
Adnan keluar kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi, meski pandangan Anton kosong tapi gurat gelisah terpancar diwajahnya.
Hilya mengalihkan perhatian nya dari ponsel, dengan cepat Hilya bergegas menghampiri sang suami.
Anton cukup terkejut saat Hilya menunggu nya.
" kenapa kamu belum tidur??".
" Apa mas sudah baikan??".
Anton menyerengit. " apanya yang sudah baikan??".
"Emmm apa obatnya sudah tidak bereaksi??".
Wajah Anton memerah karena ucapan Hilya yang terlalu terang-terangan.
"Anton terengah-engah.
Anton hendak berbalik menuju kamar mandi namun dengan cepat Hilya mencegah nya.
" JANGAN, aku tidak mau menyusahkan mu!!".
Hilya menarik wajah Anton dan memerhatikan nya, Hilya sadar seratus persen, apa yang akan dilakukan nya ini bukan hanya menolong Anton terbebas dari gairahnya tapi juga Hilya sadar dirinya pun menginginkan malam hangat dimalam yang sedang hujan ini.
Hilya pun haus akan belaian kasih sayang, semenjak menikah dengan Adnan Hilya memang selalu mendapatkan nya tapi Hilya pun selalu tertekan batin, membuat penyatuan mereka seolah perlombaan dan target memiliki keturunan, tidak dengan rasa netral dan menikmati apa adanya seperti orang bilang tidak menikmati seperti air mengalir.
Hilya memejamkan matanya, kini dia benamkan bibirnya dibibir sahabat yang sedang butuh pelampiasan, terasa bahwa Anton begitu terkejut, namun bagai kucing diberi ikan , akhirnya Anton pun membalas ciuman Hilya dengan penuh gairah.
Mereka melepas ciuman itu saat pasokan oksigen telah habis.
Anton meraba wajah istrinya, sepertinya Anton memastikan bahwa dia tak salah meniduri seorang wanita.
" Kamu yang memulai, aku sudah tidak dapat menghentikannya." ucap Anton dengan suara parau
Hilya tidak perduli, dirinya pun sudah terbakar gairah, Hilya menyambar kembali bibir Anton, keduanya sama-sama hanyut dalam ciuman.
Hilya tak perduli jika Anton memangap dirinya wanita agresif, Hilya hanya butuh kepuasan dan pelampiasan rasa rindunya.
Hilya tidak mau tenggelam dalam khayalan , Hilya tidak sedang membayangkan bahwa Anton adalah Adnan, Hilya sadar seratus persen bahwa mereka pria yang berbeda, dari segi kulit saja Anton lebih putih, dari segi wajah Anton jauh lebih berkharisma.
Anton memiliki rahang yang kokoh , bibirnya seksual hidung mancung dan bulu mata yang lentik ditambah alis tebal dan hitam.
Hilya melepaskan jubah mandi suaminya, wajah Hilya memerah melihat sesuatu yang sama sekali tak tertutup oleh dalaman.
Meski Hilya janda, tapi Hilya masih memiliki rasa malu, bagian itu tidak pernah Hilya saksikan secara langsung dengan lampu yang masih bersinar terang.
Saat bercinta dengan mantan suaminya, Adnan lebih suka mematikan lampu, jelas Hilya hanya menatap samar samar sesuatu yang tengah tegak berdiri itu.
Saat Hilya terpaku pada sesuatu itu, tidak terduga Anton telah bergerak memutar posisi, sekarang Hilya telah terkukung dibawah suaminya.
Anton menciumi setiap jengkal tubuh istrinya, sampai menjalar keatas, Anton sempat membisikan sesuatu. " akan kurekam setiap inci tubuhmu di ingatan ku".
Hilya terseyum, hatinya menghangat meski belum mencintai Anton tapi mendengar kalimat yang diucapkan Anton membuat hatinya bahagia.
Anton melepas satu persatu baju yang di kenakan sang istri, meski tak melihat bukan berarti dia tak mampu membuat Hilya neked.
Kini mereka berdua sama-sama neked, kulit perut Hilya menempel di kulit perut Anton, penyatuan mereka begitu berkesan, bahkan Hilya tak mau sedikitpun memejamkan matanya.
Netra itu begitu awas melihat ekspresi wajah suaminya yang berubah-ubah, ada sensasi tersendiri saat melihat berbagai macam ekspresi dari Anton.
Pria tampan itu meracau, menggeleng ,mendesah, menggigit bibir bawahnya dan masih banyak lagi ekspresi wajah lainya hingga akhirnya mereka sama-sama mencapai puncak penyatuan.
Anton ambruk di atas tubuh istrinya, Anton tak segera mencabut bagian tubuhnya, pria itu masih membisikan kata-kata rayuan dan gombalan di telinga Hilya, tanganya pun tak lepas dari surai kecoklatan milik istrinya.
Anton tidak hanya memuaskan lewat penyatuan, tapi Anton juga bisa memberikan rasa sayang dan nyaman setelah itu.
Bukan ingin membandingkan, tapi Hilya mengakui Anton lebih romantis dari pada Adnan, tanpa cinta saja Anton memperlakukannya penuh kelembutan apalagi dengan dasar cinta, tak terduga senyum manis terbit dibibir Hilya.