
" Kalau boleh jujur, rasa sakit hati itu masih terasa hingga beberapa menit yang lalu, tapi setelah mendengar penjelasan mas Adnan, kiranya rasa sakit itu berubah menjadi rasa bersalah, maaf sudah berprasangka mas!!" Hilya berucap penuh ketulusan
" Tidak dek', mas yang salah, jika saja waktu itu mas tidak egois dengan membiarkan kalian hidup satu atap mas rasa.......
" Tidak ada yang bisa mengetahui rencana Allah mas, mungkin demikian takdir yang harus kita lalui" potong Hilya
karena perpisahan kita memberiku kesempatan untuk mengenal sosok suami yang begitu mencintai ku mas, meski aku tak meragukan cintamu saat ini untuk kami aku dan putri ku, tapi sampai kapanpun jembatan rasa di hati ku untuk mas Anton akan tetap tersambung, aku mencintainya tulus karena Allah, dan aku berharap akan memberikan hal yang sama untuk mas Adnan
" Terimakasih sudah mau menceritakan semuanya dek', mas terkesan mendengar cerita kalian, kini mas hanya bisa berdoa untuk kebaikan rumah tangga kita nantinya dimasa depan!!" Adnan mencium kening Hilya
" Aamiin!!" Hilya tersenyum teduh
Adnan menelisik wajah Hilya yang begitu dekat di pelupuk matanya, bibir itu, bibir yang dulu selalu nyosor menciumnya, mata itu mata yang selalu menggerling manja dan penuh kemesraan netra itu sama, tapi jelas terukir pancaran yang berbeda, kini tatapan Hilya menatapnya dengan binar haru bukan lagi binar cinta seperti dulu
" Mas akan terus berdo'a agar suatu hari nanti kita bisa menjalani rumah tangga kita dengan penuh kebahagiaan dek'.
Hilya kembali menatap wajah suaminya
" Ajarkan aku kembali mencintaimu mas!! ucap Hilya serius
" Katakan saja apa yang bisa membuat mu kembali mencintai ku dek'??"
Hilya menggeleng di atas lengan Adnan
" Kalau aku tau aku tak akan bertanya!!"
Adnan tampak mengaruk keningnya dengan tangan kanan
Hilya mengeleng lagi
" Aku sulit menyukai seseorang, dan ketika aku telah menyukainya, aku juga sulit untuk berpaling.
Adnan seolah flash back kata-kata Anton disaat dirinya kembali berjumpa Hilary di masa lalu
Anton yang kesulitan mendekati Hilya yang kala itu bernama Hilary karena hati Hilya telah terisi namanya
" Aku beruntung pernah menjadi pemilik hati mu dek!!"
" Aku sedang berusaha untuk memupuk cintaku untuk mu mas!!" lirih Hilya
" Mas akan setia menunggu hingga cinta itu bersemi dek!!"
Mendengar jawaban Adnan, Hilya merapatkan tubuh nya berdampingan dengan sang suami
" Mas, untuk urusan nafkah, tolong jangan sungkan jika mas menginginkan nya!!" Hilya berkata dengan keseriusan
Hilya sadar baik dirinya maupun Adnan bukan lagi remaja yang baru membina rasa percaya dan rasa suka dari lawan jenisnya, nyatanya mereka sama-sama orang dewasa yang sama mengerti akan kebutuhan primitif, terlebih ikatan mereka halal, kebutuhan suami akan sebuah hak adalah keharusan untuk sang istri untuk memberikan nya
" Untuk hal itu, mas akan menunggu hingga adek siap, tidur lah dek!!dengan tidur berdampingan dengan mu mas sudah sangat bersyukur bahkan bahagia!!" Adnan menekuk tangan nya yang tadinya di buat bantal Hilya dan mengalungkanya untuk mendekatkan kepala istrinya ke arahnya
Adnan mencium kening Hilya, tangan nya masih senantiasa memeluk sang istri
Hilya tersenyum, aroma khas Adnan memenuhi Indra penciuman nya, entah karena lelah ataupun aroma Adnan yang menenangkan, akhirnya Hilya benar-benar terlelap di pelukan cinta lamanya, cinta pertamanya yang pernah Ia lupakan dan seseorang lama yang kembali mengharuskan dirinya untuk menumbuhkan cinta lama yang telah di paksa mati dari hatinya.