
Aku menyaksikan dimana sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi sedang menuju kearah Hilya istri ku, dengan cepat aku menarik istriku ke belakang, yang aku fikirkan adalah nyawa istri dan anakku, aku tak perduli meskipun aku yang harus meregang nyawa.
Aku merasa tubuhku melayang di udara, samar kudengar keramaian mengerumuni tubuhku.
Sesaat aku merasa seseorang merengkuh kepalaku dengan sayang, meski tak terdengar suara nya, tapi kuyakin dia adalah istri ku.
Aku bersyukur, setidaknya istriku selamat, hingga beberapa saat kesadaran ku mulai menipis, sejenak aku merasa tubuhku melayang dan menghantam mobil dan aspal aku masih bisa merasakan sakitnya tubuhku.
Namun karena mungkin terlampau sakit ragaku hingga meski aku masih tersadar, mata dan semua anggota tubuh ku tak mampu bergerak.
Beberapa waktu yang sempat merenggut kesadaran ku, akhirnya aku bisa mendengar suara familiar yang begitu kukenali, ingin aku segera membuka mataku tapi lagi-lagi aku tak mampu.
Isakan itu, belaian itu selalu menemani ku sepanjang mataku tertutup.
Ingin aku mengatakan bahwa aku masih ada dan akan tetap ada untuknya, Namun hanya angan belaka, bahkan untuk sekedar berkedip ragaku tak bisa.
Setiap kali aku mencoba membuka mataku namun setiap kali aku terus dan terus gagal, sampai pada ketika aku berusaha sekuat tenaga ku yang ada aku merasa kerongkongan ku tersumbat.
Aku merasa sakitnya sebuah selang yang di pergunakan untuk mengeluarkan darah di dalam pernafasan ku, sebagai seorang Dokter aku tau betul keadaan ku tidaklah baik-baik saja.
Karena biasa alat itu dimasukkan ke dalam pernafasan mana kala otak sudah tak dapat bekerja, biasa yang mendapatkan penanganan sepertiku adalah orang yang agar otak atau sejenisnya.
Apa orang yang koma sebenarnya masih bisa merasakan seperti yang kurasakan saat ini??" kurasa iya, itu sebabnya meski dalam keadaan koma seseorang masih bisa mendengar suara suara di sekitar nya.
Waktuku terasa begitu lama, setiap kali aku selalu mendengar kan bisikan cinta dari istri ku, wanitaku tak pernah lelah memberiku semangat untuk bangkit.
Hingga suatu watu entah sejak kapan aku terbaring begini aku merasa bersin berkali-kali bersin yang hanya dapat ku rasa dalam alam bawah sadar ku.
Yang membuatku terkejut adalah saat dokter menyatakan bahwa aku telah berpulang.
Apa-apaan dokter itu mengatakan aku sudah tiada, apa memang aku sudah tiada?? bukankah saat aku telah berpulang harusnya aku mengalami keluarnya ruh, sedang aku masih didalam raga ku??.
Hingga suara istriku kembali mengema di ruangan itu, kata- kata yang dia begitu membenciku saat aku meninggalkannya seperti menarik aku ke alam nyata, rasa takut dibenci seseorang yang aku cintai membuat rasaku yang terasa lumpuh bisa ku gerakan, hingga aku sepenuh tenaga mencoba membuka kelopak mataku dan berhasil.
Silau, itu yang pertama kali ku rasakan, Dokter yang tak lain adalah rekan kerjaku terkejut menatap aku seolah tak percaya.
Dia memeriksa denyut nadi ku dan layar monitor yang menandakan semua kembali normal, beliau terseyum bahagia, sorot wajahnya terpancar kelegaan.
Aku mencoba untuk bicara, aku tak mendapati istriku disini, sedangkan aku yakin suaranya memenuhi ruangan ini.
Dokter itu seakan mengerti.
" Bu Hilya pingsan pak, tadi Bapak sempat mengalami mati klinis ditandai dengan berhentinya pernafasan dan detak jantung. Juga impuls dari otak memudar dan pancaindera tidak lagi bereaksi. tadi bapak mengunakan alat monitor alat dan semua terlihat bahwa kurvanya datar dan tidak lagi berdetak."
Anton mengangguk. sebagai seorang Dokter Anton pasti mengerti tiga fase kematian sebelum dinyatakan benar benar mati final.
Anton mencoba mengerakkan mulai tangan, kaki dan tubuhnya, bibir itu melengkung saat mengetahui dia tidak mengalami kelumpuhan.
"Tolong bantu saya melihat keadaan istri saya Dok!!" pinta Anton dengan suara lirih.
Dokter itu tak percaya mendengar permintaan Anton