Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
253.Malu-malu



Adnan melangkah memasuki kamar, netra teduhnya menemukan sosok istri nya yang masih tertidur, senyum tipis menghiasi bibirnya, Adnan mendekati Hilya yang masih meringkuk di dalam selimut


Adnan membelai lembut wajah Hilya, yang membuat Hilya merasa terganggu dan membuka matanya


" Mas!!" suara serak khas bangun tidur menyapa Adnan


Adnan tersenyum


" Udah masuk waktu subuh!!" ujar Adnan lembut


Hilya berkedip-kedip linglung, sebelum mendudukkan dirinya


Hilya mengerutkan keningnya melihat penampilan Adnan


Adnan yang melihat tatapan Hilya untuknya berdehem


" Mas dari masjid, subuh berjamaah!!"


Mata Hilya melebar, wanita cantik itu segera menatap jam dinding


Adnan tetkekeh kecil


" Tidak masalah, ini masih di awal waktu dek'!!"


Hilya cemberut, sembari turun dari tempat tidur


" Harusnya sebelum mas ke masjid bangunin aku dulu dong!!" gerutu Hilya sambil lalu menunju kamar mandi.


Adnan mengulum senyum


Hati Adnan girang bukan main, melihat Hilya yang mulai bergantung padanya, Adnan merasa rumah tangganya lebih hidup dan sempurna, setidaknya besok sebelum si kecil Khansa kembali hubungan antara dirinya dan Hilya sudah begitu dekat.


Usai sholat


Hilya menatap tempat tidur yang kosong


CK' kemana lagi sich mas Adnan, bukanya istirahat, masih sakit juga


Jaki Hilya menapaki tangga, Hilya mendesah mendengar keributan dari arah dapur


" Pagi istrinya mas !!" sapa Adnan ramah


Hilya mendengus


" Harusnya mas istirahat, ngapain sich di dapur??"


Adnan hanya menatap takjub istrinya, yaa sembari mengulum senyum bahagia nya


Adnan menyuguhkan olahan telur bumbu pesmol dan sepiring nasi yang masih mengepul


Hilya mengerutkan dahinya


" Kok nasinya udah matang??" tanya Hilya menengok wajah Adnan


Adnan menarik kursi dan duduk dihadapan istrinya


" Tadi sebelum ke masjid mas sempetin masak dulu, pas pulang tadi eh udah ijo tombolnya!!"


Hilya mangut-mangut


" Ternyata punya suami yang bisa masak nyebelin juga ya!!" keluh Hilya yang membuat Adnan mendelik


" Kok nyebelin sich Sayang??" protes Adnan


" Ya karena Anda bisa mencuri peran!!" hardik Hilya


Menurut artikel yang di baca Adnan tentang wanita, wanita itu sangat senang dipahami dan dimengerti, Pria harus sesering mungkin memberi kejutan dan meringankan pekerjaan nya, tapi kenapa Hilya tidak menyukai nya??.. "spesies wanita bermacam-macam jenis kah??" batin Adnan


" Sayang" panggil Adnan, halus menembus kalbu, seperti bukan diucapkan dari alam fana


Sorot mata Adnan yang dalam membuat Hilya panas dingin


" Mas salah ya??" santun Adnan berkata, lembut Adnan menatap manik istrinya


Hilya mendesah


Menunduk dalam


Kemudian mengeleng


" Aku hanya malu, baru mulai rasanya kita membina rumah tangga , mas banyak mengambil peran ku!!"


" Apa yang mas ambil??" lagi suara Adnan mengetarkan jiwa Hilya


Sejenak suasana berubah senyap dan Hening, hanya aroma bunga asmara yang menggelora


" Dek!!" Adnan mendesah


" Banyak, sangat banyak!!" Hilya menatap nanar Adnan yang menatapnya penuh kelembutan


Adnan menelan ludahnya , melihat wajah Hilya bersemu jiwa Adnan berlalang buana


" Satu dari sekian banyak, bisa Adek sebutkan??"


Hilya mengeleng


" Tidak untuk saat ini, karena tiba-tiba aku merasa lapar!!"


Perasaan Adnan campur aduk, ada setitik rasa kecewa, ada juga tersirat kebahagiaan ada juga rasa cemas dan takut kehilangan


" Rasanya mas ingin datang ke orang pintar!!" keluh Adnan


Hilya menatap bingung


" Untuk belajar membaca isi hati!!" ucap Adnan meringis


Hilya mengerling


" Dosa gak sich kalo kita ingin tau isi hati istri??"


Ucap Adnan sambil meneguk teh hangat


Hilya menatap lekat wajah suaminya


" Dosa gak ya kalo Jambak rambut suami, agar fikiranya kembali normal??"


uhuk


uhuk


Adnan tersendak teh yang di minum, Hilya panik, segera Hilya mengelus punggung suaminya, wajah Adnan sampai memerah terbatuk-batuk


Adnan menarik nafasnya, tanganya tetulur meraih jemari istrinya, Adnan mengecupnya berkali-kali


" Tidak akan ada dosa meski rambut mas tercabut habis oleh jemari ini, bahkan sampai botak karena mas ikhlas , jangankan di Jambak, Adik membawa sebilah pedang untuk menebas leher mas, demi Adik mas ridho, apapun jika membuat Adik bahagia mas akan korban kan meski itu nyawa mas!!"


Meleleh hati Hilya mendengar ucapan Adnan, tidak hanya ucapan bahkan tindakan Adnan beberapa hari ini membuat Hilya mulai membuka hatinya , mulai ada benih cinta untuk Adnan, Hilya yakin semakin dipupuk cintanya untuk Adnan akan semakin subur seperti dulu lagi