
Pertanyaan mereka hari itu dijawab Adnan dengan Jawaban yang mengejutkan, baik untuk Dini, Zahfran dan juga Hilary, Adnan menegaskan jika seandainya Adnan memutuskan untuk menikah lagi maka Adnan akan menikahi satu wanita, yaitu Hilya
Hilya yang mendengar ucapan Adnan tentusaja tertegun, dan pada akhirnya Hilya memohon maaf kepada Adnan bahwa Hilya belum bisa menikah lagi bukan dalam kurun waktu masa Iddah, tapi Hilya belum bisa memastikan sampai kapan
Adnan yang mendengar ucapan Hilya memaklumi, dan akhirnya hari itu, Adnan mengubah rencananya, yang awalnya ingin menitipkan baby Akbar ke Surabaya akhirnya Adnan membawa Baby Akbar pergi bersamanya ke Inggris
Dan kini waktu telah berlalu dengan cepat 10th sudah Adnan dan Hilya tak lagi pernah bertemu, tak ada komunikasi dan tak ada lagi ingatan diantara mereka berdua tentang keinginan terakhir Anton, nyatanya baik Hilary maupun Adnan sudah nyaman dengan kehidupan mereka masing-masing
Disebuah pesawat kelas bisnis, tampak seorang wanita yang begitu anggun dan tetap cantik seperti seorang gadis meskipun dirinya pernah menjanda 2x bahkan usianya kini telah memasuki 39th nyatanya tak menyurutkan kecantikannya, bahkan banyak yang mengira bahwa wanita tersebut adalah seorang gadis berusia 27th nan dia adalah Hilya
Kini Hilya bukan lagi menjabat sebai Dokter, kehidupan Hilya berubah haluan, Hilya meninggalkan gelar Dokter nya dan memulih mendirikan perusahaan dengan produk kosmetika tidak hanya menjadi CEO di perusahaan nya sendiri, Hilya juga menjadi CEO di perusahaan Papanya
" Bunda!!"
Hilya menoleh kearah sang putri yang sedang melihat kearah nya
" Ya Sayang??"
" Khansa sudah naik kelas 4, Khansa juga dapat peringkat 1 berarti kita bolehkan ke makam Papa??" rengek Khansa
Hilya yang mendengar permintaan sederhana putrinya terseyum lembut
" Tentu Sayang!! besok kita ke makam Papa!!"
Hilya mengelus lembut puncak kepala putrinya yang tertutup hijab
Meski Hilya sibuk dengan dua perusahaan besar yang sedang dirinya pimpin, tetapi Hilya selalu mencurahkan kasih sayang sepenuhnya untuk putrinya, putri buah cintanya bersama suami yang dicintai nya yaitu Anton
Hilya pulang dari perjalanan bisnis bersama sang putri Khansa
Semakin beranjak dewasa wajah Khansa semakin mirip dengan mendiang suaminya, tatapan matanya, bibirnya, caranya tersenyum, manjanya, hampir semua yang ada di diri Anton menurun ke putrinya hanya jenis kelaminnya saja yang beda
Itu yang membuat Hilya begitu menyayangi putrinya, karena di diri putri nya Hilya menemukan sosok Pria yang begitu di cintainya, cintanya untuk putrinya berlipat ganda
Matahari telah berganti bulan, malam kian larut dan meninggalkan kesunyian, hingga kembali fajar menyambut , memancarkan sinar hangat dan masih malu-malu
Hilya sudah siap bersama sang putri untuk mengunjungi makam suaminya
Hilya dan Khansa sama-sama memakai baju warna putih tulang, Hilya terlihat anggun dan juga berwibawa, bersama putri cantiknya yang berkulit putih seperti sang Ayah
" Khansa bawa apa?? tanya Hilya yang melihat sang putri memasukkan sesuatu
Khansa senyum Pepsodent melihat kearah Bunda nya
" Khansa bawa jel kecil Bunda, itu deterjen cuci baju , kita kan pake baju putih bunda, kalo kemakam pas duduk byasanya baju Khansa kena tanah yang basah suka kotor jadinya Khansa bawa jel jadi nanti sampai di mobil bisa Khansa bersihkan bajunya pake air meneral, kalo di tunggu sampai rumah kotoran nya susah hilang." jelas Khansa panjang lebar
Hilya tertegun haru, satu yang baru Hilya ketahui ternyata tidak cuma wajahnya yang mirip mendiang suaminya, nyatanya prilaku dan kebiasaan putrinya pun benar-benar mencerminkan kepribadian suaminya, Anton yang begitu menyukai kebersihan dan Anton yang begitu menyukai kerapian dan Anton yang selalu membawa jel pencuci baju disetiap jas Dokter nya .