
Acara syukuran atas hamil nya Dini, berjalan dengan lancar
waktu yang kian larut membuat Hilya izin pulang pada Umi Anton, mereka mengizinkan Hilya pulang, tapi meminta Khansa tetap tinggal barang semalam di keluarga Papa nya
Hilya jelas tak mampu menolak, biar bagaimanapun Khansa adalah bagian dari mereka, akhirnya dengan berat hati Hilya meninggalkan Khansa di tempat neneknya
Hilya yang berpamitan pulang pada Mama dan Papa nya kembali mendapatkan saran yang sama seperti sebelumnya, belajar menerima Dan Melayani Suaminya, itu yang kerapkali di nasehatkan baik Mama maupun papa Hilya pada putrinya
" Ingat nasehat Papa sayang!!" bisik Papa Hilya
Hilya menanggapi dengan senyuman, sebelum benar-benar pulang kekediaman nya bersama Adnan
Sepanjang perjalanan pulang, Adnan dan Hilya seperti orang asing yang tak saling kenal, mereka hanya diam, hingga Hilya ter tidur lelap, Adnan yang melihat itu, menepikan mobilnya, mengatur kursi Hilya agar turun kebelakang agar sang istri lebih nyaman
Sejenak Adnan terpaku melihat sang istri yang terlelap, senyum Adnan muncul di bibirnya
mas akan sabar menunggu hingga kamu kembali seperti Hilary yang begitu manja
Mengalihkan perhatian nya, Adnan kembali mengemudikan mobilnya, hingga akhirnya mereka sampai di kediaman Hilya
Adnan yang ingin membangunkan sang istri tidak tega, Adnan beranjak keluar mobil duduk di kursi teras menghadap kelangit yang bertabur bintang
Satu jam lamanya Adnan duduk di kursi akhirnya lelap pun menghampirinya, tanpa sadar Adnan tertidur di kursi teras
Hilya yang merasakan getaran ponselnya terbangun
Hilya yang menyadari dirinya sedang berada di mobil mencari keberadaan Adnan, Hilya melihat kursi kemudi kosong, Hilya menatap sekitar dan menyadari bahwa mereka telah sampai di rumahnya, dan yang membuat hati Hilya terhenyak adalah seorang pria yang tidur meringkuk di kursi kecil yang berada di depan teras
" Kenapa kamu tak membangunkan ku mas?? kenapa kamu rela tidur tak nyaman seperti itu??" gunam Hilya dengan netra menatap sang suami prihatin
Hilya pun menyadari bahwa Adnan sudah mengubah tempat duduknya yang tadinya bersandar menjadi berbaring
Helaan nafas Hilya terdengar berat
Hilary berjongkok di samping tubuh Adnan yang sedang terlelap tak nyaman
tangan Hilya terulur menepuk punggung tangan suaminya, Hilya membangunkan Adnan seperti dulu, saat mereka masih terikat dalam rumah tangga yang bahagia
" Mas!!" Hilya memangil Adnan
Adnan yang merasakan tepukan pada tangannya, mulai terbangun
Adnan tersenyum melihat Hilya duduk di sampingnya
" Ahh mas ketiduran!! sesal Adnan karena dirinya tadinya ingin menjaga sang istri kenapa malah ketiduran, Adnan tidak ingin tidur di mobil bersama Hilya bukan tanpa alasan, Adnan takut tidak mampu menahan keinginannya untuk menyentuh Hilya, kerap kali berdekatan dengan Hilya Adnan ingin memeluk ataupun mengengam tangan Hilya, Adnan takut perlakuannya membuat Hilya tak nyaman untuk itu dari pada lepas kontrol Adnan mending menghindari hal yang seolah membuatnya terlihat egois
" Kenapa malah tidur di kursi?? mas bisa bangunin aku, atau ngak bisa masuk ke dalam rumah!!" tanya Hilya menatap Adnan
" Mas sungkan dek!!" Adnan menjawab
Terdengar Hilya berdecak dan membuka kunci rumah
Mereka masuk ber iringan saat ingin masuk kedalam kamar tiba-tiba Adnan berhenti, membuat Hilya berbalik
" Dek' mas tidur di kamar Khansa Saja!!"
" Khansa tidak ada mas, kenapa gak tidur di kamar kita saja??"
Perlu di garis bawahi Hilya baru saja mengatakan kamarnya adalah kamar kita, bayangkan bagaimana gembira nya hati seorang Adnan saat ini.....
" Dek' tapi......
" Sampai kapan kita akan terus seperti orang asing mas?? sebuah hubungan harus di mulai dengan saling berbagi bukan?? salah jika aku ingin berbagi ranjang dengan suamiku??"
Kaki Adnan berasa tak berpijak, hatinya berdesir, kepalanya terasa ringan, bibirnya Kelu tak mampu berucap, darahnya mengalir berirama, jantungnya berderu merdu, Adnan sadar ini sebuah kesempatan yang telah dibuka oleh sang istri, Adnan ingin berteriak lantang menyuarakan kebahagiaan yang telah menghampirinya