
Anton melerai dekapannya saat tak lagi mendengar Isak tangis istrinya, mencelos hati Anton saat mendapati sang Istri tertidur di pelukannya, sebegitu lelahkah istri ku ??" batin Anton
Anton menyamankan posisi tidur Hilya, meletakkan kepala sang istri dengan hati-hati
Ting!!
Suara pesan masuk di ponsel Hilya membuatnya menoleh
Anton meraih ponsel istri nya, melihat pesan yang baru saja masuk
Anton menghela nafasnya
Matanya fokus memindai benda pipih itu
Ini yang membedakan Hilya dari wanita lain, saat wanita lain cenderung sensitif saat mendengar suaminya selingkuh tapi tidak dengan Hilya
Di hari Anton membohonginya dengan meminta bantuan Dini, di hari yang sama juga istrinya menanyakan sejak kapan dirinya berobat di rumah sakit tempatnya saat itu mengatur siasat dengan Dini dan Zahfran.
Mata Anton masih awas membuka pesan-pesan istrinya
Tentang Hilya yang tau kebohongan nya sedari awal, tentang istrinya yang menanyakan pengobatan terbaik pasien kangker baik di dalam maupun di luar negeri .. dan masih banyak lagi
Bahkan pesan terakhir sang istri untuk Papanya adalah memohon kemudahan agar pengobatan untuk nya nanti berjalan lancar.
Anton mendesah kalah, untuk apa dirinya menyiksa diri?? membohongi istrinya jika sedari awal Hilya telah mengetahuinya
Tangan Anton terkulai lemas setelah meletakkan kembali ponsel sang istri, nyatanya tidak ada yang bisa disembunyikan dari sang istri
Anton menatap lekat wajah istrinya, wanita cantik itu tertidur damai dengan bekas air mata yang masih ada, jelas Hilya lelah dan letih, nyatanya meskipun dirinya tak turut menjaga suaminya di rumah sakit tetapi segala informasi tentang Anton selalu dirinya ikuti, bahkan di hari kemo Anton Hilya turut memantau pelaksanaan nya dengan terus mendapatkan kabar dari rekannya
Anton mengambil tas istrinya yang tadi Hilya bawa untuk pergi kerumah sakit, terlihat amplop berwarna coklat itu masih di dalam sana, Anton membuka nya, dan Anton terseyum bodoh, dirinya percaya Hilya menyetujui permintaan perceraian darinya, nyatanya amplop itu dalamnya sudah menjadi serpihan kertas yang tak berbentuk
Anton meletakkan tas itu kembali , tak perduli apapun lagi, dirinya hanya ingin mendekap erat wanita luar biasa yang selalu ada untuk dirinya
Anton memeluk erat tubuh Hilya membuat Hilya terusik
" Mas'??" mata sayu itu terbuka
" Jangan tidur!!" larang Anton dengan mengecup bibir istri nya
" Kenapa??" tanya Hilya serak
Hilya berdecak dan hendak memunggungi Anton, tapi Anton kembali menarik lembut tubuh istrinya
" Yang!!! kenapa kamu selalu percaya padaku??bahkan nyatanya foto yang aku persiapkan untuk membuatmu marah padaku dan setuju bercerai denganku tak sekalipun kamu hiraukan!!"
" Aku sudah setuju bercerai!! surat gugatan cerai nya sudah aku tanda tangani."
" Kamu bohong!! nyatanya surat itu sudah menjadi serpihan"
" Jadi mau mas apa?? aku menandatangani nya beneran?? sana bikin lagi biar aku tanda tangani sekarang juga!!" kesal Hilya
" Yang aku minta maaf!!" Anton menarik lembut tangan istri nya mengecup nya berkali-kali
Hilya akhirnya duduk, mengosok hidungnya beberapa kali, matanya fokus menatap mata suaminya
" Mas' sakit itu ujian, tugas kita adalah melewati ujian itu dengan menghadapi nya... harusnya mas Anton tidak bertindak seperti anak kecil yang bermain petak umpet , aku ini istri mu, apapun yang terjadi dengan mu, aku pun berhak tau!!"
"Saat pasangan kita sudah tak lagi ingin membagi keluh kesahnya untuk apa lagi pernikahan di perjuangkan?? ini terakhir kali aku mendapatkan penghinaan dari mu mas!!, jika suatu hari hal seperti ini terjadi lagi maka tak ada lagi kesempatan untuk mu
pernikahan bukan permainan mas' harusnya mas Anton jauh lebih faham daripada aku!!
aku bukan hanya marah karena kau bohongi, tapi aku juga marah karena kamu seolah menganggap pernikahan itu suatu lelucon!!"
"Andai aku tak memikirkan hati ku mas, aku ingin sekali mengabulkan gugatan ceraimu, karena menurutku surat gugatan cerai itu sudah mewakili talak mu!!" mata Hilya kembali berembun, begitupun mata Anton yang entah sejak kapan telah banjir air mata
" Maaf Yang!!" bibir Anton bergetar
Hilya menatap wajah suaminya
Tangan lentik nya mengelus lembut pipi suaminya yang basah
" Aku memaafkan mu mas, sebelum dirimu memintanya, aku mencintaimu mas Anton
suamiku!!! tolong jangan pernah melakukan tindakan bodoh lagi yang membut kita sama-sama terluka!!!"
Hilya kembali menangis menutup wajahnya dengan kedua tangannya
Dengan perasaan lega Anton kembali menarik istrinya dalam rengkuhan nya
Nyatanya pilihan yang tepat adalah sebuah kejujuran, Anton ingin mencatat dalam hatinya agar apapun cobaan hidupnya kelak segalanya akan ia diskusikan dengan sang Istri