Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
87.Rena dan Nayla



Nayla menarik Rena masuk kekamar, membuat Adnan mengira mereka memutuskan untuk pergi.


Adnan mendongak menahan sesak di dadanya, rumah tangganya kacau, bukan menyesali kepergian Rena, Adnan lebih menyayangkan demi keluarga dia mengorbankan cintanya pada Hilya .


Bahkan apa yang telah dia lakukan justru tak memberi nya kebahagiaan justru kepedihan.


Sedangkan di dalam kamar, Rena menangis marah dengan keadaan, terlihat mama nya menghubungi seseorang.


Beberapa saat Mama Rena merengkuh tubuh anaknya. " kita akan bikin mantan Adnan pergi untuk selamanya, Mama sudah hubungi Abang mu REN, kini kita harus sedikit bersandiwara oke..."


Rena mendongak menatap wajah mamanya. "apa yang akan kita lakukan ma??"


Senyum jahat terbit di bibir Nayla. wanita paruh baya itu membisik kan rencananya pada putri kesayangannya.


"Jadi ma??".


" Kamu tau kan apa yang akan kita lakukan??".


Mereka berdua tersenyum dan berpelukan.


.


.


.


Adnan menunggu istri dan mertuanya keluar kamar, Namun sudah satu jam lamanya , keduanya tak muncul dari balik pintu kayu jati itu.


Adnan mendekati pintu.


"Ma, Ren... ayo hari sudah semakin siang, nanti kalian kesorean sampai rumah."


Ceklek'.


Pintu terbuka, memperlihatkan dua wajah penuh air mata dari kedua wanita dari dalam kamar tersebut.


"Mas maafin aku mas, aku tidak ingin pergi dari sini, aku sama Ibu mohon maaf maaas!!" ucap Rena terisak , sambil mengelus perutnya yang membesar.


Adnan menghela nafasnya. "Jadi apa kamu memilih tetap tinggal bersama ku..??."


Rena mengangguk. " Apa yang harus Mama lakukan agar mas tetap izinkan Mama tinggal disini mas??" ucap Rena sendu.


Nayla dengan wajah sedihnya menggenggam tangan menantunya. " Baik Nan, bude akan lakukan apa yang kamu mau asal kamu tetap izinkan bude tetap disini. jadi kapan bude bisa temuin Hilya dan suaminya??".


"Secepatnya akan lebih bagus!!".


Rena dan Nayla mengangguk.


" Ya sudah kamu dan mama istirahat saja, aku ada urusan sebentar."


Rena tersenyum menatap suaminya kemudian masuk kembali kedalam kamar dan tossss suara tangan beradu tangan mengema diruangan 3x 4 meter tersebut.


.


.


.


.


Di kediaman Anton dan Hilya.


sepasang suami istri itu masih Engan turun dari tempat tidur, sudah dua hari Anton selalu mual muntah setiap paginya.


Seperti sehabis subuh tadi dokter tampan itu baru selesai melaksanakan ritual muntahnya , tubuhnya begitu lemas hingga harus dipapah sang istri menuju ranjang.


Rutinitas paginya akan berakhir setelah keduanya berolahraga pagi, Anton merasa tubuh dan sentuhan istrinya menjadi obat mujarab untuk dirinya.


Hilya POV


Sudah dua hari suamiku selalu muntah di pagi hari, seperti pagi ini mas Anton sampai seperti kehabisan tenaga.


Malah aku yang hamil sekarang tidak lagi mual, mungkin kini nyidam ku diambil alih oleh suamiku..


Hari ini rencananya kami akan bertemu dengan mas Adnan dan keluarganya, dua hari lalu mas Adnan datang menemui kami untuk mengajak pertemuan katanya Rena dan i6bunya hendak membicarakan sesuatu.


Aku sebenarnya malas menemui mereka rasa sakit hatiku masih membara di hati mengingat rencana Rena dan Ibunya yang ingin menghancurkan rumah tangga ku.


Tapi suamiku menyetujui permintaan Adnan pada kami, aku bisa apa??