Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
154.Sepasang telinga



Zizi sedang membantu didapur bersama Umi Anton, kelembutan Umi Anton membuat Zizi begitu cepat akrab.


" Umi saya mohon maaf atas segala perbuatan IBu!!" Zizi berbicara hati-hati, takut ucapan nya justru membuka luka lama


Sudahlah nak, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, semua sudah berlalu, terlalu pait untuk di kenang, Namun InsyaAllah kami akan selalu mencoba mengiklaskan memaafkan Ibu mu!!" ucap Umi Anton lembut dengan senyum yang begitu menenangkan.


"Umi ada yang ingin Zi sampaikan, ini menyangkut Ade Zi Umi Zahfran, maaf Umi sepertinya Zahfran ingin mengkhitbah Dini, mohon maaf Umi sebagai Kaka Zi turut senang Zahfran menyukai seseorang, tapi sebagian hati Zi merasa sangat sedih karena kami bukanlah keluarga yang pantas untuk bersanding dengan keluarga Umi, terlebih Umi mengetahui bahwasanya Zahfran memiliki gangguan m...."


"Nak!!" Pangilan umi Anton menyela penjelasan Zizi. "Siapapun kalian, apapun ujian yang kalian hadapi, bukan hak kami untuk melarang kalian ber angan dan meraih keinginan, jika memang Zahfran datang pada Umi dan berniat meng khitbah Dini umi dengan tangan terbuka menyambutnya, "Ahlan wa sahlan" siapapun berhak mendapatkan kesempatan untuk menggapai keinginan nya bukan??" ucap umi Anton terseyum.


Zizi terharu dengan ucapan Umi Anton, Zizi tak menyangka keluarga Anton tidak hanya baik tapi juga sabar dan pengertian.


Sedangkan tanpa sepengetahuan mereka, ada sepasang telinga yang turut mendengar kan pembicaraan mereka. sebelum sepasang telinga itu menjauh bibir ranum mengulas senyum begitu manis.


________________


"Sayang!!"


Wanita yang sedang memompa ASI itu menoleh


"Iya mas, ada apa??"


"Yang sudah hampir tiga bulan Umi, mba Zi, dan Zahra tinggal bersama kita sudah sejak beberapa hari aku tu ingin tanya Lo sama kamu, apa kenyamanan dan perasaan sayang tidak terganggu??"


" Mas kok gitu ngomong nya?? mereka juga keluarga Kita, kehadiran mereka sangat berarti buat aku !!"


"Yang aku hanya ingin memastikan kenyamanan kamu dan Khansa putri kita." ucap Anton sambil mengelus lembut pipi Hilya


" Aku merasa nyaman mas, sangat nyaman, umi dan mba Zi begitu perhatian sama aku dan Khansa, mas jangan khawatir yaa!!" ucap Hilya dengan senyum mengembang


"Sebentar lagi kali mas, masih sore ini!!"


Panjang umur yang di tunggu tak lama menelpon, memberi kabar tidak jadi mengambil laptop.


Hilya melihat suaminya kembali meletakkan ponselnya.


" Zahfran gak jadi ambil laptop katanya!!"


" lhoh kenapa??"


"Ada urusan katanya"


Hilya hanya mengangguk.


"Yang udah waktunya buka belum sih Yang, aku sebenarnya udah gak tahan banget Lo ini!!" ucap Anton sambil menatap bagian yang tengah di pompa ASI.


Hilya menyerengit. " buka?? buka apa mas??" tanya Hilya bingung


" Buka puasa atu Yang!! udah hampir 4 bulan Lo yang jiwa ku merana!!" ucap Anton dramatis membuat Hilya terkekeh geli.


Hilya meletakkan pompa asi segera menyimpan beberapa kantong plastik yang terisi ASI kedalam Frizer dan bergegas duduk di samping Suaminya


" Kenapa gak bilang kalo mau?? mas tau sendiri kehidupan kita baru dua Minggu tenang di rumah, byasanya kita selalu bolak balik rumah sakit, maaf ya mas kalo aku kurang merhatiin mas Anton, maaf jika mas merasa kurang perhatian dan terabaikan, sungguh gak ada niat aku melupakan tanggung jawab sebagai seorang istri, hanya saja mungkin aku kurang pandai mengatur waktu untuk mas." ucap Hilya mengecup lembut pipi Anton, binar indah itu tampak menggambarkan penyesalan


Mendengar kalimat yang diucapkan Hilya, Anton jadi merasa bersalah!!, ucapan istri nya benar adanya, waktu mereka dihabiskan untuk mengurus si kecil dan juga kesembuhan Hilya Anton jadi merasa egois akan keinginan kebutuhan biologis nya padahal jelas kesibukan istrinya begitu menguras waktu dan tenaga mana sempat memikirkan persoalan nafkah batin