
"Lihatlah Pak, coba bapak ingat-ingat kembali, pernahkah dulu Bu Hilya terseyum lembut seperti itu??Bu Hilya wanita yang sangat ceria bahkan terkadang jahil. kalau menurut saya saat ini Bu Hilya hanya memaksakan untuk terlihat bahagia Pak."
Adnan emosi , hampir saja Adnan membogem wajah Arkab, namun perkataan Arkab selanjutnya membuat Adnan terdiam.
" Senyum tulusnya itu senyum defil yang terlihat jahil , kebahagiaan Bu Hilya itu dengan tawa bukan sekedar senyum manis. semenjak Bapak Menikah lagi, kami sudah tidak pernah melihat Bu Hilya terseyum jahil, kami sudah tidak pernah mendapat senyum mengejek ala anak horang kaya yang mencemooh bawahan, kami kehilangan sosok wanita ceria kami Pak."
"Dan yang membuat kami yakin bahwa Bu Hilya tidak bahagia, karena semenjak Bapak Menikah lagi, kami sudah tidak pernah melihat Bu Hilya tertawa lepas."
DEG.
Jantung Adnan seolah berhenti berdetak, benar' sangaaaaat benar, Adnan baru menyadari itu.
semenjak dia izin untuk menikah lagi sifat Hilya jauh berbeda.
Tak lagi manja, tak lagi berbuat sesuatu untuk menjahili Adnan, tak pernah berkata mesum seperti biasanya, dan yang paling Adnan rasakan adalah tak pernah lagi Hilya meminta terlebih dahulu kebutuhan biologis nya. bahkan tatapan mesum Hilya memang tak pernah ada lagi.
Namun yang kini membuat Adnan terpukul adalah, mengapa dia tidak menyadari hal itu, kenapa harus rekan kerja Hilya yang tidak ada hubungan apapun diantara mereka??
.
.
Malam semakin larut, akhirnya para tamu sudah mulai meninggalkan rumah Adnan dan Hilary. kakek Adnan dan Rena telah masuk kedalam kamar mereka.
Tapi tidak untuk Adnan, karena malam ini memang waktunya Adnan bersama dengan Hilya.
"Tidurlah mas, ini tinggal dikit lagi kok."
Adnan mengeleng , Adnan masih membantu istrinya untuk mengelap piring yang telah selesai dicuci.
Selesai dengan semuanya , akhirnya Hilya masuk kedalam kamar, Adnan mengekor di belakangnya.
Natanya menjelajah di setiap peralatan sang istri yang sudah tak pernah di kenakan, saat Adnan hendak berdiri matanya menangkap sesuatu yang sangat mustahil di dalam laci.
Tangan Adnan menarik keluar laci meja rias itu, sesuatu yang Adnan lihat tadi sekarang terlihat sangat jelas, Adnan mencoba menghalau perasaannya. tanganya mencoba meraih sesuatu yang membuatnya merasa tidak percaya.
Tampak sesuatu itu sudah tidak utuh, terlihat beberapa sudah hilang dari tempatnya. apa ini ?? kenapa ini ada dilaci istrinya?? dan harinya bahkan posisi pil itu tepat dihari ini.
Hilya keluar dari kamar mandi tampak lebih segar, wanita itu berjalan menuju tempat tidur, namun tanganya tiba-tiba ditarik oleh Adnan.
Adnan: "apa ini??....apa ini milik mu? tolong katakan bahwa ini milik pasien mu atau pun teman mu Hil!! tolong katakan bahwa ini bukan milik mu!! katakan Hil, katakaaaan!!"
Hilya menarik nafasnya dalam, Adnan telah mengetahui apa yang selama ini dia coba sembunyikan, tidak ada alasan lain selain mengakui semuanya, mungkin ini sudah saatnya Adnan tahu.
"Itu milikku". aku Hilya datar tak tampak sebuah penyesalan di wajah nya.
"Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dariku Hil?? Astaghfirullah.... bagaimana bisa jadi jika sekalinya kamu sendiri lah yang tidak menginginkan nya.."
Hilya terseyum mengejek. "Bahkan aku baru mengonsumsi nya saat kamu telah menikah lagi!!"
Adnan mendongak dengan tatapan terluka.
"kenapaaa?? bukankah itu impian kita?? bukankah kita sama-sama menginginkan nya??".
Hilya terseyum namun air mata itu keluar dari kedua matanya.
"Iya aku memang menginginkan nya, tapi itu dulu, saat aku masih menjadi satu-satunya untuk mu, saat aku bukanlah prioritas utama mu aku sudah tak menginginkan nya lagi."
Adnan berdiri dengan wajah penuh amarah , ditariknya kasar tangan Hilya menuju ruang keluarga.
"Kakek!!!"