
Anton masih setia di depan ruang sang anak, Hatinya dipenuhi rasa takut, takut sang istri melupakannya takut sang istri kembali ke masa lalu, takut sang istri tak mengakui sang buah hati
Lamunannya buyar saat melihat Zahfran berlari kearah nya.
" Apa benar Hilya sudah sadar??" tanya Zahfran dengan binar bahagia meski Zahfran begitu ngos-ngosan karena berlari
Anton justru terpaku menatap Zahfran, cukup kaget sebenarnya melihat penampilan adik tirinya itu, Zahfran yang tak kunjung mendapat jawaban berdecak dan pergi begitu saja meninggalkan Anton yang tampak ling lung.
Didalam ruangan, Hilya duduk bersandar , wanita itu tidak memakai penutup kepala mengingat sebagian rambutnya tercukur habis karena proses operasi dan juga jahitan
Adnan masuk dengan mengucapkan salam, dan di Jawab oleh Hilya, hati Adnan mencelos melihat wajah Hilya yang penuh luka, meski luka itu tak menutupi kecantikan Hilya namun memar-memar itu membuat hati Adnan bagai teriris.
"Mas!!"
Pangilan Hilya menyebutnya mas dan nada suara yang lembut membuat hati Adnan bergetar, ada sebongkah kebahagiaan yang menerpa relung hatinya, ingin Adnan egois dan membawa Hilya kedalam dekapannya, namun Adnan masih sadar diri, dirinya lah penyebab keadaan yang menimpa Hilya.
" Ya??"
" Bagaiman....
Brak.
Hilya dan Adnan menoleh ke arah pintu saat mendengar suara pintu terbuka dengan kasar
Hilya terkejut saat tiba-tiba seorang pria muda tiba-tiba datang dan berlari ke arah nya.
Zahfran melangkah mendekati tubuh Hilya, tanpa meminta izin, Zahfran langsung memeluk tubuh lemah Hilya menghujani Ibu baru itu dengan kecupan-kecupan kecil di seluruh bagian wajahnya.
Adnan mematung melihat apa yang dilakukan Zahfran, Zahfran yang membelakangi dirinya tidak terlihat wajahnya membuat Adnan bingung siapa sebenarnya yang lancang mencium dan memeluk mantan istrinya.
"Aku tau tuhan maha baik, akhirnya Tuhan mengabulkan permohonan ku, jangan lagi membuat ku khawatir !!!" ucap Zahfran dengan mencium lembut kening Hilya yang masih tertutup perban.
Hilya mematung ditempatnya, Bingung itu yang Hilya rasakan
Zahfran melerai pelukanya, menatap lembut wajah Hilya, yang sepertinya sedang bingung dengan keadaan.
Hilya memandang wajah Zahfran dengan seksama, Zahfran terkekeh kecil melihat kebingungan di wajah Hilya.
"Aku lupa berdo'a agar kamu mengingatku sebagai suamimu, bukan pria lain, harusnya kamu hanya mengingat diriku dan hanya aku".
Hilya melirik kearah Adnan yang terlihat seperti menahan amarah.
Hilya memijit kepalanya yang sedikit merasa pening, hal itu membuat Zahfran sedikit panik
" Apa sakit?? perlu aku panggilkan Dokter??"
Hilya mencoba tersenyum sebenarnya hatinya penuh dengan tanda tanya, "siapa pemuda ini??"
Cukup lama Zahfran melakukan apapun yang dia mau hingga akhirnya dirinya mendapatkan pangilan dari ponselnya, yang membuatnya terpaksa meninggalkan Hilya.
Setelah beberapa saat hening sepeninggalan Zahfran, akhirnya Hilya membuka suara
" Mas Adnan bagaimana keadaan Akbar??"
tanya Hilya yang membuat Adnan terkejut.
" Kamu ingat dengan Akbar??"
Hilya mengerutkan keningnya
" Maksudnya?? kenapa aku harus lupa??
bahkan mas Anton pergi ke luar kota untuk menjenguk Akbar kan??"
Ada kekecewaan di hati Adnan, ternyata Hilya tidak kehilangan ingatannya, itu artinya dirinya benar-benar kalah
"Kenapa kamu tidak mencari Anton dan malah mencari ku Hil??" tanya Adnan dengan nada lirih.
" Karena saat sadar aku hanya mengingat nama itu." jujur Hilya
Memang benar, saat tersadar Hilya hanya mengingat nama Adnan, meski segala bayang-bayang semua keluarga nya ada di dalam memory nya namun hanya nama Adnan lah yang dapat dirinya ingat.
Mungkin karena terakhir kalinya dirinya mengingat sang suami yang menemui sang sahabat, ditambah rasa takut Hilya saat dirinya dianiaya oleh Mariani dan mengingat sang suami sedang berada di rumah Adnan dan menemui Adnan, mungkin itu salah satu penyebab nya hanya nama Adnan yang memenuhi memory nya
Itulah sebabnya mengapa dirinya meminta dokter untuk memanggil kan Adnan , dan saat Adnan terlihat memasuki ruangannya satu persatu nama-nama itu mulai Hilya ingat, termasuk suaminya yang begitu Ia cintai bahkan Hilya baru mengingat perutnya yang tak lagi besar saat Zahfran menciuminya tadi dan sampai Zahfran pergi dari ruanganya pun Hilya belum tau siapa sebenarnya sosok pemuda itu.