana perginya jiwa Adnan yang selalu takut bersentuhan dengan kulit wanita yang bukan muhrimnya.
" Maaf!!"
" Dini yang minta maaf mas!!".
Adnan terseyum melerai pelukanya. menghapus jejak air mata di wajah cantik Dini.
"Ckckck pantesan bau gosong menyeruak kemana-mana yang jaga panggangan asik berpelukan." ucap Anton dengan suara yang cukup keras.
Adnan salah tingkah, tapi tidak dengan Dini yang langsung berlari ke arah panggangan di sampingnya.
Dini: yahhhh....!! udang nya gosong!!".
Anton hanya mengelengkan kepalanya.
sedangkan Adnan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa salah tingkah.
Anton: tidak masalah dek!! asal jangan gara-gara kalian pelukan rumah ku ini jadi gosong nantinya.
Dini: ihhh!! A A mah!!"
Anton: ada Jerry di luar, apa kamu gak suruh masuk??".
Dini: baneran A??".
" Hmmmm...." jawab Anton.
Dini dengan semangat berlari meninggalkan Adnan dan Anton. seperti tidak terjadi apa-apa barusan.
Sedangkan Adnan, pria itu menatap sendu kepergian Dini yang terlihat begitu bersemangat menemui tamu yang bernama Jerry itu.
Anton terseyum, sebenarnya Anton menyadari tingkah laku Adnan yang sering mengamati sang adek, Anton merasa bahwa sang sahabat ada rasa dengan Dini, terlebih setelah melihat kejadian barusan.
Dulu meski Adnan dekat dengan Hilya tak sekalipun Adnan mau menyentuh kulit Hilya, jangankan menyentuh, berada dalam satu ruangan yang sama hanya berdua saja tidak mau.
Tapi kejadian barusan, Anton dapat melihat binar bahagia saat Adnan memeluk sang adik, bibir Adnan melengkung sempurna, begitu juga saat Dini berlari menemui orang yang dia sebut barusan, ada gurat kecewa di wajah Adnan.