
Hilya mengusap peluh di keningnya. 2 jam lamanya Hilya berkutat dengan peralatan tempur untuk membersihkan tempat tinggal Anton.
Meski Pria itu terus mengusir dan memaki, Hilya tak ambil pusing, toh Hilya berfikir bahwa saat ini Anton sedang tidak dapat mengingat siapa dirinya.
Ruangan sempit itu kini berubah menjadi luas, semua telah tersusun rapi, Hilya menatap bungkusan makanan yang tadi sempat di berikan oleh Elsa. Meski lapar Hilya akan membersihkan diri terlebih dahulu.
Hilya melirik Anton, bagaimana kira-kira Anton mandi tanpa bantuan siapapun. Hilya mencoba mendekati Anton.
" Apa Loe tidak berniat mandi??". Hilya melihat sepertinya Anton mulai gerah, terlihat keringat yang membasahi bagian punggung Anton.
Hilya adalah seorang Dokter. Hilya jelas tau cara menangani pasien dengan benar dan sabar. Hilya juga tidak menyentuh kursi roda Anton sembarangan. Hilya takut Anton tersinggung.
Anton yang dari tadi mengomel sepertinya cukup lelah hingga dia tak lagi memaki Hilya. pria itu tiba-tiba berdiri dari kursi rodanya.
Hilya cukup kaget mengetahui bahwa Anton tidak lumpuh. Namun di waktu bersamaan Hilya juga bahagia setidaknya keadaan sahabatnya tidak dalam kondisi di titik terpuruk.
Anton seperti meraba-raba, Hilya bisa melihat Anton sedang menghitung langkah, Hilya merasa Anton sedang mulai menghafal lingkungan dalam rumah ini.
Hilya terseyum, melihat Anton sampai di depan kamar mandi. Namun tiba-tiba Hilya dikejutkan dengan suara Anton.
" Bisa kau ambilkan handuk untuk ku?? karena kau telah mengacak dan mengacau rumahku hingga rasanya aku tak menemukan rintangan apapun di setiap langkah ku."
" Loe sedang memuji atau menghina?? gue rasa ucapan loe mengandung kata rasa terimakasih. "
ucap Hilya sok ketus, meski dalam hati Hilya begitu bahagia melihat Anton yang bicara dan meminta tolong padanya.
Meski cara Anton berkata sedikit ketus, tapi Hilya dapat mengerti makna tersirat dari ucapan Anton.
"CK' " Anton berdecak dan masuk kedalam kamar mandi.
Hilya segera mengambil handuk dan menyiapkan baju ganti untuk Anton.
" Ton!! gue gantung disini ya handuk Loe!!" ucap Hilya dari balik pintu.
Beberapa saat kemudian Anton telah keluar dari kamarmandi hanya dengan Makai handuk.
Hilya menoleh menghadap ke arah Anton.
Hilya gugup luar biasa menatap dada Anton yang tak tertutup baju. kenapa aku gugup sekali?? ucap Hilya dalam hati.
Anton meraba mencari tempat tidur, Namun karena tersandung kursi rodanya Anton hampir terjungkal, dengan spontan Hilya sigap menopang tubuh Anton.
Hingga tak sengaja mereka jatuh bersamaan, tangan Anton tepat memegang dua gundukan kembar Hilya. sedang hidung Hilya menempel di bagian pundak Anton.
Hilya tersentak kaget dengan apa yang terjadi, sedang Anton yang meskipun buta pasti dapat merasakan dan mengerti apa yang sedang digenggamnya itu.
"Maaf" wajah Anton memerah karena merasa malu bahkan rona merahnya menjalar hingga telinga. begitupun Hilya rasa terkejut dan malu menjadi satu, bahkan aroma tubuh Anton yang wangi sabun karena sehabis mandi seolah membekas di penciumannya.
Hilya membantu Anton berdiri, belum selesai satu masalah timbul lagi masalah baru, tanpa disadari keduanya, handuk Anton terlepas dari lilitan nya. membuat tubuh Anton neked atas bawah.
Hilya yang terkejut hanya mampu teriak histeris.
membuat Anton menyerengit bingung. Hilya yang menyadari kebingungan diwajah Anton memejamkan matanya.
"Maaf Ton!! anu..itu.. handuk Loe jatuh."
Mata Anton membola.. dengan cepat dia menutup anunya..
Hilya menahan malu mencoba memungut handuk Anton dan segera memberikan ketangan Anton.
"Gue keluar dulu" dengan cepat Hilya lari keluar kamar Anton .