
Anton menepuk sisi ranjang meminta Hilya duduk di sisi yang kosong
Senyum pria itu membuat batin Hilya menangis
Anton selalu menyentuh Hilya dengan lembut, begitupun malam ini
Ingin rasanya Hilya menghentikan waktu, agar malam ini tidak tergantikan pagi
Malam ini, Anton membawanya melayang menikmati surga dunia, sentuhan dan kelembutan Anton membuai jiwa Hilya hingga rintihan kepuasan itu terus menerus bersautan
Hilya begitu terlena akan prilaku sang Suami, ini bukan yang pertama, tapi Anton seperti membawa Hilya kembali mengenang malam pertamanya
Di atas kelopak mawar Anton menyatukan dua tubuh menjadi satu, seprai putih menjadi saksi bisu sepasang suami istri itu memadu kasih, hingga pekikan kepuasan itu terdengar dari keduanya menjadi penutup peraduan yang telah usai
Baik Hilya maupun Anton terengah dengan binar harapan
Seperti biasa Anton akan membisikan kata-kata sayang dan rayuan untuk Hilya setelah kegiatan mereka
" Maaf mas tak segagah dulu!!" bisik Anton menatap lekat wajah istrinya
Hilya tak menjawab, tetapi air matanya terjatuh, membawa bibir lembutnya ke puncak kepala Suaminya
" Mas tergagah selalu!!" bisik Hilya parau
Anton terseyum
" Mas tidak mau takabur, tapi jika Allah mengizinkan benih mas tumbuh, mas pasti sangat bersyukur, tapi jika tidak, Allah lebih tau yang terbaik untuk hambanya!!" Tutur Anton mengelus perut Hilya
" Jika memang tidak berhasil malam ini, masih ada malam panjang berikutnya!!" Hilya membelai pipi Suaminya
Sedih hati Hilya, saat Anton tak menjawab ucapannya, Anton justru membawanya masuk kedalam dekapannya
Jika dulu Anton selalu meminta lagi dan lagi tapi malam ini Hilya puas meski suaminya tak memintanya seperti dulu, melihat suaminya yang langsung tertidur membuat mata Hilya kembali berembun
Hilya menangis bukan karena tak merasa puas, Hilya menangis karena rasa takut yang menghantuinya, takut kalau-kalau esok pagi Hilya tak mendapati mata Suaminya terbuka, takut jika hari esok takdir kembali mempermainkan hidupnya
Jam menunjukkan pukul 3 Dini hari, tapi wanita berparas ayu itu tetap bergeming dengan posisi memeluk suaminya dan tanpa ada niat menutup matanya
Rasa takut Hilya kehilangan Anton membuatnya kesulitan untuk tidur, tanganya menempel tetap di dada Anton memantau detak jantung dan pernafasan suami nya, hingga suara serak khas bangun tidur itu menyapanya
" YANG??"
Hilya yang ketahuan bergadang hanya tersenyum tipis
" Aku takut!!" jujur Hilya
Anton terseyum
" Besok mas pergi berobat ditempat yang kamu rekomendasikan Yang!!"
Hilya memeluk Anton tanpa suara, batin Hilya seperti teriris sembilah pedang, mendengar ucapan suami nya, nyatanya untuk pengobatan itu sudah terlambat, kalaupun Anton ingin pergi jauh itu bukan alasan untuk berobat tetapi mungkin Anton tak ingin Hilya melihatnya di saat-saat terakhir nya
" YANG!!"
" Bisakah mas bawa aku kemanapun mas pergi??" tanya Hilya parau
" Aku selalu ada di sini!!" tunjuk Anton di dada istrinya. " Aku percaya meski aku telah tiada aku yakin ada tempat khusus di sini!!"
Hilya menampik tangan Suaminya
" gak lucu mas'!! bawalah aku kemanapun kamu pergi meski itu sebuah kematian!!" Isak Hilya
" Istighfar Yang!! gak boleh ngomong begitu!!" tegur Anton sedikit keras
Hilya menangis lagi dan lagi, entah sudah berapa banyak air mata yang terus Hilya keluarkan beberapa bulan ini
Anton yang melihat istrinya kian terisak merengkuh nya kembali sembari berujar maaf dengan lirih,namun bukanya berhenti menangis tangis Hilya justru kian tersedu-sedu
Tak taukah Anton, saat ini Hilya benar-benar ketakutan, tak taukah Anton bagaimana nanti jika dirinya benar-benar akan pergi meninggalkan Hilya dan putrinya yang masih begitu membutuhkan sosoknya ingin rasanya Hilya menyuarakan sesak hatinya tapi pada siapa?? seandainya itu benar terjadi bukankah itu sebuah garis takdir yang harus Hilya terima???
bismillah..
hai para pembaca...
bolehkah author minta dukungan nya...
berikan like komen dan vote untuk author....
dukungan kalian begitu berarti untuk author...
meski sibuk dengan kegiatan, author sempetin nulis demi pembaca setia....
author ucapkan terimakasih banyak atas dukungannya, salam manis dari author untuk semua pembaca....