
Hilya merengkuh suaminya.
Tubuh Hilya bergetar hebat, nyatanya kata iklas itu tidak mampu dirinya ucapkan
" Mas butuh sesuatu??" isaknya di telinga sang suami
Anton mengeleng di dekapan Istrinya
Ekh!!
Lenguhan sakit Anton, membuat Hilya melepaskan dekapannya
Hilya menatap lekat wajah suaminya, menatap wajah itu tanpa niat berkedip sedikitpun air mata tak menghentikan laju nya tetapi tak menghalangi Hilya untuk terus memandang suaminya
Hilya menahan Isak tangisnya lagi dan lagi, mencoba untuk tetap tegar
" Katakan mas ingin apa?? .... aku janji memenuhi keinginan mas Anton!!"
Anton membuang pandangannya
" Aku janji tak akan marah!!" yakin Hilya pada suaminya
Anton menatap lekat wajah istrinya, membuat Hilya menunggu
" Janji, untuk menikah lagi suatu hari nanti!!" lirih Anton
" Hanya itu??" tanya Hilya dengan mata berkaca-kaca ( kata hanya itu adalah sebuah pemanis bagi Hilya, nyatanya untuk memenuhinya Hilya masih belum yakin)
" Iya!!" lirih Anton
Hilya menatap peralatan-peralatan yang menopang untuk suaminya tetap bertahan hidup, Hilya sadar betapa besar perjuangan Anton untuk tetap hidup, tapi apa mau dikata kalau memang tubuh tak mampu lagi menahan sakit, apa mau dikata jika garis takdir suami nya sampai pada titik perjuangan
Anton terseyum lemah
" Mas lelah??" tanya Hilya dengan air mata mengalir
Anton menganguk
Lidahnya membasahi bibirnya yang pecah,-pecah
Nafas itu naik turun teratur sebelum suara lemah itu kembali terdengar
" SANGAT!!"
Hilya terseyum lembut meski air matanya senantiasa menetes di kedua pipinya
Hilya terisak
Hilya mendekatkan bibirnya di telinga Anton
" Aku iklas mas!!" bisik Hilya
Yang di sambut senyum indah di bibir Anton
Tak ada lagi kata yang terucap, Hilya sangat tau suaminya sangat kelelahan, Hilya membaringkan tubuhnya disisi suaminya, hatinya telah Benar-benar meminta kebaikan untuk suaminya, apapun itu
"ya Allah saat kemarin-kemarin hamba memohon untuk kesembuhan suami hamba, untuk sekarang aku menginginkan yang terbaik untuk suami hamba ya Allah.."
Hilya merengkuh tubuh kurus Anton, isakan masih terdengar dari bibirnya, Anton membalas dekapan itu meski terasa lemah, bibir pucatnya masih terasa mendarat di puncak kepala Hilya
Hilya mendudukkan dirinya, mencoba tenang, mencoba mengerti apa yang sebenarnya terjadi
Meski hatinya bertanya-tanya apa ini saatnya??
padahal baru tadi dirinya berdo'a
Allahumma ahyihi (ha) ma kanatil hayatu khairan lahu (laha), wa tawaffahu (ha) idza kanatil wafatu khairan lahu (laha).
Artinya: “Ya Allah, panjangkanlah hidupnya jika itu lebih baik baginya, dan ambillah jika itu lebih baik baginya”.
Hilya berusaha menghadapkan suami nya ke arah kiblat, mendorong sedikit ranjang, membawa kepala Anton dalam pangkuannya, keadaan Anton sudah tak baik, nafas itu terlihat naik turun tak beraturan, ditambah leher Anton yang berkedut dengan mulut yang terbuka tersengal-sengal, air mata itu menetes hingga telinganya
Hilya Menalqin Anton dengan pelan dan bergetar, meski Anton tak bersuara tapi bibir itu seperti mengikuti apa yang Hilya tuntunan
"Ayshadu .....Alla.... ilahaillallahwa ayshadu Anna ......Muhammadarrasulullah"...usai menuntun suaminya
Hilya mengusap kening Anton, menghapus air matanya
Dengan air mata yang mengalir deras
Hilya merangkul suaminya, tidak perduli dengan alat bantu pernafasan Anton, tidak perduli dengan apapun lagi, Hilya hanya ingin memeluk erat tubuh suaminya di saat saat terakhir, tak ada ungkapan cinta lagi, tak ada rintihan lagi dan Hilya yakin nyawa suaminya pun sudah tidak ada, terbukti sedetik kemudian deru suara monitor memekik ditelinga nya..
Hilya semakin mengeratkan pelukanya, mencoba meresapi kejadian yang baru saja di alaminya, menjerit di dekapan Anton yang tak lagi ada untuk nya, Anton yang tak ada lagi untuk putrinya, dan Anton yang benar-benar meninggalkan nya ..bukan hal yang mudah untuk Hilya... bukankah beberapa saat yang lalu Anton masih membalas dekapannya?? bukankah beberapa saat yang lalu Anton masih mencium kening nya??
Bersamaan dengan teriakan Hilya semua orang masuk kedalam ruang rawat Anton dan menyaksikan pemandangan menyayat hati itu
Adnan luruh kelantai, pria itu membekap mulutnya, Umi Anton pingsan, Dini pun sama.. Mama Hilya lemas dipelukan papa Hilya, Zizi yang hanya mampu meremas dadanya, Fauzan yang menatap nanar sahabatnya yang telah tiada.. nyatanya kepergian Anton meninggalkan kesedihan untuk mereka semua
************************************************
hai
hai
hai
mohon maaf sebesar-besarnya jikalau author sudah membuat para pembaca merasa kecewa, tapi apa boleh buat, kisah ini ditulis sebenarnya memang penuh kesedihan tapi demi pembaca setia author sudah banyak ubah alurnya, tapi untuk endingnya...
...
...
...
..
author benar-benar minta dukungan like , komen, dan vote agar author semangat menyelesaikan kisah marry me Ustadz
kisah ini sebenarnya berakhir sad ending..tapi .......
untuk lanjut
tolong bantu vote ya....
salam manis untuk pembaca setia....