Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
119.Pindah



Hilya mendekati Zizi


" Mba yang sabar ya!! mungkin memang bukan jodohnya." hibur Hilya, bermacam asumsi berkecamuk di fikiran Hilya, bagaimana rupa wanita yang begitu tega dengan putrinya sendiri??, masih layak kah di sebut seorang ibu jika sifatnya tak mencerminkan kebaikan untuk anak-anak nya


Zizi mencoba tersenyum, sebenarnya Zizi tipe wanita yang cukup manis, kulitnya agak gelap namun matanya begitu indah, wajah yang teduh, bibir kecil namun tebal alisnya rengang dan tak beraturan dengan sebuah tahi lalat di ujung hidung kalo dipandang lebih intens Zizi memiliki wajah yang keibuan


Anton sedikit simpati dengan Zizi, bagaimanapun kalo Mariani menyakiti dirinya Umi, dan Dini itu masih maklum karena Anton hanya anak tiri, dan bukan siapa-siapa lha ini??" putrinya sendiripun di sakiti, kenapa begitu baik pilihan Abah nya??


" Kenapa kamu bisa tahu kalo Ibu mu juga mengandung anak suamimu??" Anton kali ini bertanya dengan menatap wajah sodari tirinya itu, suatu hal yang baru Anton lakukan semenjak mereka menjadi saudara tiri


" Karena ......


" Assalamualaikum....


perbincangan mereka terhenti saat putri remaja dengan pakaian yang begitu kumuh masuk dengan dalam dan langkah lebar


" Mba Zi, ini Zahra bawakan nasi goreng, tadi di kasih mang Ucup yang jualan di perempatan jalan, ucapan remaja putri itu girang tak memperdulikan orang di sekitar nya


Zizi tersenyum manis sambil mengambil bungkusan kecil di tangan adik nya


" Sebentar Zahra ambilin piring dan sendok untuk kita bagi bersama Abah mba!!"


Anton dan Hilya saling tatap, begitu menyentuh hati , pemandangan dihadapannya itu, seorang anak yang belum cukup umur di paksa hidup penuh tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga


" Abah sudah tidak di sini dek!!" ucap Zizi mengelus lembut kepala Zahra yang rambutnya kusut dan berwarna pudar akibat terpapar sinar matahari sepanjang hari


Gadis itu mendongakkan, tatapan nya tertuju kepada Anton, Hilya dan Zizi


" Mereka siapa mba?? terus Abah kemana?? apa Ibu kembali datang dan membawa Abah??"


Tanya polos Zahra lagi-lagi membuat Anton dan Hilya terenyuh


" Mereka adalah Kaka Zahra," lirih Zizi sedikit sungkan menyatakan bahwa mereka bersaudara, sedang sikap Ibu mereka lebih tepat disebut sebagai musuh


" Kaka??" beo Zahra


" Zahra kamu dari mana??"


" Dari mulung Kak!! Kaka siapa??"


" Nanti, mba Zizi yang jelaskan ya!!" sekarang Zahra ikut kami mau??"


Zahra tampak bingung, Hilya mendekati adik suaminya itu


" Zahra ingin sekolah?? nanti kalo Zahra ikut Kaka Zahra bisa sekolah." ucap Hilya mengelus kepala gadis kecil tangguh dihadapannya


" Tapi kalau aku sekolah, mba Zizi dan Abah tidak ada yang Carikan uang!!" ucap Zahra sedih


Anton yang tidak tahan melihat dan mendengar itu berlalu keluar entah seperti apa perasaan nya saat ini, marah, emosi, kesal, jengkel, menjadi satu


Hilya tidak segera menyusul suaminya, Hilya masih berbicara dengan adik iparnya, hingga 30 menit kemudian akhirnya mereka keluar rumah itu dengan membawa barang-barang mereka


Anton menatap sedih ketiganya, Hilya, Zizi dan Zahra


Tak terduga, gadis kecil yang sudah sedikit rapi itu berlari memeluk tubuh nya, Anton terkejut namun kemudian meraih tubuh Zahra dan menggendongnya


Anak usia 9th yang sedang berjuang itu adalah sodarinya, ada darah yang sama mengalir ditubuhnya, meski tidak mengucapkan apapun tapi Anton tau siapa dibalik luluhnya hati Zahra untuk ikut pergi dengan nya.


Anton melempar senyum manis untuk sang istri, Hilya begitu banyak mengerti dirinya, terkadang saat kita sedang bingung dengan situasi kita memang harus diam terlebih dahulu memikirkan nya sambil mencari solusi, namun lihatlah Hilya, di waktu yang begitu singkat, tidak hanya mampu memecahkan masalah namun juga langsung mendapatkan jalan keluarnya


" Zahra mau ikut Aa kata Kaka Hilya Zahra juga punya Kaka lagi namanya mba Dini, Zahra juga mau ketemu sama mba Dini, Zahra mau ikut Aa."


Ucapan Zahra membuat Anton mengalihkan pandangannya dari istri Ter istimewa, kemudian mencubit kecil pipi adiknya.


" Iya, kita berangkat sekarang!!"


Zahra senang sekali dan tersenyum meminta Anton menurunkan tubuhnya, gadis kecil itu berlari ke arah mobil yang sudah terbuka oleh orang-orang Anton yang sedang menaikan barang-barang mereka