
Empat jam di rumah sakit Anton sudah tak lagi merengek pulang, karena kenyataannya Anton terlalu lemas dan tertidur
Hilya menemui Fauzan di ruangannya
" Sel kangker itu berkembang cukup cepat Hil, sedangkan tubuh Anton tak mampu untuk melakukan kemo dalam waktu dekat, obat yang aku berikan sepertinya tak berpengaruh saat ini, kita harus bersyukur setidaknya Anton masih dapat mengontrol keadaan tubuhnya, untuk saat ini kita hanya bisa berdoa dan melakukan yang terbaik saja, dari sekian banyak kasus aku baru menanggani kasus seperti ini, sel kangker stadium awal cepat terdeteksi tetapi juga cepat berkembang, kita harus terus menyemangati Anton Hil, usaha dan terus usaha, hasilnya kita serahkan kepada Allah."
Hilya meremas tangannya
dalam hati Hilya ingin melihat suaminya kembali sembuh, ingin agar Anton semangat melakukan pengobatan, tapi melihat efek samping kemo yang di dera Anton membuat hatinya sesak, Hilya tak tega melihat kerapuhan Suami nya
Hilya berpamitan pada Fauzan, setelah pembahasan langkah yang akan mereka ambil, Hilya segera kembali kedalam ruang rawat Anton
Nata indahnya menatap tubuh suaminya yang masih terlelap
Hilya mendekati Anton, mencium kedua kelopak matanya, mengelus Surai hitam itu dengan lembut, air matanya jatuh tak terbendung mana kala dari sela jemarinya rambut suaminya ikut menempel di sana.
Hilya kaget saat tangan lain menghapus air matanya, Hilya menatap kelopak mata Anton yang telah terbuka, jemari Hilya terkepal kuat menyembunyikan helaian rambut Anton yang rontok
" Mas!!" Hilya terseyum manis, menyembunyikan gemuruh sesak di dadanya
" Yang, kok kamu nangis??" tanya Anton parau, suara khas bangun tidur
" Aku nangis karena mas Anton tak bangun-bangun!!" dusta Hilya
Anton tertawa kecil
" Kamu takut aku pergi Yang??" tanya Anton menatap istri nya
" Takut banget!!" jawab Hilya tak mampu mencegah air matanya yang mengalir
Anton tertawa
" Istriku kok jadi cengeng sich Yang??" tanya Anton bikin Hilya makin kesal
Hilya tak menjawab, Hilya memilih menyembunyikan wajahnya di pipi sang Suami
" Yang!!"
Hilya mendongak, sembari memasukan helaian rambut Anton di kantong gamisnya
" kamu harus janji ya, kamu akan selalu menemaniku sampai akhir!!" Anton mencium kening Hilya
"Aku janji mas!! tapi mas Anton juga harus janji, mas harus semangat untuk sembuh okee??"
Anton terseyum dan menganguk
" Besok mas!! Umi, Dini dan Zahfran jagain Khansa di rumah!!"
" Yang!!"
" Yaa??"
" Aku ingin Umi dan Abah rujuk kembali, apa kamu setuju??"
" Itu hak mereka mas!! aku dukung apa yang terbaik bagi mereka!!"
" Aku tau umi masih mencintai Abah Yang, hanya saja rasa sakit hati umi dulu menutupi cintanya hingga menjadi sebuah kebencian!!" Anton mendesah
" Mas Anton jangan banyak fikiran dulu!! aku gak mau mas drop lagi nanti!!" Hilya mengingatkan dengan lembur
" Besok kita pulang kan Yang??"
" Nanti aku tanya Fauzan dulu ya mas!!"
" Biar aku ajah yang ngomong nanti Yang!!"
" IYa, terserah mas saja, sekarang mas makan baru istirahat!!"
" Aku gak lapar Yang!!"
" Harus di paksakan dong mas!! kan mas harus segera pulih!!"
" Tenggorokan ku sakit kalo buat nelan Yang!!'
" Ini tadi umi buatin bubur mas!! jadi langsung telan saja!!" bujuk Hilya
Anton menatap ragu, sesuatu yang berada di dalam Tupperware itu
" Bagaimana kalo kita makan bersama ?? aku juga belum makan mas'!!" Hilya mencari ide agar Anton bisa makan meskipun sedikit
Anton tersenyum tipis sambil mengelengkan kepalanya
" Istriku paling tau kelemahan ku, bagaimana aku bisa menolak jika bidadari ku sendiri pasti mogok makan jika aku tak menerima usul darinya!!"
Anton mencubit lembut hidung mancung Hilya, keduanya sama-sama tersenyum manis
ya Allah aku ingin hidup bersama suamiku lebih lama lagi, ku mohon angkatlah penyakitnya, berilah kesembuhan untuk mas Anton ya Allah. Hilya berdoa dalam hati