
" Kamu jangan ilfil nanti lihat aku yang berkulit hitam Hil!!" canda Fauzan.
" CK, nanti aku pura-pura tak kenal saja!!" Hilya tertawa
" Jahat!!" Fauzan terseyum
" Yaudah Zan!!, aku keruang mas Anton dulu!! maaf sudah mengganggu waktu mu!!"
" Ah baiklah Hil, dan yaa kamu tidak mengganggu sama sekali!!"
Hilya terseyum lembut berpamitan pada Fauzan
________
Hilya mengetuk pintu ruangan Suaminya dirawat
Anton terseyum melihat Hilya yang kembali
" Yang!!" Anton menatap sendu isteri nya
Hilya terseyum, membuat Anton bahagia
" Kak Hilya semua sudah siap!!" Dini memberitahukan bahwa mereka sudah siap pulang
" Kalian bisa pulang lebih dulu!! aku sama mas Anton belakang saja!!"
" Nak!!" Umi Anton mendekati menantunya memeluk sayang, mengecup kening Hilya.
" Maaf kan kami semua ya nak!!"
Hilya terseyum lembut dan mencium tangan mertuanya " iya Umi tidak apa-apa!!"
Mereka semua pulang dengan segala sesuatu milik Anton
Hilya menghampiri suaminya
" Yang!!"
" Ya mas'!!" Hilya melihat Anton dengan pandangan semanis dulu
Anton merengkuh tubuh Hilya, menangis tersedu di pelukan sang istri, Hilya mengelus punggung suaminya
" Apa masih sakit disini??" Anton menunjuk dada istrinya
" SANGAT!!" Hilya menjawab penuh penekanan
" Maafkan aku Yang!!"
Hilya terseyum, tapi tak menjawab permintaan maaf dari Anton
Anton mengangguk antusias, Hilya membantu sang suami Duduk di kursi roda, mendorong keluar ruangan menuju parkiran
Anton seperti mengulang masa lalu, dulu Hilya yang sempurna menerima dirinya yang buta bahkan lupa ingatan.
Anton memejamkan matanya
harusnya tak seperti ini seadanya dirinya jujur dari awal, Hilya wanita yang begitu baik, dulu saja sewaktu dirinya bukan Siapa-siapa untuk membantunya Hilya sampai rela menikahinya, mana mungkin Hilya akan keberatan menemaninya semasa sakit disaat seratus nya nyata Suami Hilya.
" Aku menyesal Yang!! aku telah melukai perasaan mu!! ampuni aku ya Allah, bantulah istri hamba menyembuhkan luka hatinya karena kebohongan hamba!!" Anton berdoa dalam hati
Hilya membukakan pintu mobil untuk Anton
"aku bisa sendiri Yang!!" Anton terseyum
39 menit kemudian
Akhirnya mereka sampai di kediaman Anton
Hilya menuntun suaminya masuk
Sesampainya Hilya dan Anton, Umi Dan yang lainya pamit Pulang, alasan memberi mereka waktu
Hilya tak mencegah, hanya memberikan senyum manis saja
Hilya membantu sang suami untuk berbaring, saat ingin berdiri tangan Hilya di genggaman oleh Anton
" Yang aku rindu!!"
Hilya terseyum " aku ambil Putri kita dulu ya mas!! memangnya mas gak Kangen sama Khansa??"
Anton mengeleng
" Tolong jangan selalu mengumbar senyum palsu Yang!! marahlah!! keluarkan sesak di dada mu!! aku pantas mendapatkan amarah mu Yang!!"
Hilya terdiam, kalimat yang di ucapkan Anton membuatnya kembali terluka, matanya mulai berembun, bohong jika Hilya tak marah, Hilya sangat marah dan kecewa pada Anton
Hilya menunduk menahan sesak di hatinya, pria yang melukainya berada tepat di hadapannya, pria itu pria yang tega membohonginya, Pria itu pria yang tega akan menceraikan nya
sayangnya pria itu adalah pria yang begitu di cintai nya
Air mata Hilya menetes, membasahi telapak tanganya yang digenggam oleh Anton
Anton menatap sendu istri nya, Anton tak mampu berbuat banyak, membiarkan Hilya menangis itu jauh lebih baik dari pada terseyum penuh kepalsuan
Anton membawa kepala Hilya bersandar di dada nya, membiarkan wanita yang di cintai nya menangis terisak, nafas Anton tersengal-sengal merasa bodoh dengan tindakannya, kini resikonya adalah melihat pujaan hatinya tersakiti karena ulahnya, saat melihat seseorang yang begitu kita sayangi bersedih itu sangat menyakitkan terlebih saat kesedihan itu karena perbuatan kita itu jauh lebih menyesak kan
"ya Allah istriku yang menangis tapi hatiku yang merasa hancur, melihat istriku yang terisak tapi dada ini yang menahan sesak , rasanya aku menjadi suami paling bodoh di Dunia, ampuni aku ya Allah!!