
Setelah perdebatan yang dilakuan Anton dan sang dokter akhirnya brangkar anton di bawa menuju ruangan dimana sang istri dirawat.
Sebenarnya Anton ingin memakai kursi roda saja, namun mengingat sebagian banyak tubuhnya memakai perban membuatnya menuruti perintah Dokter.
Sedangkan diruangan dimana Hilya dirawat sebagian wajah itu menampakkan kelegaan, Alhamdulillah pendarahan yang di alami oleh Hilya tak membahayakan kandungnya.
Ini disebabkan faktor setres dan kurangnya istirahat.
Di sini lah Anton berada tidur di brangkar yang sama dengan sang istri.
Setelah membikin gempar tangis haru biru didepan pintu kamar istri nya, Anton akhirnya bisa masuk kamar istrinya dengan di iringi Isak tangis kebahagiaan mereka.
Kini tinggal Anton dan Hilya yang berada di dalam ruangan itu.
Hilya belum sadarkan diri hampir dua jam lamanya, sedang Anton begitu merindukan binar mata sang istri.
Anton memang belum bisa banyak bergerak, mengingat banyaknya luka luka di sekujur tubuhnya.
Itu yang sempat membuat Anton mengerutu karena dirinya bak seperti mumi di Piramida Mesir.
Anton terseyum, keadaan seperti ini pernah terjadi di kehidupan mereka sebelum nya.
Namun beda nya saat itu Hilya akan bergi dari hidupnya dalam keadaan hidup sedangkan dirinya hampir pergi meninggalkan istrinya dalam keadaan tak bernyawa.
Namun momenya tetap sama kan? , terbangun di dalam pelukan seseorang yang akan meninggalkan nya, kalau saat itu dirinyalah yang hancur karena hendak ditingakan, kini posisi itu terbalik .
Nata sembab wanita dihadapannya itu mulai bergerak, membuat bibir Anton tertarik keatas.
Hilya mengerjab kan matanya, netra itu bertubrukan dengan netra lembut suaminya.
" Assalamualaikum zawjati"
Hilya menangis, disela isaknya Hilya menjawab salam suaminya . "falaykumalm zawji"
Hilya tau ini bukanlah mimpi, karena Hilya bisa merasakan kram di tangan sebelah kiri nya akibat ditindis sang suami.
" Sayang......!!"
" Mas Anton??".
" Maaf".
" Dimaafkan".
Mereka saling tersenyum.
" Aku jadi jelek begini!!" ucap Anton dengan memerhatikan tubuhnya yang banyak di perban kain kasa
" Aku tetap cinta" ucap Hilya menatap lekat suaminya.
Anton terseyum.
" Hmm??"
" Tangan kiri ku kram".
Anton sedikit bingung dengan ucapan Hilya, namun sedetik kemudian dia sadar maksud istri nya, karena dia merasa pinggang nya menindis sesuatu.
Anton sedikit bergeser, pria itu menatap lekat istri nya..." Maaf".
Hilya tersenyum dengan derai air mata.
" Jangan menangis terus yang!! lihatlah matamu udah bengkak begini.." nasehat Anton dengan mengelus lembut kedua mata istri nya.
" Mau bagaimana lagi...aku hampir kehilangan harapan untuk melanjutkan hidup ku" ucap Hilya dengan bibir bergetar.
" Allah masih memberikan mas kesempatan untuk menjadi seorang suami dan a6yah untuk putri kita, Alhamdulillah..."
Hilya terkekeh kecil.. " Mas tidak baik meng klaim anak kita sebagai putri sedangkan kita belum mengetahui pasti jenis kelamin bayi kita."
Anton meringis saat hendak mengangkat tanganya dengan tiba-tiba.
Hilya hendak bangun, namun dicegah oleh Anton
" Biar aku bantu mas!!"
" Tidak perlu, ini karena baru belajar bergerak jadi ngilu dikit." ucap Anton menenangkan Hilya.
" Masss..... terimakasih..."
" Your Wellcome"
" Mas aku mencintaimu"
" Aku pun mencintai kalian" ucap Anton serius.
" Mas, sebenarnya... kecelakaan yang kita alami itu sudah di rencanakan".
" Direncanakan??" tanya Anton bingung.
Hilya mengangguk.
" Sebenarnya yang mereka incar adalah nyawaku, mereka ingin aku meninggal dunia, tapi mas Anton menyelamatkan nyawa ku."
" Siapa yang ingin membunuh mu yang!!'
" Rena dan mamanya mas!!"
pernyataan Hilya membuat Anton terdiam