Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
47.Pergi



Pria yang taklain adalah papa Hilya menanggapi sapaan menantunya dengan senyum manis.


"Waaaahh Alhamdulillah..selamat menantu sebentar lagi kamu akan menjadi seorang Ayah. kini tugas putriku sudah selesai bukan?? aku akan menjemput putriku dengan kedua tangan ku lagi , seperti saat dulu aku melepaskan dengan kedua tangan ku pula."


Adnan bersimpuh di depan papa mertuanya.


" Pa!! saya mohon tolong jangan pisah kan kami pa, kami saling mencintai. Pa!! tolong kasihani kami."


"Apa kamu bilang, kalian saling mencintai?? apa kamu yakin Hilya masih mencintai mu?? kau tau?saat cinta seorang istri pada suaminya sangat besar, dia rela melakukan apa saja untuk membahagiakan suaminya.


tapi apa kau tau??. saat wanita merasa cintanya terbagi lama kelamaan hatinya akan berpaling dan mencari sebongkah hati yang utuh untuk mencintai nya. karena pada dasarnya tidak ada satupun wanita yang rela membagi suaminya.


maaf Nan!! bukan maksud Mama mengingkari bolehnya agama kita seorang pria menikahi lebih dari seorang wanita, bahkan empat pun tak dilarang."


"Hanya Mama memandang dari segi kehidupan mu Nan, bahkan kamu memiliki seorang istri saja masih tinggal dirumah kecil yang jauh dari......ah sudahlah, bahkan tanpa mama jelaskan pun kamu tau. intinya kau belum cukup mampu memiliki istri dua."


"Bahkan kehidupan yang kau berikan untuk Hilya tidak sebanding dengan apa yang kami berikan untuk nya, kami tidak ridho anak kami hidup kekurangan."


"Awalnya kami rela melepaskan putri kami karena janjimu yang akan berusaha semaksimal mungkin untuk kebahagiaan Hilya, namun kenyataannya belum mampu memenuhi kebutuhan hidup anak kami kamu sudah berani memoligami Hilya.


sekarang sebagai seorang Mama, aku memintamu untuk melepaskan putri kami dari penjara cintamu yang kenyataannya tak membuat putri kami bahagia."


Adnan beralih menatap Mama Hilya " Maaa Adnan mohon!!".


" Tidak Nan, maaf Papa tidak bisa membiarkan Putri pewaris Papa menderita dengan hidup bersama seorang pria yang egois.


sebentar lagi kau akan menjadi seorang Ayah, tolong biarkan putri kami mencari kebahagiaan nya sendiri. tidak kah kau tau bahwa putriku sudah begitu tertekan selama ini?"


"Seandainya kau pria yang punya komitmen dan pendirian tinggi. masalah seperti ini tak akan menimpa keluarga kalian. sebagai seorang Papa aku hanya dapat menasehati mu. Tolong jangan lagi kau permainkan hati wanita."


"CUKUP Putri kami saja yang kau sakiti."


Hilya terseyum lembut langkah kakinya mendekati kedua orang tuanya.


Adnan memeluk erat tubuh Hilya.


"Sayaaaaang !! mas mohooon tetaplah jadi istri mas' jangan pergi dari rumah. mas janji akan berbuat adil dengan kamu dan Rena.


Hilya melonggarkan pelukan sang suami.


" Maaf mas saya tidak butuh lagi sebuah keadilan, saya hanya butuh ketegasan, saat ini mas hanya punya dua pilihan., Saya? atau Rena dan calon anak mas yang mas pilih??"


"Sayang!!mas tidak bisa memilih diantara kalian !!".


"Kamu cintanya mas' sedang Rena adalah wanita yang tengah mengandung anak mas. mas mohooon beri mas keringanan Hil!!" Adnan menangis mencoba membujuk sang istri.


Namun sepertinya keputusan Hilya untuk pergi sudah begitu kuat, wanita berparas ayu itu tersenyum manis menatap wajah suaminya yang sebentar lagi akan ditinggalKanya itu.


"Jaga diri mas baik-baik. mungkin setelah ini kita akan jarang bertemu, aku akan meminta pengacara Papa untuk mengurus perceraian kita.


"Maaf mas, saya memilih mundur."


"Assalamualaikum".


"Tidak sayang tidak..mas tidak mau.. tidak Hil mas mohooon.." Namun ucapan Adnan tak dihiraukan oleh Hilya .


Hilya pergi dengan kedua orangtuanya, sedang Adnan tak bisa mengejarnya karena ada dua Bodyguard menghalanginya.


Hingga mobil papa mertuanya telah hilang ditelan kegelapan tubuh Adnan Ruruh kelantai, tangisnya pecah, Pria itu terlihat begitu menyedihkan