
Bagaimana perasaan mu ketika setelah bertahun-tahun lamanya mencoba melupakan nyatanya rasa itu tetap utuh ??
kecewa kah??
kesal kah??
atau justru bersyukur??
begitulah yang dirasakan Adnan saat ini, setelah 10th mencoba melupakan mantan istri terindah nya, nyatanya hingga berjalan 10th Adnan masih mencintai sosok Hilya, bahkan rasa itu kian lama kian dalam yang membuatnya sulit berpaling, meski kini sang mantan tak lagi pernah ia temui ataupun menemui nya
Adnan melangkah mendekati makam mendiang sang sahabat yang kerap kali ia kunjungi setiap tahunnya, meskipun sudah lama berlalu, tetapi wasiat sahabatnya tak pernah Ia lupakan, sebuah permintaan terakhir sang sahabat yang memintanya menjaga dua wanita yang begitu di cintai dan disayangi oleh sahabatnya .
Sudah dua hari Adnan berada di Bandung, tapi baru hari ini Adnan sempat mengunjungi makam Anton, saat hendak menuju makam sang sahabat kurang beberapa langkah , nyatanya lagi-lagi takdir mempertemukan dirinya dengan sosok yang telah lama ia coba lupakan, tampak sekali keterkejutan dari wajah Hilya, yang sebenarnya dirinya pun rasakan
" Hil!!" Adnan mencoba menghidupkan suasana yang awalnya saling terkejut dan terpaku
" Mas??" Hilya pun tampak kikuk
Adnan menatap sosok gadis kecil di samping Hilya, senyum ramah menyapa Adnan saat netra mereka saling bertemu
" Hay uncle!! apa uncle akan ke makam Papa juga??
Adnan tersenyum haru, tidak perlu bertanya siapa sosok kecil yang sedang bergelayut di lengan Hilya, karena dari segi wajah Adnan bisa mengetahui bahwa gadis kecil itu adalah Khansa, gadis kecil itu adalah putri semata wayang sahabatnya
" Hay Khansa?? anak Sholehah apa kabar??" tanya Adnan ramah, hati Adnan bahagia melihat putri Anton begitu cantik dan lincah, Hilya begitu pandai merawat sang putri meskipun menjadi orang tua tunggal
" Om tau nama Khansa??"
Adnan terkekeh kecil
" Tau dong!! dulu om pernah mengendong Khansa saat masih kecil!!"
" Berati om kenal sama Papa dan Bunda nya Khansa dong?? terus kenapa Khansa tidak pernah lihat om ??" tanya Khansa mengebu-ngebu
Hilya menatap mantan suaminya khawatir, entah apa jawaban Adnan nantinya , tapi Hilya tetap diam menanti Adnan menjawab pertanyaan putri nya
" Om sama Papa dan Bunda Khansa sahabatan, teman dekat dulu, tapi karena Om harus pindah ke luar negeri makanya om sudah tidak pernah bertemu dengan Khansa lagi!!" jelas Adnan yang kini berjongkok di hadapan Khansa
Mendengar jawaban Adnan Khansa terlihat mangut-mangut mengerti
Hilya tampak menghela nafasnya lega, mendengar jawaban Adnan yang bisa di terima oleh putrinya
Adnan menatap Hilya sebentar, mata Adnan menampakkan binar kekaguman memandang mantan istrinya yang kecantikannya tak termakan usia
" Hil apa kamu keberatan kalau kita berziarah sama-sama??" tanya Adnan hati-hati
" Tentu saja tidak!!" bukan Hilya yang menjawab melainkan Khansa yang begitu antusias
" Yaa kan Bunda?? tidak papa kan kita berziarah sama-sama , kan uncle juga teman Papa sama Bunda!!"
Ucap Khansa polos yang membuat Hilya merasa serba salah
Adnan melirik Hilya sekilas, sebenarnya Adnan tau Hilya keberatan, tapi nyatanya Hilya justru mengangguki ucapan putri nya
" Tu kan uncle..!! Bunda tidak keberatan!! girang Khansa dengan senyum berbinar, bahkan tanpa menghiraukan sekitarnya tiba-tiba Khansa meraih tangan Hilya dan Adnan menuju makam Papa nya
Adnan tampak tersenyum meski awalnya terkejut, sedangkan Hilya masih belum mampu mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
Khansa, putri kecil nya tak pernah mau bertegur sapa dengan orang asing, jangankan mengajak ngobrol dulu an , di ajak ngobrol saja sedikit sulit, tapi barusan?? bahkan putrinya terseyum ramah dan tanpa canggung menarik tangan orang asing seolah sudah mengenal begitu lama