Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
91.Keadaan



Ku tegarkan hatiku untuk tetap melangkah memasuki ruangan sahabat karib ku.


Meski kuyakin Hilya menyadari kehadiran ku, tapi netranya tak beranjak dari wajah suaminya.


Aku melihat Anton dengan berbagai macam alat bantu.


Aku mencoba untuk mengajak Hilya berbicara.


Aku berdehem, menetralkan rasa gugupku.


" Hil!!" lirih ku memanggilnya.


Tak ada sautan dari mantan istri ku itu.


" Kamu pasti sudah mengetahui semua yang terjadi, " sebagai suami dan menantu aku memohon maaf atas nama mereka, aku tau begitu besar kejahatan mereka pada kalian.


Hening.


Hilya sama sekali tidak menanggapi kata-kata ku.


ku hembuskan nafasku pelan.


" Rena meninggal dunia Hil, sedang mamanya kehilangan kedua kakinya, Sadewo masih koma." ucapku menjelaskan.


Hilya tampak memejamkan matanya rapat, mungkin menghalau perasaannya atau sedikit berbelasungkawa.


" Tolong berikan maaf mu Hil, setidaknya biarkan Rena tenang dialam sana.. " ucapku lirih.


" Aku akan memaafkan semua asal suamiku sembuh, tanpa cela, tapi jika suamiku sembuh dengan adanya sedikit saja cedera yang membuatnya kesusahan dalam hidup, sampai mati pun aku tak akan membuka pintu maafku untuknya." suara Hilya sarat akan kesedihan.


kata-kata yang diucapkannya begitu penuh penekanan.


" Sayang..... jangan tinggalkan aku..sayang kita sudah tidur siang tadi, masak kamu tidur lagi? aku dan putri kita lapar!!".


Hancur luluh lantak perasaan ku, menyaksikan bagaimana cara mantan istriku membelai lembut wajah Anton. Mata itu terlihat begitu terluka, hidung mancungnya merah, matanya menyipit entah berapa lama dia menangis.


Sebegitu cintakah Hilya pada Anton??" tak adakah sisa cintanya untuk ku??" aku tidak sanggup menahan sesak didada melihat pemandangan pasangan di hadapan ku ini.


Tiba-tiba aku mendengar suara seperti seorang yang mendengkur.


Aku menyaksikan Hilya memasukan selang kedalam tengorokan suaminya yang mengeluarkan banyak darah. Tangan itu bergetar mengeluarkan darah yang menyumbat pernafasan suaminya..separah itu kah keadaan Anton??.


Beberapa saat masuk dua orang kedalam ruangan kamar Anton, sepertinya mereka adalah seorang dokter.


Ku dengan mereka meminta Hilya beristirahat sejenak, air mata itu tak kunjung berhenti mengalir.


Aku diminta keluar oleh suster, keadaan pasien memburuk itu yang dapat ku tangkap di telinga ku. sebelum keluar aku sempat melirik lagi mantan istriku, mata itu tak pernah berpaling dari wajah suaminya, membuatku sadar Hilya sudah benar-benal mencintai Anton. sudah tidak ada harapan untuk ku lagi, kini dalam hati aku hanya dapat berdoa semoga Anton dapat segera sembuh, aamiin.


Adnan POV end.


Dua hari berlalu Hilya tak pernah meninggalkan suaminya, kedua orang tuanya langsung pulang ketanah air mendengar Anton kecelakaan.


Kedua orang tua Hilya menuntut hukum untuk mama Rena dan anaknya tidak perduli meski mereka baru saja siuman.


Sedangkan dari keluarga Adnan semua kini berkumpul di rumah sakit, tidak terkecuali kakek adnan, pria tua itu tidak dapat menyembunyikan rasa sedihnya.


Mereka memohon keringanan untuk mama Rena dan putranya, mereka meminta belas kasih agar mama Rena dan putranya dirawat sampai sembuh dulu baru di bawa ke kantor polisi.


Sedangkan Adnan tidak berani hanya sekedar menatap muka kedua mantan mertuanya, Adnan terlalu malu dengan segala kelakuan keluarga nya.


Beberapa kali kakek Adnan ingin menemui Hilya, tapi kedua orang tua Hilya tak sekalipun mengizinkan, Mama dan Papa hilya terlalu kesal dengan pria tua itu.