Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
165.Khawatir



Dini gelisah di teras rumah, ada kabar mengatakan Mariani tewas karena penusukan empat jam yang lalu, kejadiannya naas itu terjadi satu jam setelah Zahfran keluar dari kediaman Anton


Dan hingga kini baik kabar ataupun pelaku pembunuh yang menewaskan Mariani belum juga di ketahui keberadaan nya


Ada saksi mata mengatakan pelaku penusukan adalah seorang pemuda berparas tampan, memakai baju kaos bawahan denim yang senada dengan warna topinya


Jantung Dini berdedup, karena ciri-ciri itu sangat mirip apa yang di kenakan Zahfran sebelum tragedi pembunuhan itu terjadi, bolehkah Dini menduga-duga?? apa mungkin pria yang memiliki ciri-ciri mirip Zahfran itu justru memang Zahfran?? apa mungkin Zahfran pelakunya??


" Dek'." Anton menghampiri adek nya


Dini berusaha tersenyum "ada apa A??"


" Kita temani Mba Zi mengurus jenasah Ibunya yuk!!" ajak Anton


Dini menatap sendu sang Kakak


" A!! apa mungkin ini ada hubungannya dengan Zahfran? Dini takut A! hik, hik.. " Dini mulai terisak, terlalu takut itu yang di rasakan Dini


"Aa juga belum tau Dek!! tapi semoga saja bukan Zahfran orang nya!!" Anton pun tak mau mengatakan apapun, karena dirinya memang benar tidak tahu siapa pelakunya, ditambah dengan perginya Zahfran juga bersamaan dengan musibah ini dan lagi ciri-ciri pelaku penusukan mengarah pada sosok Zahfran, karena baik Dini maupun dirinya tau pakaian dan topi yang Zahfran kenakan


Saat menghampiri Zi di kamarnya, Umi Anton juga terlihat begitu panik


" Umi!!" seru Anton dan Dini bersama an


" Ton!! ketuban Zi pecah, tapi Umi juga heran karena tidak hanya ketubannya yang pecah Ton, tadi saat Umi akan membantu Zi membuka bajunya untuk ganti, darah ikut mengalir bersama ketuban, ayo kita bawa Zi kerumah sakit cepat!!"


Anton, sendiri langsung menghampiri Zi kekamar, biar bagaimanapun dirinya juga seorang Dokter


"Din panggil kak Hilya kasihtau Mba Zi mau melahirkan!!"


Zi yang melihat darah mengalir dari sela kaki Zi tergagap


" I iya kak!"


" Cepat nak!! Umi takut terjadi sesuatu!!" tambah Umi Anton pada putrinya


Dini berlari ke kamar kakaknya memberi tahu kepada Hilya


Tak berapa lama Hilya langsung turun


" Sayang kita langsung ke Rumah sakit, sebelum sampai kamu pantau dulu keduanya Yang!! aku rasa ada yang tidak beres!!"


Hilya mendekati tubuh Zi yang begitu lemah


" Mba, apa sebelumnya tidak merasakan kontraksi??" tanya Hilya sambil menempelkan Stetoskop dan memeriksa Zi


"Tidak, tadi sehabis mandi hanya terasa dingin hingga ujung kaki!!" Zi menjawab lemah


" Ini sudah HPL kan Mba??"


" IYa, tapi saya sudah tak merasakan kontraksi sejak semalam dan pergerakan bayi juga tidak terasa" Zi semakin lemah


"Astaghfirullah!! Mas kita bawa mba Zi sekarang juga, denyut nadi dan jantungnya semakin lemah, mas gendong!! biar aku yang bawa mobil!!"


Mereka bergegas menuju rumah sakit, sedangkan Dini tidak Tutut ikut karena menjaga baby Khansa


" Yang!! Aku sudah menghubungi rekan kita untuk menyiapkan segala sesuatu sebelum kita sampai, semoga keduanya baik-baik saja"


Anton berbicara sambil menahan kepala Zi agar tak terlalu menunduk


" Ton!!, Umi!!" Zi berkata dengan suara lemah


" IYa Mbak??


" Ada apa nak??


Jawab Anton dan uminya bersama an


" Aku tidak akan kehilangan calon anak ku kan??kenapa waktu Hilya memeriksa perutku tadi menangis??"


Anton bungkam, sedang Umi Anton ikut melihat Anton dan Hilya yang membisu


" Jangan terlalu berfikir dulu Mba, sekarang yang terpenting kita cepat sampai di rumah sakit, Mba Hilya dan saya sudah tidak aktif lagi sebagai Dokter, jadi ..."


Kalimat Anton terputus saat sekilas melihat Zahfran yang berhenti di lampu merah , Zahfran masih mengenakan baju yang sama hanya saja Ya Allaaaaah!!