
Adnan yang melihat Hilya sedang menghentakkan kakinya langsung merengkuh istrinya
" Mas minta maaf!!" ucap Adnan terdengar sangat tulus
Hilya masih enggan menatap wajah Adnan
" Dek tangan mas sakit!!" keluh Adnan berharap Hilya mau kembali perhatian padanya.
Dan benar saja dugaan Adnan, Hilya langsung melihat punggung tanganya yang berdarah karena Ia mencabut paksa infusan.
" CK, itu sudah kalo suka seenaknya kayak anak kecil, mas ini udah umur masih suka merajuk sich, heran DECH!! gerutu Hilya sambil menuntun Adnan kembali ke atas brangkar, Hilya kembali memasang infus Adnan yang sempat di lepas
Adnan meneguk liurnya yang terasa pahit
Yang merajuk ini aku ??" batin Adnan
" Sayang jangan pulang!!" ucap Adnan mengiba
Hilya menatap wajah Adnan, memang Adnan tak sepucat tadi tetapi Adnan masih terlihat sedikit lemas
" Ya DECH aku tidur di sofa!!" Hilya mencoba tersenyum, mungkin fikiran Hilya kembali normal, nyatanya tadi dia yang sebenarnya kesal karena kesalahan orang, bukan kesalahan Adnan
" Jangan!!" Adnan mengeleng. "Adik tidur disini sama mas!!" ucap Adnan sembari menepuk sisi ranjang miliknya
" Yang benar aja donk mas!! entar aku gelundung!!"
" Mas peluk!!" Adnan meyakinkan
" Mas sebenarnya kenapa sich, kok jadi manja banget??"
" Adek juga kenapa sich, kok jadi sensi terus hari ini?? kalo mas ada salah mas minta maaf, tapi jujur mas gak ngerti Adek marah perihal apa!!"
Hilya menurunkan bahunya, terlihat mencoba tenang, kemudian Hilya mengeleng
" Aku nggak tau, Aku cuma kesel lihat suster tadi caper sama mas!!" aku Hilya
" Malahan mas gak sadar akan hal itu Dek!! fokus mas cuma untuk istri mas, yaitu Adek!!" ucap Adnan lirih nan manja
Hilya mengerling
" Mas genit!!"
" Adek cantik!!" balas Adnan tidak nyambung, tapi ucapan nya mampu membuat istrinya tertawa .
____________________
Sekitar jam 9 Dokter melakukan Visite pasien, Dokter Indri menyapa Hilya
" Apakah Dokter istri bapak Adnan??" sapa dokter ramah
Dokter Indri tampak sedikit membungkuk hormat
" Kita bisa ke ruangan saya??, ada yang ingin saya sampaikan tentang keadaan pasien!!"
Hilya menoleh kearah Adnan, sebelum menyetujui permintaan Dokter Indri, dan mereka berjalan bersama kesebelah ruang rawat Adnan
" Silahkan duduk Dok!!" ucap Dokter Indri setelah mereka masuk ke dalam ruangan nya
Hilya duduk dengan tenang
" Maaf Dok, sebelum nya saya ragu ingin mengatakan perihal yang tengah di alami oleh pak Adnan, tetapi saat saya melihat Dokter Hilya saya merasa yakin dengan dugaan saya!!"
" Memang ada apa Dok??" tanya Hilya penasaran
" Sebagai Dokter pasti anda sudah mengecek kondisi Bapak Adnan, dan saya yakin Dokter Hilya juga tak menemukan keganjilan pada kondisi tubuh bapak Adnan, saran saya yang perlu tes disini adalah dokter Hilya!!"
" Maksudnya??" Hilya bertanya Bingung
" Dugaan Saya bapak Adnan Ter kena sindrom Couvade atau Kehamilan simpatik.
" Ja -jadi??" bata Hilya
" Untuk memastikan Dokter Hilya bisa mendatangi Dokter Obgyn
Hilya masih terpaku, ada rasa bahagia jika apa yang di duga Dokter dihadapannya itu benar, tapi mengapa secepat ini?? astaga bahkan mereka baru melakukan hubungan badan sekali, apa ini suatu keajaiban??
Hilya segera bergegas menuju apotik rumah sakit, tujuanya adalah membeli alat tes kehamilan, dengan perasaan campur aduk Hilya memeriksa hasil testpack yang berada di tangan kanannya yang telah Ia celupkan kedalam urine miliknya
Sesaat setelah mengangkat Benda kecil tersebut Hilya masih menunggu beberapa saat untuk berani melihat hasilnya
Hilya mencoba memantapkan hati, apapun hasilnya Hilya memasrahkan pada yang di atas
" Bismillah!!" gunam Hilya mulai mengangkat testpack kehadapan nya
Perasaan Hilya campur aduk sebelum mata itu melihat kearah benda kecil yang kini tengah menunjukkan garis 2
Mata Hilya mengerjab mencoba melihat sekali lagi, tapi hasilnya tetap sama
Hilya memejamkan matanya rapat, hatinya membuncah, ya Allah benarkah ini??"
Tangan Hilya bergetar membawa jemarinya mengelus perut nya.
" Nak, benarkah kamu hadir untuk Ayah dan Bunda??" lirih Hilya yang tak menyadari air Bening telah memenuhi kelopak matanya.
" Mas Adnan aku hamil!!" ucap Hilya dengan air mata yang tak berhenti mengalir. apakah mas bahagia seperti kebahagiaan yang tengah kurasakan??" lirih Hilya masih di dalam toilet rumah sakit, yang tak ada siapapun disana selain dirinya, dalam hati Hilya terus merapal syukur, Kini langkah kaki nya menuju dimana Adnan berada.