Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
189.Sedih



Kaki Hilya menapaki ruangan dimana suaminya berada


Hilya menutup pintu tanpa suara guna tak ingin menganggu suaminya yang tengah meringkuk di pembaringan


Tungkai nya melangkah, mengayun mendekati tubuh yang meringkuk bak sebuah janin


Hilya tau, Anton menyayangi nya, mencintainya kepercayaan yang Hilya berikan untuk Anton begitu mendarah daging, itu yang membuat Hilya tak mempercayai segala perselingkuhan yang Anton dan Dini rekayasa untuknya, meski hanya sekilas melihat puluhan foto yang Anton buat sedemikian rupa agar terlihat seperti perselingkuhan nyatanya hati seorang istri tak dapat di bohongi, Hilya justru curiga bahwa ada sesuatu yang menimpa suaminya, dan nyatanya itu benar, hingga kini rumah sakit adalah rumah kedua untuk Anton


Bulir bening tak lagi menghiasi wajah ayunya, Hilya duduk manis memerhatikan setiap inci wajah Anton


Sebagian hati Hilya begitu ingin Anton sembuh dan semangat melakukan pengobatan, sebagian hatinya lagi begitu tersayat melihat suaminya yang kian melemah efek kemoterapi


" ya Allah mas, sebenarnya aku hanya ingin segala kebaikan untuk mu, aku masih membutuhkan bimbingan mu mas, begitu pula putri kita, tapi melihat keadaan mu yang kian menderita aku pun tak tahan melihatnya, aku harus apa mas??"


" YANG!!" Anton mengigau memanggil Hilya, membuat Hilya terseyum getir


" Mas Anton, ini aku mas!!" bisik Hilya lembut


Mata yang awalnya terpejam itu mulai terbuka, memperlihatkan manik sayu yang sedikit redup


" Sayang??" Anton mengangkat tangannya guna meraba wajah istrinya


Hilya menangkap tangan itu dan mengecupnya berkali-kali


" Kita bersiap Pulang" bisik Hilya lagi


Wajah Anton berbinar


" Sayang dari mana?? mas khawatir!!" Anton mengengam erat jemari istri nya, berkata lirih dengan mata memelas


" Cari angin!!" jawab Hilya asal


" Mas menyakitimu??" tanya Anton


" Tidak, nyatanya mas menyakiti diri mas sendiri!!"


" Aku minta maaf!!"


" Mas'!!"


" Ya sayang??"


" Aku suka mas Anton menyebut diri, "mas" dari pada aku!!"


Anton terseyum.


" Baiklah, akan mas ulangi!! mas minta maaf!!"


" Bisa gak sich mas, kita optimis bahwa mas Anton akan sembuh?? apa mas Anton tidak ingin lebih lama lagi mendampingi aku dan Khansa??"saat pembahasan begini Hilya begitu terlihat rapuh, seberapa kuat Hilya menahan desakan air matanya, nyatanya air matanya tetap mampu menerobos keluar dan mengalir


Anton tidak berbicara tapi bibirnya mendarat lembut di kening sang istri


" Aku masih sangat membutuhkan mas Anton!!" setelah mengucapkan itu Hilya mengeratkan pelukannya pada tubuh suaminya


" Mas mau berobat ke luar negeri!!" tiba-tiba Anton berbicara di atas kepala Hilya


Hilya mendoangak seolah mencari kebenaran dari ucapan Anton


" Mas' Anton Beneran??" Hilya bertanya dengan air mata mengalir deras


" IYa!! " Anton menganguk antusias


Tangis Hilya pecah di pelukan Suaminya, Anton mengecup berkali-kali puncak kepala istri nya


ku harap di sisa usiaku aku bisa membuatmu bahagia Yang!! aku bukanya tidak mau berobat di mana kamu rekomendasikan, tetapi bagiku dimanapun aku berobat jika Allah menakdirkan aku sembuh, di sini pun aku berobat aku akan sembuh!!


" Mas' jadi kapan mas siap berangkat??" tanya Hilya membuyarkan monolog Anton dihatinya


"Setelah mas bisa menanam benih!!"


" Maksudnya??" tanya Hilya menatap bingung


" Di sini!!" tangan Anton mengelus lembut perut rata istri nya


Hilya terseyum


" Boleh!! Hilya menjawab penuh semangat


" Dua Minggu lagi!!"


Hilya menyerengit


" Setelah dua Minggu lagi, ada harapan benih yang ku tanam akan tumbuh nantinya!!" tambah Anton memecah kebingungan Hilya


Hilya mendesah cemas, kini ada rasa sesal di hatinya telah melakukan progam KB, kini karena nya suaminya harus menanti begitu lama hanya karena menanti obat itu tak lagi berfungsi


" Tapi mas itu masih terlalu lama!!"


" Mas tau, tapi untuk saat ini mas juga belum bisa kan!! mas harap satu Minggu kedepan tubuh mas bisa semakin bugar ya!!"


Hilya menatap sedih Suaminya, dulu aktivitas yang tengah mereka bicarakan ini bisa di lakukan Anton kapan saja diwaktu senggang nya gak perduli waktu, tapi lihatlah sekarang, hanya ingin sekedar berjimak saja Anton membutuhkan waktu berhari-hari untuk menyiapkan tenaganya dan lagi ada keraguan di hati Hilya apa suaminya mampu bertahan di rumah selama dua Minggu tanpa perawatan intensif??