
Adnan POV
Aku melihat Hilya dan Anton telah memarkir kendaraan mereka di depan sana, resto ini sedang dalam renovasi lahan parkir jadi sementara orang yang akan masuk kerestoran favorit ini harus melakukan kendaraan nya di sebrang jalan.
Mantan istriku dan suaminya berjalan kearah ku, saat kulihat Hilya melangkah hendak menyeberang jalan, aku melihat mobil yang sedari tadi parkir dipinggir jalan itu tiba-tiba melaju kencang kearah Hilya.
Aku melihat Anton dengan sigap menarik tubuh istrinya, namun naas, tubuh Anton terpelanting dan menabrak mobil yang akan menabrak Hilya tubuh Anton terpental keatas mobil dan jatuh menghantam aspal.
Belum hilang rasa keterkejutan ku, mama mertuaku berlari panik bersama rena saat mobil yang menabrak Anton menabrak kendaraan yang berlawan arah, mertuaku berlari bersama Rena tanpa melihat keadaan jalan , berikutnya yang kulihat adalah dimana Ibu mertuaku dan istriku terpental dan terseret mobil Trak yang mengangkut tabung LPG.
Aku shock, bingung seperti orang linglung, kesadaran ku kembali saat seorang Ibu berteriak meminta bantuan, tangan ku bergetar melihat bude, Ibu mertuaku terlungkup dengan kaki yang sebagian hancur terlindas Trak.
Sedangkan Rena tidak mengalami luka yang cukup parah tapi istriku tidak sadar kan diri, saat aku mengurus istriku dengan panik karena dia tengah mengandung anak ku , lagi aku dikejutkan saat seseorang mengeluarkan tubuh seorang pria yang terjepit badan mobil, pria yang hampir menabrak mantan istriku, pria yang sepertinya memang sengaja memarkirkan kendaraanya dibahu jalan karena menunggu target yang diincarnya, pria yang Aku kenal sejak kecil, pria itu adalah Sadewo Kaka Rena, yang tak lain adalah sepupu ku sendiri.
Akhirnya aku mengerti mengapa tiba-tiba istri dan mertuaku begitu panik melihat mobil yang hendak menabrak Hilya, menabrak mobil. Aku tau ternyata di balik mereka bersedia meminta maaf pada Hilya terselubung juga niat yang begitu keji.
Aku tersenyum getir, begitu busuk niat istri dan Ibu mertua ku, pantas Allah menghukum mereka dengan kecelakaan ini.
.
.
.
.
Rena tidak mengalami pendarahan ataupun luka di bagian tubuhnya, tapi dokter mengatakan istriku cidera parah di bagian kepala, lukanya tidak nampak diluar tapi fatal di bagian otak dan merenggut nyawanya.
Aku tidak menitihkan air mata kesedihan ku, entah mengapa saat aku mengetahui niat busuk istri dan mertuaku membuatku tak bisa merasa iba, aku hanya berharap anak ku lahir dengan selamat, dan berusaha untuk memaafkan kesalahan Rena, biar bagaimanapun dia tetap menyandang status istriku hingga ajal menjemput nya.
Sedangkan Ibu mertuaku nyawanya terselamatkan, hanya saja kedua kakinya di amputasi, sedang Sadewo masih koma diruang ACU.
Aku belum tau keadaan Anton saat ini, karena aku pun panik dengan keadaan tiga keluarga ku ini.
Aku berharap sahabatku juga baik-baik saja.
Dokter keluar dari ruang operasi, aku menanyakan perihal keadaan anak ku, dokter menyatakan putraku lahir selamat, ada kebahagiaan di balik kesedihan ku, setidaknya putara ku lahir dengan selamat meski harus mendapatkan penanganan khusus karena lahir belum waktunya.
Kini kulangkahkan kakiku untuk melihat keadaan Anton.
Hatiku mencolos saat menyaksikan pemandangan menyayat hati, Hilya wanita yang ku cintai begitu terpuruk di hadapan suaminya.
Aku memakai pakaian khusus saat hendak memasuki ruangan dimana sahabatku di rawat.
sebelum masuk aku melihat sepasang suami istri itu dari balik pintu ruangan itu, yang memperlihatkan kehancuran hati mantan istriku itu.