
Dek'!!" gemetar suara Adnan memanggil istrinya
Hilya membalikkan badannya
Separuh dada Hilya terekspos, Adnan sadar ini adalah sinyal-sinyal yang diberikan Hilya untuk nya
" Katakan!!" lirih Adnan
" Katakan apa ??" Hilya menjawab tak kalah lirih nya
" Tolong jangan membuat mas berharap lebih!!
mas tidak mau salah sangka"
Pipi Hilya merona
" Dijawab dong mas, nanti akupun terlanjur berharap."
Kini giliran Adnan yang wajahnya bersemu merah
" Adik berharap apa??" suara Adnan kian tengelam di kesunyian kamar. "dijawab dong Sayang jangan buat mas kian berharap"
Jantung Hilya kian melonjak-lonjak , mendengar suara Adnan yang lembut dan dalam, Hilya dapat melihat ketulusan dari pancaran mata Adnan
" Mas inginnya bagaimana?? aku juga terlanjur berharap"
" Benar adik juga berharap?? " Adnan menatap penuh hasrat
" Benar!! mas Adnan??"
" SANGAT, Sangat berharap!!, tapi mas tidak mampu menjanjikan bahwa mas bisa menjadi sosok sesempurna mendiang, mas hanya bisa berusaha menjadi yang terbaik, Adik tau mas pernah menjadi pria brengsek di masa lalu, Tapi mas akan berusaha menjadi sosok yang lebih baik Kini" Adnan meraih tangan Hilya, jemari lentik nan putih itu tampak kemerahan karena sorotan lampu
Siapa sangka tatapan mata dapat menyatukan dua hati secara efektif, dua insan yang tadinya malu-malu kini saling mendekat, bahkan bibir mereka saling menyatu
Adnan menatap mata yang menawan, bibir yang sensual dan hidung yang bak prosotan, Hilya sangat sempurna, baik fisik, wajah dan hatinya
Tiba-tiba tubuh Adnan mengigil
benarkah dirinya akan mendapatkan semuanya??... kembali memiliki Hilya seutuhnya??
Keringat dingin mengucur dari pelipis Adnan, Adnan takut ini hanya mimpi dan nanti saat dirinya terbangun dirinya masih merasakan bekunya hati Hilya
Adnan mencoba meraba hatinya, letupan-letupan irama jantungnya mengema, menyadarkan diri bahwa Ia tidaklah mimpi'
Ciuman hangat itu di iringi air mata Adnan yang mengalir, akibatnya rasa asin itu terasa dipengecap keduanya
Hilya membuka matanya, Hilya tertegun melihat Adnan yang menangis
" Mas menangis!!" tanya Hilya menatap air mata yang masih membekas di pipi Adnan
Tangan Adnan membelai pipinya sendiri yang basah, bukanya berhenti mengalir air mata Adnan kian deras
" Mas menangis karena bahagia!!" tatapan Adnan nanar penuh binar harapan, meski air mata menyamarkannya
Hilya turut menghapus air mata Suaminya
" Aku juga bahagia!!" Hilya terseyum meyakinkan
Adnan menatap lekat wajah istrinya
" Adek melihat mas sebagai apa dan Siapa??"
Kini giliran Hilya yang menatap Adnan menelisik
" Suami, Mas adalah Mas, tak pernah aku membayangkan orang lain di diri suamiku, aku selalu melakukannya dengan sadar, dosa bagiku ketika aku membayangkan orang lain yang mendatangiku sedang orang itu adalah suamiku, fisik kalian berbeda, cara kalian berbeda , aku tak pernah melupakan cara suamiku dulu menyentuh ku meski 10th telah berlalu, tapi untuk membayangkan mas adalah mendiang aku tidak pernah berfikir seperti itu.
Hilya menjawab dengan sabar, Hilya tak marah sama sekali, wajar Adnan menanyakan hal itu karena dirinyalah yang seolah mengoda, Adnan hanya takut dirinya di anggap bayangan, padahal Hilya sadar sepenuhnya, Adnan ya Adnan, bayangan hubungan dengan suaminya dahulu sudah lama menghilang, sebagai janda tidaklah mungkin Hilya membayangkan hal primitif nya, Hilya lebih mengingat kebersamaan dan kasih sayang Anton padanya sama sekali tak ingin mengingat hubungan mereka diatas ranjang
Adnan menunduk malu, Hilya tersenyum memaklumi
Hilya terhimpit saat Adnan mendorong lembut tubuhnya, Adnan berada di atas dirinya saat ini
Adnan mendekatkan wajahnya pada leher jenjang istrinya, membuat Hilya memekik geli
" Mine!!" bisik Adnan , Hilya dapat merasakan terpaan nafas hangat di daun telinganya
"Yes i'm yours" jawab Hilya, yang membuat Adnan kian agresif
Adnan membelai bibir istrinya dengan jempol tanganya .
" Boleh??" tanya Adnan dengan tatapan berkabut hasrat
"Please" jawab Hilya merona
Tak membuang waktu Adnan langsung menyatukan bibir mereka, meluapkan rasa yang sekian lama terpendam
Perlakuan Adnan membuat Hilya kwalahan, hingga Author harus skip adegan tak senonoh nya hi hi hi
Maaf pembaca, untuk adegan 21+ ini author tidak bisa menuliskannya terlalu fulgar, ada batasan bagi author kontrak , jadi saat adegan terlalu panas tulisan author di tolak oleh pihak noveltoon, jadi dimaklumi yaaa.....
salam manis dari author.....
komentar tembus 20 author bakal bikin part panjang lagi.. see you.. pembaca selamat menunggu part berikutnya....