
"Mas pulanglah!!" pinta Hilya pada Adnan.
"Tapi Hil aku ingin bicara sesuatu??"
" Lain kali mas, tolong pergilah sekarang."
"Tapi Hil kenapa ada Anto....."
" Please ustadz saya mohooon!!, saya Janji suatu saat saya akan jelaskan," ucap Hilya memotong pertanyaan Adnan.
Akhirnya dengan terpaksa Adnan pergi dari rumah Hilya.
Sedangkan sepeninggalan Adnan, Hilya berlari menuju kamar nya bersama Anton.
"Mas, mas' Anton. buka pintunya mas!! aku bisa jelaskan mas. mas!!"
tok. tok. tok. tok.
Hilya mengiba di depan pintu kamar berharap suaminya itu segera keluar, tapi hingga beberapa waktu Anton tak juga keluar kamar.
" mas, mas Anton..tolong dengarkan penjelasan saya mas!! mas. maaaaas."
Terdengar suara kunci diputar membuat Hilya merasa lega, namun saat melihat Anton keluar membawa kopernya Hilya begitu panik.
"Mas saya bisa jelaskan mas!! ini tidak seperti yang mas liat mas, mas."
Anton tidak menghiraukan istri nya, Anton terus beranjak meninggalkan Hilya.
Hilya tergopoh-gopoh menarik Anton agar berbalik dan tidak meninggalkan nya.
" Mas, ini hanya salah faham , mas Adnan hanya bermaksud untuk membantuku........"
Anton mengangkat satu tanganya seolah memberi instruksi agar Hilya diam.
"Apa kamu masih mencintai Adnan Hil??."
" Aku masih mencintai nya mas tapi aku akan berusaha untuk melupakan rasaku padanya.. percayalah mas." ucap Hilya jujur
"Apa kamu mencintaiku??".
DEG.
Hilya bingung akan menjawab apa , apa dia mencintai Anton??.
" Mas...aku....
Anton menatap wajah gusar istrinya.
" Jaga diri baik-baik, lain kali jangan memasukkan seorang pria tanpa kehadiran orang lain dirumah, itu tidak diperbolehkan dalam Islam."
Setelah mengucapkan kalimat itu Anton berbalik. "Assalamualaikum". salamnya kemudian pergi keluar rumah dengan menenteng kopernya.
Hilya terpaku ditempatnya, air matanya mengalir deras, melihat punggung pria yang beberapa bulan menemaninya kian menjauh , Hilya terduduk dilantai.
Sakit hati Hilya, lagi-lagi dia ditingakan oleh pria yang berarti di hidupnya.
"Mas Anton!!" lirihnya. Hilya memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. bibirnya bergetar.
"Kenapa sesakit ini??" apakah aku sudah mencintai suamiku??"
hik, hik, hik, hik.
hee,eeeee , sttttt heee..eeeee..
Hilya menangkup wajah nya dengan kedua tangannya.
" Kenapa kamu tidak mempercayai ku mas....??"
" Kenapa kamu mengambil kesimpulan sepihak??"
" Aku masih punya iman mas!! tidak mungkin aku berbuat diluar batas hik. hik.hik."
" Aku tidak tau Adnan masuk kedalam rumah kitaaaa... " Hilya meracau dalam tangisnya.
Hingga beberapa saat Hilya merasa pening, merasa lelah dengan semua Hilya berjalan masuki kamarnya setelah sebelumnya menutup pintu.
Sedangkan Anton pria itu tak kalah hancurnya.
Disaat Anton menemukan ponsel istri nya yang ternyata jatuh di bawah kursi kemudi, Anton segera putar balik.
Senyum di bibirnya tak pernah surut, Dokter tampan itu tampak begitu bahagia, hingga saat mobilnya akan memasuki rumah, Anton melihat
mobil yang terparkir di pinggir jalan pas di depan tempat tinggal nya.
Anton segera memarkir mobilnya, kakinya menjajaki teras rumah dan menemukan sebuah kunci mobil tergelak di atas meja dan sebuah kaleng minuman yang belum dibuka.
Nata Anton melihat pintu rumah yang sedang terbuka, mata dokter itu awas menelisik kedalam rumah, saat memasuki ruang keluarga suasana lenggang seperti biasa, namun saat Anton telah sampai di ruang tengah, hati Anton mencelos, bak di tikam sebilah pedang, dengan marah Anton berteriak lantang, namun sepertinya hari ini adalah hari kehancuran baginya.
Begitu pria itu berbalik, ternyata itu adalah sahabat dan juga mantan suami istri nya yang Anton tau bahwa Istri yang dia cintai masih begitu mencintai mantannya.