
Hilary tak kunjung keluar kamar mandi,membuat Adnan sangat khawatir, Adnan kembali menghubungi seseorang yang selama ini selalu membantunya, mempersatukan Hilary dan dirinya, sahabat nya sedari dulu.
Panggilan Adnan akhirnya terjawab, terdengar suara seorang yang tengah menggoda , perihal ke pergiannya ke Kalimantan, Anton mengira Adnan dan Hilary kekalimantan untuk berbulan madu.
Adnan memohon bantuan Anton untuk menyusul nya kekalimantan, Anton yang baru keluar dari ruang operasi itu, bingung dengan permintaan Adnan.
{"Bukankah Loe sedang bulan madu sama Hilya..?? trus ngapain gue kesana??, Loe suruh gue jadi obat nyamuk.haa...??" } tanya Anton di sebrang telpon. karena Adnan teramat malas menempelkan ponselnya ditelinga, jadi Adnan mengaktifkan Speaker.
{"Ada masalah sedikit Ton!!, bisa kamu kasih aku solusi, Dan jalan keluar..?? Tapi masalahnya ,, Aku gak bisa kasih tau lewat telepon Ton!!."}
{"Dan aku berharap sekarang juga kamu cari tiket ke Kalimantan timur dan segera terbang ke Balikpapan."}
{"Loe Gilaa Broo...!! gue baru bernafas dari ruang operasi, sekarang Loe minta gue take off kesana...?? ya Tuhaaaaan ada apa sebenarnya dengan mu Naaaan...???"}
{"Aku butuh kamu.. ini menyangkut tentang pernikahan ku dengan Hilya yang sepertinya terancam hancur sebelum berkembang Ton, Bahkan Hilya tidak mendengarkan dan menghiraukan diriku, sudah dari tadi dia berada di kamar mandi, Dan aku terlalu pengecut untuk mendobrak pintunya."}
Anton diam, tak ada kata kata yang keluar dari sebrang sana.
Beberapa detik tak ada pembicaraan diantara mereka, hingga akhirnya Anton bersuara.
{" Oke gue brangkat sekarang!!, ini gue udah nemu tiket penerbangan 1 jam 45menit dari sekarang, lakukan apapun agar Hilya keluar dari kamar mandi, lebih cepat lebih bagus , share lokasi Loe saat ini, gue langsung menuju bandara." } ucap Anton dan setelahnya panggilan terputus.
Adnan melangkah mendekati kamar mandi, kali ini Adnan mulai menggedor gedor pintu kamar mandi, masih tak ada jawaban dari dalam.
Adnan berancang-ancang untuk mendobrak pintu, Hilyaaa menjauhlah dari pintu saya akan mendobrak pintunya, Dan jika kamu mau membukanya saya harap sebelum hitungan ke sepuluh.
"Sayaaaaang!! saya benar-benar akan mendongkrak pintunya, mas harap Hilya tidak berada di dekat pintu." ucap Adnan lebih keras.
Namun lagi lagi tak ada jawaban apapun dari dalam.
Adnan mundur beberapa langkah hingga akhirnya membenturkan lengan dan tubuhnya kearah pintu.
Namun belum membuahkan hasil, Adnan kembali menambah tenaga nya,dan melangkah lebih jauh, Dan melakukan lagi membenturkan badanya, hingga ke 5 kalinya usaha Adnan berhasil.
Adnan berlari menuju tempat dimana Hilary berada, Dan betapa terkejutnya Adnan melihat Hilary yang tergeletak di lantai dengan shower yang menyiram tubuh yang tak tertutupi benang sedikit pun.
Adnan segera mematikan air shower, mengambilkan handuk dan jubah mandi untuk Hilary, wajah cantik itu terlihat sangat pucat.
Tampak bibir yang terluka dan mengeluarkan darah segar, Adnan rasa Hilary sengaja menggigit bibirnya agar meredam suara tangisnya.
Dan jangan lupakan mata Hilary yang tampak bengkak, Adnan membopong tubuh istrinya keatas ranjang.
Sakit hati Adnan , lagi lagi menyakiti istrinya yang selama ini setengah mati ia perjuangkan, Namun apa yang ia lakukan setelah mendapatkan Hilary setelah bertahun-tahun.
Justru, Adnan melukai batin istrinya, dan kini bahkan karenanya, Hilary terluka fisik pula.
Tangan Adnan bergetar, mengelus bibir Hilary yang sedikit membiru itu, ada bercak darah yang masih menempel, pasti tadi Hilary menggigit bibirnya dengan kuat dan berkali kali.
Andai saja tadi Adnan tak menghubungi Anton, entah apa yang terjadi pada Hilary, bisa jadi saat Adnan mendongak pintunya sejam atau 2 jam yang akan datang Adnan bisa kehilangan selamanya istri yang sangat Ia cintai.