Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
140.Mariani dan Umi Anton



Mariani memanggil Zahfran dengan suara keras, yang membuat Zahfran kembali tak terkendali Zahfran mulai mengigit kuat-kuat tangannya, sedang Dini kesilulitan untuk membantu melepaskan tangan Zahfran dari gigitannya sendiri.


"Ahh!!", rintihan itu terdengar bersama suara isakan yang menyayat hati, darah mengalir dari tangan Zahfran, Dini , yang melihat Zahfran menghisap darahnya sendiri spontan menamparnya dengan kuat, membuat wajah Zahfran menoleh.


Semua terkejut dengan apa yang dilakukan Dini termasuk Mariani.


" Hei... Nonaaaa... beraninya kau menampar putraku," Mariani berteriak lantang, membuat Zahfran kembali bergetar.


"A. tolong bawa keluar saja Ibu itu A , sepertinya pemuda ini takut sama wanita itu." ucap Dini pada Anton, tanpa menghiraukan ucapan Mariani, sedang dirinya sibuk merengkuh tubuh Zahfran agar tak mengigit kembali tangannya


" Lepaskan!! awas kalian semua!!"


" Polisi sedang menuju kemari, jika saja kau seorang Pria akan ku pastikan kau sekarat ditangan ku!!" ucap Papa Hilya


"Tapi meskipun kamu seorang wanita aku akan pastikan kau akan berada cukup lama di jeruji besi." tambahnya.


"Keparat, baajingan !! lihat saja apa yang dapat kulakukan nanti!!" amuk Mariani yang tubuhnya hendak diseret keluar.


" Cukup Mariani!!" bukan, bukan papa Hilya yang bersuara namun sosok Abah Anton muncul dari balik pintu bersama dengan Zizi yang mendorong kursi rodanya.


"Kali ini kamu benar-benar keterlaluan!! tidak cukupkah kamu melukai putri mu sendiri dengan merebut suaminya..?? kau berpura-pura mengandung agar Zizi mengalah , padahal kaupun mengetahui bahwa anakmu sedang mengandung cucu mu, anak dari pria yang kau rebut!! Ibu macam apa kau ini??"


"Ya Allah.... wanita macam apa yang ku nikahi ini!!." keluh Abah Anton


Zizi menangis tergugu mendengar kenyataan bahwa sang Ibu rela berbohong demi merebut suaminya, Ayah dari anak yang sedang ia kandung.


Zizi menatap sendu sang Ade yang tengah meracau tak jelas , jelas Zahfran kambuh cukup lama karena dirinya tak segera meminum darahnya, Dini segera menutup bekas luka Zahfran dengan handsock yang Ia kenakan.


Sedangkan, Abah Anton mendekati tubuh Mariani yang di jegal kedua bodyguard papa Hilya


"Apa kamu puas?? hmm....?? cukup, ku mohon cukup Mariani!! sampai kapan kamu merusak hidup putra putrimu sendiri?? keadaan Zahfran tidak dalam kondisi baik Mariani, Dia ketakutan mendengar suaramu, keluarlah tanpa pemberontakan, sekali ini ajah ku mohon!!" Abah Anton mengiba di depan Istri nya.


"Aku ingin ketemu Zahfran!!"


" Tidak, untuk saat ini Mariani!!"


"Aku Ibu nya!!"


" Tapi Dia takut dengan suaramu!!"


"Ak.....


Plak..


Satu tamparan mendarat di pipi kanan Mariani, Umi Anton dengan tangan lembutnya sekuat tenaga menampar wajah wanita yang merusak rumah tangganya.


Melihat perilaku Mariani, dan keras kepalanya membuat umi Anton jengah


" Seorang wanita bejat sepertimu sangat tidak pantas di sebut sebagai seorang Ibu, bukan bermaksud ikut campur urusan kalian, tapi, di sini ada seorang putriku yang membutuhkan ketenangan, ku harap kalian berdua keluar dari ruang rawat ini, selesaikan urusan rumah tangga kalian diluar. Keluar. " dengan menatap bergantian antara mantan suaminya dan Mariani Umi Anton berucap tegas dengan tangan menunjuk arah pintu keluar