Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
36.Adnan cemburu



"Bagaimana apa acara bisa kita mulai??" tanya Pak penghulu.


Adnan melirik ke arah Hilya, namun Hilya pura-pura fokus pada temannya.


Sedangkan Rena dan Ibunya terlihat tidak sabar menunggu acara ijab Kabul dilaksanakan.


"Hilya!!".. Adnan memanggil istrinya


Hilya menolehkan wajahnya "Ya??"


Adnan melambaikan tangannya meminta sang istri untuk mendekat.


Dengan anggun Hilya mendekat ke arah calon madunya dan suaminya itu. Hilya duduk disebelah calon madu nya, terlihat jelas sekali perbedaan postur tubuh mereka.


Hilya yang tinggi semampai sedangan Rena yang kecil mungil , memang usia mereka tak jauh berbeda namun secara kecantikan, bodi tubuh dan cara berpenampilan Hilya jauh lebih terdepan.


Sepupu Hilya membisikan sesuatu pada Hilya, membuat fokus wanita cantik itu menatap sodara sepupunya itu serius.


"You are serious??" tanya Hilya tampak shock.


Sedangkan sang sepupu hanya mengangguk.


"Deserved I never saw it"


Terlihat sepupunya kembali berbisik.


Adnan yang melihat sang istri sibuk dengan perbincangan nya dengan sang sepupu kehilangan fokus nya.


"Pak!!" tegur sang penghulu , membuat Adnan tersadar.


Dan pada akhirnya Adnan telah resmi menikahi sang sepupu itu. Hilya tidak memerhatikan acara suaminya pikirannya berkecamuk memikirkan kabar yang disampaikan sang sepupu.


Hingga pada saat acara makan bersama, Hilya baru menyadari bahwa acara pernikahan sang suami telah usai.


Mereka berkumpul di ruang makan Adnan Hilya dan Rena berbaur dan makan bersama, hingga pada saat Hilya akan mengambil kue pie untuk pencuci mulut pie itu di pegang terlebih dahulu oleh teman seprofesi nya .


"Yaaa ..gue duluan Hil yang ambil. udah gak adalagi dech kayaknya..padahal ini kue kesukaan Loe kan ?yaudah dech gue ngalah nih buat Loe ajah."


Hilya tersenyum manis tanganya memberi isyarat tidak usah.


"Yang bener nih Nil?? serius Loe gak mau kue ini??".


" Meski gue menyukai kue itu, tapi saat kue itu telah di klaim orang lain gue bakal merelakan."


Ucapan Hilya menyentil perasaan Rena, meski pada dasarnya Hilya tidak bermaksud menyindirnya tapi ucapan Hilya cukup mengena di hati Rena.


Hilya melihat kearah suaminya. "Mas malam ini aku ikut liburan sama teman -teman ku yaa?


selain hilangin setres, aku mau memberikan privasi untuk pengantin baru."


Orang tua Hilya mendekat bersama kakek Adnan yang datang dari arah belakang.


"Papa ada tiket ke Swiss apa kalian mau berlibur ke sana??"


Adnan terbelalak mendengar usul mertuanya. ingin rasanya Adnan berkata "JANGAN", namun Adnan terlanjur berjanji pada Hilya bahwa ia akan memberi kebebasan pada sang istri jika istrinya mengizinkan dia menikahi Rena.


Kakek Adnan mengelus puncak kepala Rena. "Cucuku semoga Allah segera memberikan anugerah nya agar kamu cepat hamil." ucap sang kakek melirik Hilya.


Mama Hilya melirik besanya.


"Boleh saya bertanya kek..?" tanya mama Hilya .


Kakek Adnan mengangguk "Dilahkan!!"


"Apakah seandainya istri Adnan yang baru ini dalam setahun tidak juga mengandung apakah anda akan kembali memaksa Adnan untuk menikahi wanita lain??"


Wajah kakek adnan menegang mendengar pertanyaan dari mama Hilya.


Semua orang melihat kearah kakek Adnan, penasaran dengan jawaban apa kiranya yang keluar dari bibir pria tua itu.


Wajah tua itu terlihat bingung namun taklama kemudian suaranya kembali terdengar "saya yakin cucuku akan segera memberikan cicit untuk ku tidak sampai satu tahun saya percaya itu."


Mama Hilya mengangguk. tatapan nya beralih kepada Rana.


"Kamu wanita yang cantik, sayang peringaimu buruk, seharusnya sebagai sesama wanita kamu tahu persis posisi istri pertama Adnan, saya disini bicara bukan sebagai seorang Mama tapi saya bicara sebagai sesama kaum wanita.


di balik senyummu saat ini ada luka di hati wanita lain, di balik keberhasilan mu ini ada rasa kegagalan dalam hati wanita lain.


saya berharap wanita yang terluka itu tidak berdoa buruk untuk anda, karena yang saya dengar doa seorang yang teraniaya itu diijabah oleh Allah."


Mama Hilya berbalik menatap lekat sang kakek.


"Sebagai seorang Ibu saya sangat kecewa dengan perilaku buruk keluarga anda , seharusnya anda yang lebih banyak memakan asam garam kehidupan mengerti posisi anak kami.


kami melepas anak kami untuk hidup berjauhan dari kami dengan keluarga barunya yang saya harap akan menggantikan peran kami untuk menjaganya. namun justru keluarga barunya menyiksa hatinya dalam setahun ini."


"Sebagai sesama wanita saya merasakan kerisauan anak kami yang dituntut segera hamil dalam kurun waktu yang cukup singkat, apakah kalian fikir anak kami Tuhan??


mungkin anak kami tidak hamil bukan karena tidak mampu, tapi karena Allah tau bahwasanya keluarga ini terlalu buruk untuk mendapatkan seorang keturunan. dengan kedok agama kalian meminta cucu kalian untuk menikah lagi."


"Apakah kalian tidak pernah berpikir seandainya posisi Hilya berbalik menjadi posisi Rena?? apa yang kalian lakukan terhadap keluarga kami saat kami memaksa suami Rena untuk menikahi wanita lain haaa?!


Perkataan Mama Hilya membuat semua orang bungkam seribu bahasa.


Bahkan Rena, Adnan dan kakek Adnan terlihat gusar.