Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
262.Cinta yang terbalas



Sejak keluar dari ruang kebidanan Adnan tak berucap sepatah katapun, tanganya melingkar di pinggang istrinya, matanya sesekali masih menitihkan air mata


Hilya sendiri tak memaksa Adnan untuk bicara, hingga mereka sampai di rumah


" Jadi Nek, Khansa beneran mau punya Adek??" suara Khansa bertanya pada nenek nya


Khansa memang begitu dekat dengan Ibu dan Bapak Adnan sejak pertama kali bertemu, entah mengapa keluarga Adnan seperti memiliki Magnit tersendiri untuk Khansa.


" IYa sayang, ayo kakek ceritakan dongeng lanjutan tadi malam!!" kini giliran suara Bapak Adnan yang terdengar.


Hilya naik bersama Adnan ke kamar mereka.


" Mas'!!" akhirnya Hilya menegur suaminya, tak tega rasanya Hilya melihat air mata Adnan yang masih belum mengering semenjak tadi.


Adnan yang masih banjir air mata berpaling muka


Hilya meraih kepala Adnan memaksanya untuk menatap kearah wajahnya


" Kalo mas bersikap seperti ini, yang ada aku mengira mas tak menyukai kabar kehamilan ku mas!!" lirih Hilya.


" Dek, sayang!!" Adnan tersentak mendengar ucapan Hilya


Mereka duduk di pinggir tempat tidur


" Mas bisa kan bicara sepatah, dua patah tentang perasaan mas Adnan! jangan cuma diam, aku gak ngerti harus apa??"


Adnan malah berjongkok di hadapan Hilya


Membawa tangan nya yang bergetar di atas permukaan perut Hilya


Beberapa kali tangan itu mengelus sebelum di gantikan oleh kecupan bertubi dari bibir Adnan.


" Mas gak tau mau bicara apa Dek?? Isak Adnan menciumi perut sang istri. mas terlalu bahagia!!"


Hilya ikut menitihkan air matanya, tak menyangka dengan respon Adnan yang begitu mengharukan.


" Mas Adnan!!" Hilya tersenyum manis


" Ya Allah...!! ini seperti ke ajaiban untuk mas Dek, 1 tahun lamanya dulu kita berusaha untuk menunggu berita seperti saat ini, udah tak terhitung usaha kita untuk mendapatkan nya tapi Allah tak kunjung memberikan kepercayaan pada kita, tapi saat ini, bahkan untuk membayangkan nya saja mas tak berani tetapi justru Allah memberi kepercayaan untuk mas secepat ini!! ya Allah Al-Alim!!"


Hilya menunduk menghapus air mata Adnan, Adnan mencium kening istrinya


" Mas mencintai kalian, Adek, Khansa dan dia!!" Adnan mengelus perut Hilya.


Hilya mengangguk, tak harus Adnan mengungkapkan perasaan nya, Hilya tau itu, perilaku Adnan menggambar kan betapa cintanya Adnan pada mereka.


" Kami juga mencintai mas Adnan, Aku, Khansa dan calon anak kita!!"


Adnan terkesiap mendengar ungkapan Hilya, terkejut dengan ungkapan sang istri sampai Adnan tak tau harus berkata apa.


Apakah baru saja istri ku berkata mencintai ku??"


Hilya ikut duduk dilantai menghadap Adnan


Hilya naik di pangkuan Adnan dan melingkarkan tangannya ke punggung dan pundak suaminya, yang membuat Adnan kembali menitihkan air matanya.


" Aku mencintai mas Adnan, sebagai mana mas mencintai ku!!" bisik Hilya


Adnan menciumi seluruh wajah istrinya, meluapkan kebahagiaan yang tak terlukiskan, Adnan telah kembali mendapatkan cinta Hilya, harapan yang dulu seakan tak tergapai, kini telah tercapai


Tidak hanya kebahagiaan karena akan adanya penerus, tapi dilengkapi juga kebahagiaan Karena cintanya tersambut, kini Adnan merasa sempurna, bagian hatinya utuh, tulang rusuknya telah kembali pada tempatnya kebahagiaan nya bisa dibilang sempurna.


Adnan mendekap sayang Hilya, seraya bangkit dan membawa serta tubuh Hilya yang berada di pangkuannya.


" Mampu??" tanya Hilya yang melihat Adnan berusaha berdiri dengan dirinya yang berada di atas pahanya.


" InsyaAllah!!" ucap Adnan mencuri satu kecupan di bibir Hilya


" Mas!!" Hilya terkejut.


Adnan tergelak


" Anggap itu tenaga tambahan!!" ucap Adnan seraya berdiri, Adnan membawa tubuh istrinya berbaring di atas tempat tidur, dan membawa bibirnya pada perut rata istrinya, menciumi perut Hilya, sampai Hilya terlelap