Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
68.Nama yang teringat



Senyum Hilya memudar saat suaminya mengelengkan kepalanya, Hilya bingung apa Anton tak bisa bersama dan tetap tinggal untuk melanjutkan rumah tangga nya.


Anton menyadari mimik wajah istrinya berubah sendu.


Anton menangkup wajah istrinya


" Apa yang membuat mu masih ragu, aku harus melakukan apa agar kamu bisa percaya bahwa aku tak akan pernah meninggalkan mu, kecuali dirimu sendiri yang memintaku, itupun harus disertai alasan yang bisa ku terima, selama tidak, jangan harap kamu bisa lepas dari hidupku."


Bibir Hilya kembali tertarik keatas, begitupun bibir Anton, pria itu tersenyum tulus melihat wajah istrinya. diusapnya puncak kepala istrinya. Anton mendekatkan bibirnya ke telinga Hilya. " boleh aku melihat mahkota yang tertutup hijab ini??"


Hilya mengangguk dan tersenyum manis, tidak membuang waktu Anton segera membuka penutup kepala Hilya dengan antusias.


Sayang sekali, saat sudah siap untuk menilai rambut istrinya, saat hijab itu terbuka ternyata Hilya masih memakai dalaman jilbab, membuat wajah antusias Anton meredup, namun tak lama, karena Hilya segera membuka dalaman hijab nya, hingga terlihatlah rambut ikal kecoklatan milik Hilya yang tergerai indah hingga panggul, sudah lama Hilya tak memangkas rambut nya, jadi rambut itu kian memanjang.


Pria tampan itu terkesima menatap keindahan rambut istri nya, begitu sesuai dengan paras wajahnya, membuat Anton terdiam tanpa berkedip.


Setelah sepersekian detik Anton mulai tersadar, Anton mendekati tubuh Hilya, memeluk wanitanya dari belakang, menyingkap rambut panjang istrinya ke pundak.


Bibir Anton mendarat di pundak mulus istri nya,.


" aku sudah menilai setiap jengkal tubuh mu dengan hati dan fikiran ku, bolehkah aku menilai ulang melalui penglihatan mata ku hmm??"


Hilya gugup bukan main, kedua tanganya saling meremas, ini bukan yang pertama kali Anton selalu bermain di atas kulit tubuhnya, tapi Hilya merasa kali ini Anton akan benar-benar menatapnya dengan penglihatan nya. rasanya Hilya begitu takut , Hilya takut jika Anton akan kecewa saat melihat lekuk tubuhnya yang tidak' sesuai khayalan Anton.


" Apa istri ku sedang malu?? bukankah sudah sering melihatnya?? bahkan kamu sudah sering melihatku polos tanpa sehelai benangpun, kenapa masih malu??" mendengar godaan dari Anton wajah Hilya semakin merah, astagaaa Anton benar-benar membuatnya malu luar biasa.


dan akhirnya terjadilah yang memang seharusnya terjadi.


Hilya begitu merasakan kebahagiaan yang belum pernah ia dapatkan selama menikah dengan Adnan, Anton lagi-lagi tidak hanya memuaskan secara hasrat, tapi juga menunjukkan kepuasannya dengan kata-kata dan sentuhan romantis sesaat setelah selesai berhubungan.


Anton terseyum lembut, tanganya mengelus sayang wajah istrinya. " Capek??".


Hilya menggeleng dan merapatkan dekapannya di tubuh Anton. " masih mau dilanjutkan??".


Dengan senyum manis Hilya mengangguk tanpa malu, toh buat apa malu, menurut Hilya, sebuah kejujuran itu sangatlah penting untuk menjaga keutuhan dan keharmonisan rumah tangga.


Anton terkekeh geli melihat tingkah manja Hilya.


" Aku baru tau nama istriku ini saat aku hendak mencapai puncak pelepasan, Hilya, nama yang secantik orangnya. Hilya istri ku aku mencintaimu". berakhirnya kalimat yang diucapkan oleh Anton suara bel rumah membuat keduanya sama-sama terkejut.


" Ada tamu!!" seru Anton segera memakai pakaiannya, "sayang mendilah terlebih dahulu, mas bukakan pintu dulu, ucap Anton kepada istrinya tak lupa sebuah kecupan mendarat di kening Hilya sebelum Anton beranjak keluar kamar.


Saat punggung Anton hilang dibalik pintu, senyum Hilya merekah. Hilya merasa nyaman dengan perilaku Anton padanya, tidak cuma nyaman tapi Hilya juga bahagia dengan pernikahannya dengan Anton. tak sadar tangan Hilya mengelus perut ratanya. sepertinya Hilya ingin segara memiliki Anton junior di rahimnya.