Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
139.Mariani berulah



Author tadinya mau mudik pembaca, rindu pulau Jawa, sayang seribu sayang persiapannya gagal total karena banyak persyaratan sebelum terbang, alhasil tak jadi pulang kampung hehehe, bagi yang senasib sama author saling bersabar semoga tahun depan pandemi sudah tak ada lagi..


**********


Terkadang ketika ada seorang yang meninggalkan kita, Allah juga pasti akan mengantikan seseorang lain di hidup kita


Seperti yang dialami Anton, hilangnya sosok seorang ayah sejak lama, kini di gantikan sosok baru, yang mengantikan posisi Abahnya, yang telah lama mengabaikannya.


"Papa yang akan berangkat ke Medan, sekali lagi Papa himbau jangan keluar dari rumah tanpa pengawal, Hilya juga akan ditangani Dokter khusus di rumah, sekarang kalian tinggal bersiap, Papa SDH siapkan segala sesuatu sebelum meninggalkan kalian"


"Apa aman untuk di kecil jika dirawat di rumah Pa?? maaf Pa!" tanya Anton sopan


"Papa sudah bilang, semua Sudah Papa urus, berarti Dokter spesialis anak pun sudah papa persiapkan!!"


"Ton, Papa menitipkan ketiga wanita berharga Papa padamu, ingat Janga....


...BRAK..


Suara gebrakan pintu membuat semua menoleh, Mariani dengan berlumuran darah mengacungkan sebuah pistol kearah Hilya, membuat mereka semua terkejut.


"Bu jangan Bu!!" suara itu berasal dari balik badan wanita itu, mama Hilya dan Umi Anton di todong sebuah pisau dengan preman yang datang bersama Mariani.


"****," umpat Papa Hilya, kenapa anak buahnya terlambat??.


"Bu!! aku bilang jangan Bu!! jika Ibu tembak kearah wanita itu, jangan salahkan aku jika peluru inipun menembus kepala Ibu!!"


Sosok tampan itu muncul dari belakang tubuh Mariani


Zahfran, pemuda itupun datang dengan berlumuran darah.


Zahfran menghalangi Hilya dengan tubuhnya, terlihat luka lebam memenuhi wajah tampan Zahfran, sepertinya sebelum sampai disini, Zahfran pun mengalami kesulitan yang luar biasa.


Mendengar kalimat yang diucapkan oleh Mariani, semua merinding, bagaimana ada seorang ibu yang akan tega menembak putranya sendiri??


"Sebenarnya apa yang anda inginkan??" Anton melangkah mendekati Zahfran yang sepertinya sedikit hilang fokus, Zahfran beberapa kali mengelengkan kepalanya.


Dini pun melihat hal yang sama, tubuh Zahfran seperti bergetar, lama kelamaan tubuh itu mundur dan mundur hingga menabrak brangkar Hilya, pistolnya jatuh, kedua tanganya mulai terangkat dan menutupi telinganya, matanya terpejam rapat, dan air mata mulai menitih


"Aku tidak gila!! aku tidak gila!! tolooong!! aku tidak gilaaaa!! tolooong!!" suara itu bergetar, Zahfran kambuh lagi, pria tampan itu memiliki gangguan kecemasan , selama ini penyakit itu tidak kambuh karena dirinya selalu memakai obat terlarang yang membuatnya selalu tenang


Namun, tidak untuk hari ini, Zahfran tidak sama sekali mengkonsumsi obat haram itu, sepanjang hari Zahfran sibuk menjaga Hilya, dan hari ini dirinya mengalami kejadian yang begitu menguras emosi nya.


Mariani terpaku, melihat apa yang dialami Zahfran, bingung, dan kaget menjadi satu, wanita itu lengah, dan kesempatan itu tak di sia-sia kan Papa Hilya, dengan cepat Papa Hilya menepis pistol yang di pegang Mariani


Membuat mariani tersadar dan terkejut, Papa Hilya, menendang tulang kering Mariani, membuat Mariani teriak kesakitan dan jatuh terduduk di lantai. Dengan sigap Anton mengambil alih pistol Mariani dan menodongkan senjata api itu ke arah sang pemilik


Sementara, Zahfran masih meracau tidak jelas, pria itu seperti kesakitan dan ketakutan, Hilya yang melihat dari belakang tubuh Zahfran memberi himbauan.


"Tolong tenangkan pemuda itu!!"


Anton yang akan melangkah maju, namun didahului oleh Dini.


Dini berlari mendekap tubuh Zahfran.


Membuat semua terkejut, termasuk Risqi.


"husssttt.. Hai tenang!! cup, cup, cup..


tidak papa, kamu tidak gila, kamu oke, buka matamu, lihatlah disini tidak terjadi apa-apa!! cup, cup, cup" Dini dengan telaten menenangkan Zahfran, tidak ada rasa risi, tidak takut dengan keadaan Zahfran yang seperti orang gila, Dini terlihat tulus menenangkan pemuda yang bahkan tidak dikenalnya.